Maladewa Berisiko Jatuh ke Jebakan Utang Jika Sepakati FTA China

Selasa, 20 Februari 2024 - 09:08 WIB
loading...
A A A
Salah satu contohnya adalah terowongan bawah tanah yang menghubungkan Male dan RasMale, yang diklaim sebagai yang pertama dari jenisnya. Ini akan menjadi proyek mewah berbiaya tinggi yang melibatkan reklamasi lahan dan pembangunan proyek perumahan.

Proyek tersebut juga akan menghubungkan pulau-pulau yang dekat dengan kota Male melalui jembatan. Semua proposal yang sangat padat modal ini tidak dapat dipertahankan bagi perekonomian Maladewa dan akan semakin mendorongnya ke dalam risiko jebakan utang.

Khususnya, impor yang lebih tinggi dari China akan memperburuk ketidakseimbangan perdagangan Maladewa dan meningkatkan defisit perdagangan secara keseluruhan.

Pendapatan ekspor Maladewa secara keseluruhan jauh lebih rendah dibandingkan pengeluaran impor, dan karena kemungkinan besar ekspor Maladewa ke China tidak akan meningkat setelah FTA, negara ini mungkin akan segera menghadapi defisit perdagangan yang meningkat pesat.

Berlatar belakang kampanye "India Out" yang dipelopori mantan Presiden Yameen dan didukung petahana, langkah penandatanganan FTA menandakan tekad menjauhkan India dari segala aspek. Hal ini juga meluas ke bidang pertahanan.

Laporan terbaru menunjukkan bahwa Maladewa berencana membeli drone militer dari Turki, dengan alasan pemantauan garis pantai. China juga menawarkan untuk memasok senjata ke Maladewa.

Sungguh ironis bahwa India, yang telah memberikan keamanan ke Maladewa selama beberapa dekade, kini dijauhi. Para personel militer India, yang terlibat dalam pelatihan dan membantu Angkatan Pertahanan Maladewa, juga diminta untuk pergi.

Impor senjata oleh Maladewa dari negara-negara ketiga juga akan berdampak pada perekonomian yang sudah terguncang karena tingginya utang serta keterbatasan anggaran.

Dalam beberapa hari ke depan, pemerintahan Muizzu akan mengambil langkah-langkah untuk menandatangani FTA China-Maladewa secara resmi. Hal ini mungkin terjadi, meski Partai Progresif Maladewa tidak menikmati mayoritas di Majelis.

Jika hal ini terwujud, seperti yang terjadi pada 2017, Maladewa akan kembali berada di bawah payung China, sehingga menimbulkan bahaya nyata bagi kawasan Samudra Hindia dan jalur laut di sekitar Maladewa.

Realisasi akan dampak negatif jangka panjang FTA baru akan terasa ketika China mengambil alih Maladewa, seperti yang terjadi di Sri Lanka. Saat itu terjadi, semuanya sudah terlambat.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Langka, Kapal Perang...
Langka, Kapal Perang China Latihan Tembak di Dalam ZEE Jepang
China Perluas Pengaruh...
China Perluas Pengaruh di Kirgizstan, Warga Khawatir soal Kedaulatan
Filipina dan China Bentrok,...
Filipina dan China Bentrok, 1 Tentara Terluka
China Sangkal Tudingan...
China Sangkal Tudingan Trump tentang Campur Tangan Pemilu AS
China Ungguli AS dalam...
China Ungguli AS dalam Popularitas Global, Xi Jinping Dianggap Lebih Positif daripada Trump
Trump Tuduh China Ikut...
Trump Tuduh China Ikut Campur Pemilu AS: Kompromi Data Terbesar dalam Sejarah!
Purbaya Siap Terbitkan...
Purbaya Siap Terbitkan Panda Bond 23 Juli 2026, Bidik Dana dari China Rp18 Triliun
Korban Tewas Gempa Venezuela...
Korban Tewas Gempa Venezuela Tembus 5.208 Jiwa, 16.740 Orang Terluka
Wali Kota New York Mamdani...
Wali Kota New York Mamdani Serius Ingin Tangkap Netanyahu, Singgung Surat Perintah ICC
Rekomendasi
Bug Windows 11 Terdeteksi...
Bug Windows 11 Terdeteksi Menguras Penyimpanan SSD Pengguna hingga 70GB
Pembangunan Fakultas...
Pembangunan Fakultas Kedokteran Telkom University di Bandung Rampung
Roy Suryo: Rismon Tak...
Roy Suryo: Rismon Tak Layak Jadi Saksi di Kasus Ijazah Jokowi
Berita Terkini
Mediator Usulkan Gencatan...
Mediator Usulkan Gencatan Senjata 10 Hari untuk Hidupkan Lagi Kesepakatan AS-Iran
Seorang Tentara AS Tewas...
Seorang Tentara AS Tewas di Irak Saat Buang Amunisi Drone Iran yang Jatuh
AS Tak Dapat Lindungi...
AS Tak Dapat Lindungi 50.000 Pasukannya di Timur Tengah dari Persenjataan Iran yang Besar
Militer Iran Gempur...
Militer Iran Gempur Sistem Rudal HIMARS AS di Kuwait
Iran Berterima Kasih...
Iran Berterima Kasih pada Warga Yordania karena Bantu Menargetkan Pasukan AS
Pertahanan Udara AS...
Pertahanan Udara AS Kewalahan Hadapi Rudal-rudal Iran yang Kian Canggih
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved