Ledakan Beirut Disusul Pejabat Mundur Massal, Lebanon di Ambang Kolaps

loading...
Ledakan Beirut Disusul Pejabat Mundur Massal, Lebanon di Ambang Kolaps
Para pejabat pemerintah Lebanon, dari menteri, duta besar hingga anggota parlemen, mengundurkan diri secara massal. Foto/Al Arabiya English
A+ A-
BEIRUT - Pemerintah Lebanon di ambang kolaps atau runtuh karena banyak pejabat dari pemerintahan Perdana Menteri (PM) Hassan Diab mengundurkan diri. Aksi mundur massal ini terjadi setelah ledakan dahsyat di Beirut Selasa malam pekan lalu menewaskan 220 orang dan melukai sekitar 7.000 orang lainnya.

Para pejabat yang mundur termasuk menteri, duta besar dan beberapa anggota parlemen. Pemerintahan Diab, yang dibentuk oleh Hizbullah dan sekutunya, sejak awal dijuluki sebagai pemerintahan yang sepihak.

Setelah ledakan Beirut Selasa malam lalu, ribuan warga Lebanon turun ke jalan menuntut jatuhnya seluruh elit penguasa, termasuk parlemen dan pemerintah.

Menteri Luar Negeri Diab, Nassif Hitti, mengajukan pengunduran dirinya sebelum ledakan mematikan tersebut. Tak lama setelah ledakan, Duta Besar Lebanon untuk Yordania, Tracy Chamoun, mengundurkan diri bersama dengan beberapa anggota parlemen.

Pada hari Minggu, Diab memohon kepada para menteri untuk tidak mengundurkan diri tetapi seruannya diabaikan. (Baca: Politisi Israel Senang dengan Ledakan Beirut, Sebut Hadiah Tuhan)



Menteri Penerangan Manal Abdel Samad dan Menteri Lingkungan Hidup Demianos Kattar mengundurkan diri dan akan lebih banyak lagi yang diprediksi akan menyusul selama seminggu ke depan.

Pengunduran diri Kattar terjadi Minggu malam setelah Menteri Lingkungan Hidup Demianos Kattar mengatakan sistem politik sudah "tua dan telah kehilangan banyak kesempatan" untuk reformasi. Total sudah ada sepuluh pejabat, mulai dari menteri, duta besar hingga anggota parlemen, yang mengundurkan diri.

Pemerintah bisa kolaps jika lebih dari sepertiga menteri mengundurkan diri. Jika kondisi seperti itu terjadi, pemerintah hanya bisa melanjutkan kapasitasnya sebagai pengurus hingga terbentuk pemerintahan baru. Ada 20 menteri dalam pemerintahan Diab.

Namun demikian, seorang menteri Hizbullah mengatakan bahwa pemerintah tetap "tetap tinggal".

"Kami tidak akan mengundurkan diri," kata Menteri Perindustrian Imad Hoballah kepada wartawan, Minggu, seperti dilansir Reuters, Senin (10/8/2020). (Baca juga: Kapal Rusia, Pemilik Amonium Nitrat yang Jadi Tragedi di Beirut)



Tetapi Menteri Tenaga Kerja Lamia Yammine lebih skeptis dan mengatakan bahwa belum ada keputusan yang dibuat tentang pengunduran diri.

Jika upaya Diab berhasil menyelamatkan pemerintahannya, anggota parlemen secara luas kemungkinan akan menarik kembali mosi percaya mereka kepada pemerintah.

Delapan anggota parlemen sejauh ini telah mengumumkan atau mengajukan pengunduran diri mereka. Ini termasuk dua dari Partai Sosialis Progresif pimpinan Walid Joumblatt, ketiga anggota parlemen dari Partai Kataeb, dua anggota parlemen dari Free Patriotic Movement (Gerakan Patriotik Merdeka) pimpinan Presiden Michel Aoun, dan anggota parlemen independen lainnya.

Anggota parlemen dari Future Movement (Gerakan Masa Depan) Dima Jamali juga mengatakan dia akan mengajukan pengunduran dirinya pada hari Senin (10/8/2020), tetapi anggota parlemen dari partainya mantan PM Saad Hariri tersebut mengatakan bahwa itu adalah pilihan pribadi Jamali.

Tapi Jamali mengatakan kepada Al Arabiya English bahwa, "Ya, ada pembicaraan tentang pengunduran diri blok lainnya."

Jamali mengatakan dia memberi tahu Hariri tentang keputusannya dan bahwa dia mengerti.

Sekadar diketahui, ada 128 kursi di parlemen Lebanon.

Ketua parlemen Nabih Berri menyerukan sesi umum pada hari Kamis untuk membahas ledakan Beirut dan menanyai pejabat pemerintah.
(min)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top