alexametrics

AS Gelar Dua Operasi 'Kebebasan Navigasi' di Laut China Selatan

loading...
AS Gelar Dua Operasi Kebebasan Navigasi di Laut China Selatan
AS melakukan dua operasi 'Kebebasan Navigasi' di Laut China Selatan selama dua hari berturut-turut. Foto/Ilustrasi/Sindonews
A+ A-
WASHINGTON - Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) dalam dua kesempatan berbeda melakukan operasi Kebebasan Navigasi di Laut China Selatan. Kapal-kapal perang Angkatan Laut AS berlayar di dekat Kepulauan Paracel dan Karang Mischief.

Juru bicara Armada Ketujuh Angkatan Laut AS, Komandan Reann Mommsen mengatakan, pada hari Rabu kapal perang Gabrielle Giffords melakukan perjalanan dalam area 12 mil laut dari Karang Mischief.

Sementara pada hari Kamis, kapal perusak Wayne E. Meyer, berlayar di dekat kepulauan Paracel.



"Misi-misi ini didasarkan pada aturan hukum dan menunjukkan komitmen kami untuk menegakkan hak, kebebasan, dan penggunaan laut dan wilayah udara yang dijamin secara hukum untuk semua negara," ujarnya seperti dikutip dari Strait Times, Jumat (22/11/2019).

China mengklaim hampir semua perairan yang kaya energi itu dan membangun pos-pos militer di pulau buatan. Namun Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan dan Vietnam juga memiliki klaim atas laut tersebut.

AS menuduh China melakukan militerisasi Laut China Selatan dan berusaha mengintimidasi tetangga-tetangganya di Asia yang mungkin ingin mengeksploitasi cadangan minyak dan gasnya yang luas.

Awal pekan ini, Menteri Pertahanan AS Mark Esper bertemu dengan Menteri Pertahanan China Wei Fenghe. Keduanya melakukan pembicaraan tertutup di sela-sela pertemuan para menteri pertahanan di Bangkok, Thailand.

Seorang juru bicara China mengatakan Wei mendesak Esper untuk menghentikan unjuk kekuatan di Laut China Selatan dan tidak memprovokasi serta meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan. Sementara Esper menuduh Beijing menggunakan pemaksaan dan intimidasi untuk mencapai tujuan strategisnya.
(ian)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak