alexametrics

Pakar Peringatkan Wabah COVID-19 di Indonesia Bisa Separah Italia

loading...
Pakar Peringatkan Wabah COVID-19 di Indonesia Bisa Separah Italia
Seorang petugas medis memeriksa perangkat di rumah sakit darurat untuk menangani penyakit virus corona COVID-19 di Wisma Atlet Kemayoran, di Jakarta, Indonesia, 23 Maret 2020. Foto/Antara Foto / Hafidz Mubarak A via REUTERS
A+ A-
JAKARTA - Para pakar kesehatan memperingatkan Indonesia bisa menjadi pusat baru pandemi atau wabah virus corona baru, COVID-19, karena sistem kesehatan mengalami defisit. Bahkan, mereka memperingatkan bahwa kondisinya nanti bisa separah seperti di China dan Italia.

Data yang ditinjau Reuters menyatakan Indonesia mengalami defisit yang signifikan pada tempat tidur rumah sakit, staf medis, dan fasilitas perawatan intensif.

Para pakar mengatakan Indonesia menghadapi lonjakan kasus COVID-19 setelah respons pemerintah yang lambat menutupi skala wabah di negara terpadat keempat di dunia ini.



Indonesia telah melaporkan 790 kasus dengan 58 orang di antaranya meninggal dan 31 pasien berhasil disembuhkan. Angka kasus itu diragukan para pakar karena tingkat tes kecil sedangkan tingkat kematian tinggi.

Sebuah studi dari Centre for Mathematical Modelling of Infectious Diseases yang berbasis di London yang dirilis pada hari Senin lalu memperkirakan bahwa hanya 2 persen dari infeksi virus corona di Indonesia telah dilaporkan. Riset itu memprediksi jumlah sebenarnya sekitar 34.300 kasus, angka yang jaug lebih banyak dari kasus di Iran.

Riset itu memproyeksikan bahwa di bawah skenario terburuk, kasus-kasus dapat meningkat hingga 5 juta di Ibu Kota Indonesia; Jakarta, pada April nanti.

"Kami telah kehilangan kendali, itu telah menyebar di mana-mana," kata Ascobat Gani, seorang ekonom kesehatan masyarakat kepada Reuters yang dilansir Kamis (26/3/2020).

“Mungkin kita akan mengikuti Wuhan atau Italia. Saya pikir kita berada dalam kisaran itu," ujar pakar kesehatan masyarakat Universitas Indonesia yang meraih gelar doktor kesehatan masyarakat di Johns Hopkins University tersebut.

Respons Pemerintah

Pemerintah Indonesia mengatakan dampak COVID-19 tidak akan separah yang diprediksikan para pakar.

"Kami tidak akan seperti itu," kata juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, Achmad Yurianto, merujuk pada perbandingan dengan wabah di Italia dan China.

"Yang penting adalah kita mengerahkan orang-orang...mereka harus menjaga jarak," ujarnya.

Menurut laporan Reuters, sistem kesehatan Indonesia sangat buruk dibandingkan dengan yang ada di negara lain yang terkena dampak virus ini.

Data Kementerian Kesehatan menunjukkan negara berpenduduk lebih dari 260 juta orang ini memiliki 321.544 tempat tidur rumah sakit. Itu sekitar 12 tempat tidur per 10.000 orang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Korea Selatan memiliki 115 tempat tidur per 10.000 orang.

Pada 2017, WHO menemukan Indonesia memiliki empat dokter per 10.000 orang. Italia memiliki 10 kali lebih banyak, berdasarkan per kapita. Korea Selatan memiliki dokter enam kali lebih banyak.

Achmad Yurianto mengatakan dengan langkah-langkah social distancing yang tepat seharusnya tidak ada kebutuhan untuk sejumlah besar tempat tidur tambahan dan staf medis cukup untuk mengatasi wabah virus ini.

Namun, Budi Haryanto, seorang ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia, mengatakan kepada Reuters; “Rumah sakit tidak siap untuk mendukung kasus-kasus potensial. Perawatan akan terbatas."

Meskipun hanya ratusan orang yang dirawat di rumah sakit karena virus corona, para dokter mengatakan kepada Reuters bahwa sistem kesehatan sudah mulai tegang.

Banyak staf medis tidak memiliki peralatan pelindung, di mana seorang dokter memberi tahu Reuters bagaimana ia harus mengenakan jas hujan karena tidak ada baju yang tersedia.

Sebagai tanda kontrol infeksi yang buruk di rumah sakit dan klinik, delapan dokter dan satu perawat telah meninggal karena virus corona. Data ini bersumber dari Ikatan Dokter Indonesia.

Di Italia tercatat 7.503 kematian akibat virus corona termasuk 23 dokter.

Staf di sebuah rumah sakit di pinggiran Jakarta telah mengancam untuk tidak datang bekerja pada hari Selasa karena kurangnya peralatan pelindung. Hal itu diungkap seorang dokter lainnya kepada Reuters.

"Kami membawa masker kami sendiri, pakaian kami sendiri mungkin tidak berkualitas standar," kata dokter itu kepada Reuters, yang meminta untuk tidak diidentifikasi karena masalah ini sensitif.

"Teman-teman saya, satu per satu, tertular virus," katanya, dengan menahan air mata.

Pemerintah Indonesia mengatakan pekan ini bahwa mereka telah memasok 175.000 set peralatan pelindung baru untuk staf medis yang akan didistribusikan di seluruh negeri.

Rumah sakit darurat baru telah dibuka di Jakarta dengan kapasitas untuk merawat hingga 24.000 pasien. Dokter dan staf medis telah dijanjikan bonus dan 500.000 alat tes cepat telah tiba dari China.

Sistem kesehatan Indonesia sangat terdesentralisasi, sehingga sulit bagi pemerintah pusat untuk mengoordinasikan responsnya di kepulauan yang luas dengan sekitar 19.000 pulau yang membentang 5.100 km.

Kurangnya tempat tidur unit perawatan intensif (ICU) juga mengkhawatirkan para ahli, terutama karena negara ini memasuki musim puncak demam berdarah, yang menambah permintaan akan fasilitas.

"Jika Anda sakit parah dan Anda bisa masuk ICU dan memakai ventilator, kebanyakan orang harus selamat," kata Archie Clements, spesialis kesehatan masyarakat dari Perth’s Curtin University, merujuk pada orang yang terinfeksi virus corona.

"Jika Anda tidak membawanya ke ICU dan membawanya dengan ventilator, maka mereka akan meninggal."

Sebuah studi di jurnal Critical Care Medicine pada Januari, yang membandingkan tempat perawatan intensif untuk orang dewasa di negara-negara Asia menggunakan data 2017, menemukan Indonesia memiliki 2,7 tempat perawatan kritis per 100.000 orang. Itu merupakan yang terendah di wilayah Asia.
(mas)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak