Tren Frexit di Afrika, Mengapa Pantai Gading Mengusir Pasukan Prancis?
Minggu, 05 Januari 2025 - 18:10 WIB
loading...
A
A
A
Tentara Prancis telah membantu tentara Pantai Gading dalam memerangi kelompok bersenjata yang beroperasi di Sahel dan memperluas operasinya ke negara-negara di sepanjang Teluk Guinea, termasuk Pantai Gading dan Ghana. Prancis juga beroperasi sebagai bagian dari misi penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa selama perang saudara yang berlangsung lama di negara itu dari tahun 2002 hingga 2011.
Pengumuman Ouattara pada hari Selasa tidak terduga. Presiden tersebut dipandang oleh banyak orang sebagai salah satu pemimpin Afrika yang paling dekat dengan Prancis. Di negara yang sedang dilanda kemarahan terhadap Prancis, persepsi itu telah menimbulkan kebencian mendalam terhadap pemerintah. Pada bulan Agustus, Presiden Prancis Emmanuel Macron menjamu Ouattara dalam jamuan makan malam pribadi di Elysee.
Para analis mengatakan keputusan Ouattara untuk memutus hubungan militer juga bisa jadi politis, karena warga Pantai Gading bersiap untuk pemilihan umum yang dijadwalkan pada bulan Oktober.
Ouattara, yang telah berkuasa sejak 2010, belum mengatakan apakah ia akan mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat dalam pemilihan umum. Keputusannya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2020 setelah kematian mendadak penggantinya dan perdana menteri, Amadou Gon Coulibaly, memicu kemarahan yang meluas di kubu oposisi.
Baca Juga: Terlibat Kejahatan Perang, Tentara Israel Sedang Berlibur di Brasil Akan Diperiksa Pengadilan
Melansir Al Jazeera, Prancis telah menghadapi kritik tajam yang belum pernah terjadi sebelumnya dari warga negara di bekas koloninya di Afrika Barat dan Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Dari Mali hingga Pantai Gading, ribuan orang turun ke jalan dalam protes massal, menuntut agar pemerintah mereka memutuskan hubungan dengan Paris untuk selamanya.
Pengumuman Ouattara pada hari Selasa tidak terduga. Presiden tersebut dipandang oleh banyak orang sebagai salah satu pemimpin Afrika yang paling dekat dengan Prancis. Di negara yang sedang dilanda kemarahan terhadap Prancis, persepsi itu telah menimbulkan kebencian mendalam terhadap pemerintah. Pada bulan Agustus, Presiden Prancis Emmanuel Macron menjamu Ouattara dalam jamuan makan malam pribadi di Elysee.
Para analis mengatakan keputusan Ouattara untuk memutus hubungan militer juga bisa jadi politis, karena warga Pantai Gading bersiap untuk pemilihan umum yang dijadwalkan pada bulan Oktober.
Ouattara, yang telah berkuasa sejak 2010, belum mengatakan apakah ia akan mencalonkan diri untuk masa jabatan keempat dalam pemilihan umum. Keputusannya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada tahun 2020 setelah kematian mendadak penggantinya dan perdana menteri, Amadou Gon Coulibaly, memicu kemarahan yang meluas di kubu oposisi.
Baca Juga: Terlibat Kejahatan Perang, Tentara Israel Sedang Berlibur di Brasil Akan Diperiksa Pengadilan
2. Ingin Melepaskan Diri dari Kolonialisme Prancis
Mengapa Prancis menghadapi penolakan umum di Afrika yang berbahasa Prancis?Melansir Al Jazeera, Prancis telah menghadapi kritik tajam yang belum pernah terjadi sebelumnya dari warga negara di bekas koloninya di Afrika Barat dan Tengah dalam beberapa tahun terakhir. Dari Mali hingga Pantai Gading, ribuan orang turun ke jalan dalam protes massal, menuntut agar pemerintah mereka memutuskan hubungan dengan Paris untuk selamanya.
Lihat Juga :