Ketergantungan Banyak Negara ke China Makin Mengkhawatirkan

Sabtu, 05 September 2020 - 06:48 WIB
loading...
A A A
Bukan hanya Pakistan, Thailand pun demikian. Trinh Nguyen dari lembaga kajian internasional Carnegie menyatakan ekonomi Thailand terlalu bergantung pada China. Bukan hanya dari segi bantuan keuangan dari Beijing, tetapi juga kunjungan wisatawan China ke Thailand.

Thailand juga bekerja dengan China membangun jalur kereta. Proyek kereta supercepat itu bagian dari jaringan rel sepanjang 873 km yang menghubungkan Thailand dan Laos melalui Sungai Mekong. Program itu bagian dari Jalan Sutra China untuk menghubungkan ekonomi terbesar kedua dunia dengan Asia Tenggara, Pakistan, dan Asia Tengah. (Baca juga: Jeli, Cara Selebriti Manfaatkan TikTok untuk Publikasi)

Diklaim oleh Zhang Yongjun, peneliti China Centre for International Economic Exchanges berbasis di Beijing, proyek itu akan meningkatkan perekonomian bagi Thailand. “Itu akan mengoneksikan Bangkok dan China dan negara lain di masa depan,” katanya, dilansir Phnompenh Post.

Faktanya, ketergantungan kepada China bukan hanya terjadi pada negara berkembang. Negara maju seperti AS, Jepang, dan Prancis juga terlalu bergantung banyak kepada perusahaan China untuk memproduksi ponsel pintar, obat-obatan, dan produk lainnya. Seiring dengan pandemi, perang dagang China-AS menjadikan banyak perusahaan global berusaha menghindari konflik politik dengan mencoba mengurangi ketergantungan dengan China.

Jit Lim dari firma konsultan manajemen, Alvarez & Marsal, mengatakan, China masih menawarkan jaringan suplai dan pasokan ke berbagai industri. Posisi China dianggap tidak bisa digantikan.

“Untuk mengurangi ketergantungan dari China , perlunya negara melakukan diversifikasi ekonomi,” saran Oliver Tonby dari lembaga konsultan manajemen McKinsey. Negara-negara seperti Korea Selatan, Singapura, Malaysia, Filipina, dan Vietnam juga tergantung dengan perekonomian China karena menjadi satu di antara mata rantai perdagangan Beijing.

Sementara dalam diplomasi, China mengalahkan AS sebagai negara dengan jumlah pos diplomasi terbesar di dunia. Itu mengindikasikan ambisi internasional Beijing untuk memperkuat geopolitik dan mengembangkan perdagangan. (Baca juga: 5 Camilan Malam yang Enak, Juga Menyehatkan)

Laporan yang dipublikasikan dalam Global Diplomacy Index oleh Lowy Institute berbasis di Sydney, berpijak pada analisis jumlah kedutaan besar (kedubes) dan konsulat yang dimiliki suatu negara di seluruh dunia. Indeks Diplomasi Global Lowy 2019 itu memetakan 61 jaringan diplomasi di seluruh dunia baik kedubes, konsulat, misi permanen, dan posisi diplomatik lainnya.

Mereka melacak seluruh negara anggota G-20 dan OECD dan sebagian besar adalah negara Asia. Berdasarkan laporan tersebut, China memiliki 276 posisi diplomasi secara global atau selisih tiga dibandingkan AS. Washington dan Beijing memiliki jumlah kedubes yang sama, tetapi China memiliki lebih banyak konsulat lebih banyak dibandingkan AS.

Presiden China Xi Jinping memiliki agenda ambisius untuk menjadikan China sebagai negara superpower baik secara ekonomi dan militer di dunia. “Xi memiliki semua kekuatan. Tapi, kita tidak mengetahui bagaimana dia ingin menggunakannya untuk apa,” kata Kerry Brown, direktur Institute China Lau di King's College London, dilansir Channel News Asia. “Jika itu digunakan untuk menangkal tantangan China, itu akan menjadi hal baik. Jika tidak, itu akan menjadi masalah mendalam,” ucapnya. (Lihat videonya: Pekerja Diduga Lalai, Dua Bangunan Ruko Roboh)
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.2737 seconds (0.1#10.140)
pixels