Ini Respons Rusia atas Ancaman Donald Trump terhadap BRICS

Selasa, 03 Desember 2024 - 06:55 WIB
loading...
Ini Respons Rusia atas...
Rusia merespons santai ancaman Presiden terpilih AS Donald Trump terhadap negara-negara BRICS. Foto/Pravda
A A A
MOSKOW - Pemerintah Rusia telah merespons ancaman Presiden terpilih Amerika Serikat (AS) Donald Trump terhadap BRICS jika meninggalkan dolar Amerika dalam transaksi perdagangan global.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan tekanan Amerika hanya akan mempercepat tren global yang berkembang terhadap mata uang nasional dalam perdagangan, sehingga mengurangi peran dolar sebagai mata uang cadangan.

"Dolar mulai kehilangan daya tariknya sebagai mata uang cadangan bagi banyak negara," kata Peskov, seperti dikutip dari Russia Today, Selasa (3/12/2024).

"Erosi dominasinya adalah proses yang semakin kuat," lanjut juru bicara Presiden Vladimir Putin tersebut.

Baca Juga: Donald Trump Ancam BRICS Jika Tinggalkan Dolar AS

Pada akhir pekan lalu, Trump mengancam akan mengenakan bea masuk impor 100% kepada anggota BRICS jika blok itu mengganti dolar Amerika dengan mata uang lain untuk transaksi perdagangan internasional.

"Gagasan bahwa negara-negara BRICS mencoba menjauh dari dolar sementara kita berdiam diri dan menonton sudah berakhir," tulis Trump dalam sebuah posting media sosial, yang menguraikan rencananya untuk membangun kembali keunggulan ekonomi global AS setelah menjabat bulan depan.

"Kami menuntut komitmen dari negara-negara ini bahwa mereka tidak akan menciptakan mata uang BRICS baru, atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar AS yang perkasa, atau mereka akan menghadapi tarif 100%, dan harus mengucapkan selamat tinggal pada penjualan ke ekonomi AS yang luar biasa," papar Trump.

"Mereka dapat mencari 'orang bodoh' lain! Tidak ada kemungkinan bahwa BRICS akan menggantikan dolar AS dalam perdagangan internasional, dan setiap negara yang mencoba harus mengucapkan selamat tinggal kepada Amerika," imbuh Trump.

Menurut Peskov, tren pergeseran saat ini tidak terbatas pada negara-negara BRICS tetapi merupakan gerakan yang lebih luas di seluruh dunia.

Penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan menjadi semakin umum, karena semakin banyak negara mencari alternatif untuk dolar, terutama mengingat sanksi Barat dan persenjataan sistem keuangan.

BRICS sebelumnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, dan diperluas pada bulan Januari hingga mencakup Mesir, Iran, Ethiopia, dan Uni Emirat Arab.

Rusia telah mendukung pengembangan platform BRICS Bridge, yang dirancang untuk memfasilitasi penyelesaian dalam mata uang nasional, termasuk melalui saluran digital.

Menteri Luar Negeri Sergey Lavrov telah menekankan bahwa inisiatif tersebut bertujuan untuk melindungi negara-negara dari pengaruh ekonomi AS dan Uni Eropa (UE).

Peskov juga merujuk pada pernyataan Presiden Putin selama KTT BRICS di Kazan pada bulan Oktober, di mana dia menunjukkan bahwa meskipun Rusia belum "menolak" dolar, Rusia harus menemukan sistem keuangan alternatif untuk menghindari kendali Barat atas infrastruktur keuangan global.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Ungkap Sabuk Keamanan...
Iran Ungkap Sabuk Keamanan Perlawanan Baru Membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab
AS Tidak Cegat Rudal...
AS Tidak Cegat Rudal Iran yang Ditembakkan ke Israel
Trump: 2 Minggu Lagi,...
Trump: 2 Minggu Lagi, AS Nyatakan Kemenangan Total atas Iran!
Helikopter Apache AS...
Helikopter Apache AS Jatuh di Dekat Selat Hormuz, Ditembak Iran?
Partai Pro-Barat Menang...
Partai Pro-Barat Menang Pemilu Armenia, Pukulan Telak bagi Rusia
7 Negara dengan Produksi...
7 Negara dengan Produksi Tank Tempur Terbanyak di Dunia, China dan Rusia Bersaing Ketat
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Tanggapi Surat Terbuka,...
Tanggapi Surat Terbuka, Putin Tolak Bertemu Empat Mata dengan Zelensky
Nah, AS Tiba-Tiba Cabut...
Nah, AS Tiba-Tiba Cabut Jatah Kuota Tiket untuk Suporter Iran di Piala Dunia
Rekomendasi
Kejagung Limpahkan 11...
Kejagung Limpahkan 11 Tersangka Kasus POME ke Kejaksaan
Kinerja Tumbuh 21,17%,...
Kinerja Tumbuh 21,17%, Patra Logistik Catat Pendapatan Rp3,25 Triliun di 2025
Bea Cukai Gagalkan 8,9...
Bea Cukai Gagalkan 8,9 Juta Batang Rokok Ilegal, Selamatkan Rp8,6 Miliar
Berita Terkini
Iran akan Bangun PLTN...
Iran akan Bangun PLTN di 5 Lokasi Pesisir
Iran Ungkap Sabuk Keamanan...
Iran Ungkap Sabuk Keamanan Perlawanan Baru Membentang dari Selat Hormuz hingga Bab al-Mandab
Respons Aksi China,...
Respons Aksi China, Jepang Perkuat Pertahanan Sisi Barat Daya
AS Tidak Cegat Rudal...
AS Tidak Cegat Rudal Iran yang Ditembakkan ke Israel
Horor! Penyerang Berpisau...
Horor! Penyerang Berpisau Mencoba Memenggal Seorang Pria di Tempat Umum
Siapa Liao Dan? Pria...
Siapa Liao Dan? Pria yang Dijuluki Penipu Paling Setia di China
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved