Analis: Lebanon Capai Titik Kritis, Kedaulatannya Terancam
Jum'at, 14 Agustus 2020 - 19:12 WIB
loading...
Ledakan di pelabuhan Beirut pada awal Agustus telah mendorong Lebanon ke tepi krisis. Foto/Ilustrasi
A
A
A
BEIRUT - Ledakan di pelabuhan Beirut pada awal Agustus telah mendorong Lebanon ke tepi krisis. Kondisi ini memicu pertanyaan, apakah negara itu akan mampu mengatasi krisis. Pakar Timur Tengah dan analis politik, Ghassan Kadi menjelaskan mengapa suntikan dana saja tidak cukup untuk menyelamatkan perekonomian negara itu.
Kadi menuturkan, ledakan Beirut telah memperburuk dilema ekonomi yang dihadapi oleh pemerintah Lebanon yang dipimpin oleh Perdana Menteri Hassan Diab. Sebelum ledakan dahsyat yang hampir sepenuhnya menghancurkan pelabuhan terbesar di negara itu, pihak berwenang Lebanon telah gagal membayar utang negara pada Maret 2020 dan mengadakan negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menerima pinjaman USD 10 miliar. Pinjaman itu diperlukan untuk menghidupkan kembali ekonomi negara yang merosot. (Baca: Lebanon Kian Genting, Diab Mundur dari Kursi PM )
Namun, pembicaraan “menghantam batu” pada Juli 2020, karena pihak-pihak yang terlibat gagal mencapai kompromi pada program reformasi domestik Lebanon. Menurut Bloomberg, ledakan Beirut dapat meningkatkan tekanan pada Diab untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemberi pinjaman dan investor internasional dan memulai reformasi.
"Saya bahkan tidak yakin apakah Lebanon seperti yang kita tahu akan bertahan lebih lama dari krisis ini. Apalagi, merenungkan bagaimana ia akan berhasil menemukan jalan menuju pembangunan kembali," ucap Kadi, seperti dilansir Sputnik, Jumat (14/8/2020). (Baca: Ledakan Beirut Disusul Pejabat Mundur Massal, Lebanon di Ambang Kolaps )
Dia tidak terkejut dengan pembicaraan IMF-Lebanon yang sebelumnya terhenti. "IMF dan semua mantan dermawan dan kreditor yang telah membantu Lebanon di masa lalu, kini telah kehilangan kepercayaan mereka, mengetahui sebelumnya bahwa setiap uang yang ditawarkan sebagai sumbangan atau kredit akan jatuh ke dalam kantong politisi korup," ujarnya.
"Hassan Diab tampaknya beroperasi dari posisi bertahan politik yang aneh, karena ia datang ke panggung politik entah dari mana, dan dengan sedikit atau tanpa harapan akan masa depan politik. Jadi, orang akan berpikir bahwa status quo-nya-tidak-untung-rugi-seharusnya menempatkan dia dalam posisi membuat keputusan reformasi yang berani. Tapi, dia tidak menghasilkan banyak sama sekali," jelas Kadi.
Ia cenderung berpikir bahwa Diab tidak mampu memenuhi keinginan para demonstran atau hanya memikirkan masa depan politiknya sendiri dalam sistem yang diatur oleh kroni dan mentalitas mafia.
Kadi menuturkan, ledakan Beirut telah memperburuk dilema ekonomi yang dihadapi oleh pemerintah Lebanon yang dipimpin oleh Perdana Menteri Hassan Diab. Sebelum ledakan dahsyat yang hampir sepenuhnya menghancurkan pelabuhan terbesar di negara itu, pihak berwenang Lebanon telah gagal membayar utang negara pada Maret 2020 dan mengadakan negosiasi dengan Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menerima pinjaman USD 10 miliar. Pinjaman itu diperlukan untuk menghidupkan kembali ekonomi negara yang merosot. (Baca: Lebanon Kian Genting, Diab Mundur dari Kursi PM )
Namun, pembicaraan “menghantam batu” pada Juli 2020, karena pihak-pihak yang terlibat gagal mencapai kompromi pada program reformasi domestik Lebanon. Menurut Bloomberg, ledakan Beirut dapat meningkatkan tekanan pada Diab untuk melanjutkan pembicaraan dengan pemberi pinjaman dan investor internasional dan memulai reformasi.
"Saya bahkan tidak yakin apakah Lebanon seperti yang kita tahu akan bertahan lebih lama dari krisis ini. Apalagi, merenungkan bagaimana ia akan berhasil menemukan jalan menuju pembangunan kembali," ucap Kadi, seperti dilansir Sputnik, Jumat (14/8/2020). (Baca: Ledakan Beirut Disusul Pejabat Mundur Massal, Lebanon di Ambang Kolaps )
Dia tidak terkejut dengan pembicaraan IMF-Lebanon yang sebelumnya terhenti. "IMF dan semua mantan dermawan dan kreditor yang telah membantu Lebanon di masa lalu, kini telah kehilangan kepercayaan mereka, mengetahui sebelumnya bahwa setiap uang yang ditawarkan sebagai sumbangan atau kredit akan jatuh ke dalam kantong politisi korup," ujarnya.
"Hassan Diab tampaknya beroperasi dari posisi bertahan politik yang aneh, karena ia datang ke panggung politik entah dari mana, dan dengan sedikit atau tanpa harapan akan masa depan politik. Jadi, orang akan berpikir bahwa status quo-nya-tidak-untung-rugi-seharusnya menempatkan dia dalam posisi membuat keputusan reformasi yang berani. Tapi, dia tidak menghasilkan banyak sama sekali," jelas Kadi.
Ia cenderung berpikir bahwa Diab tidak mampu memenuhi keinginan para demonstran atau hanya memikirkan masa depan politiknya sendiri dalam sistem yang diatur oleh kroni dan mentalitas mafia.
Lihat Juga :