Tren Frexit di Afrika, Mengapa Pantai Gading Mengusir Pasukan Prancis?
Minggu, 05 Januari 2025 - 18:10 WIB
loading...
Pantai Gading mengusir pasukan Prancis. Foto/X/@AndyVermaut
A
A
A
PARIS - Pasukan militer Prancis yang telah berada di Pantai Gading selama beberapa dekade akan segera pergi, kata pejabat Pantai Gading, yang menandakan kemunduran diplomatik lebih lanjut bagi Prancis di tengah kebencian lokal yang telah menyebabkan sekutu di Afrika Barat dan Tengah memutuskan hubungan dengan Paris.
Pengumuman Presiden Alassane Ouattara pada hari Selasa menempatkan Pantai Gading dalam daftar negara-negara Afrika yang memutuskan hubungan militer dengan bekas negara kolonial yang pernah sangat berpengaruh itu, karena beberapa mantan sekutu Prancis juga meminta bantuan tentara bayaran Rusia untuk memerangi segerombolan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Dalam beberapa hari pada bulan November, Chad dan Senegal mengusir pasukan Prancis, bergabung dengan beberapa negara Sahel yang sebelumnya telah melakukan hal yang sama, mulai tahun 2021.
Gelombang penolakan telah memaksa Prancis untuk merancang strategi militer baru untuk benua itu yang menurut para pejabat akan sejalan dengan "kebutuhan" negara-negara mitra. Penempatan sementara, alih-alih kehadiran militer permanen, dan lebih banyak fokus pada pelatihan pasukan lokal, adalah beberapa fitur dari kebijakan baru tersebut.
“Kita bisa bangga dengan tentara kita, yang modernisasinya kini efektif. Dalam konteks inilah kita telah memutuskan penarikan pasukan Prancis secara terpadu dan terorganisasi,” kata Ouattara, dilansir Al Jazeera.
Batalion Infantri Marinir ke-43 (BIMA), pangkalan tentara Prancis yang terletak di Port-Bouet di ibu kota ekonomi, Abidjan, akan “diserahkan” kepada militer Pantai Gading mulai Januari 2025, tambahnya.
Pengumuman Presiden Alassane Ouattara pada hari Selasa menempatkan Pantai Gading dalam daftar negara-negara Afrika yang memutuskan hubungan militer dengan bekas negara kolonial yang pernah sangat berpengaruh itu, karena beberapa mantan sekutu Prancis juga meminta bantuan tentara bayaran Rusia untuk memerangi segerombolan kelompok bersenjata di wilayah tersebut.
Dalam beberapa hari pada bulan November, Chad dan Senegal mengusir pasukan Prancis, bergabung dengan beberapa negara Sahel yang sebelumnya telah melakukan hal yang sama, mulai tahun 2021.
Gelombang penolakan telah memaksa Prancis untuk merancang strategi militer baru untuk benua itu yang menurut para pejabat akan sejalan dengan "kebutuhan" negara-negara mitra. Penempatan sementara, alih-alih kehadiran militer permanen, dan lebih banyak fokus pada pelatihan pasukan lokal, adalah beberapa fitur dari kebijakan baru tersebut.
Tren Frexit di Afrika, Mengapa Pantai Gading Mengusir Pasukan Prancis?
1. Mengefektifkan Tentara Pantai Gading
Dalam pidato akhir tahun 2024 kepada negara tersebut pada 31 Desember, Presiden Ouattara mengatakan pemerintah Pantai Gading telah memutuskan untuk mengusir pasukan Prancis karena tentara Pantai Gading "sekarang efektif". Presiden tidak memberikan alasan lain.“Kita bisa bangga dengan tentara kita, yang modernisasinya kini efektif. Dalam konteks inilah kita telah memutuskan penarikan pasukan Prancis secara terpadu dan terorganisasi,” kata Ouattara, dilansir Al Jazeera.
Batalion Infantri Marinir ke-43 (BIMA), pangkalan tentara Prancis yang terletak di Port-Bouet di ibu kota ekonomi, Abidjan, akan “diserahkan” kepada militer Pantai Gading mulai Januari 2025, tambahnya.
Lihat Juga :