Komandan Pasukan Elite Iran Minta Milisi Irak Berhenti Serang Tentara AS, Mengapa?

Senin, 19 Februari 2024 - 09:42 WIB
loading...
Komandan Pasukan Elite...
Komandan pasukan elite Iran Esmail Qaani telah meminta para milisi bersenjata Irak berhenti menyerang pasukan AS di Irak. Foto/REUTERS
A A A
BAGHDAD - Seorang komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah meminta kelompok milisi Irak menghentikan serangan terhadap pasukan Amerika Serikat (AS) di Irak.

Sumber-sumber Iran dan Irak mengungkap hal itu kepada Reuters pada hari Minggu (18/2/2024).

Menurut para sumber tersebut, komandan Pasukan Quds—pasukan elite IRGC—Esmail Qaani telah mengunjungi Baghdad kurang dari 48 jam setelah tiga tentara AS terbunuh dalam serangan drone di Yordania pada 28 Januari. Qaani menyampaikan permintaan itu selama kunjungannya.

Sumber-sumber tersebut mengatakan kunjungan Qaani menandai keinginan Teheran untuk mencegah konflik yang lebih luas di Timur Tengah setelah kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran meningkatkan serangan terhadap sasaran-sasaran AS di Irak dan Suriah terkait perang Israel di Gaza.

Baca Juga: AS Serang Irak, Habisi Komandan Milisi yang Didukung Iran

Qaani bertemu dengan perwakilan beberapa kelompok milisi bersenjata di bandara Baghdad pada 29 Januari, dua hari setelah Washington menyalahkan kelompok tersebut atas serangan yang menewaskan tiga tentara AS.

Serangan terhadap pangkalan militer AS yang dikenal sebagai Tower 22 di wilayah terpencil di timur laut Yordania mengirimkan gelombang kejutan ke seluruh Washington, karena ini menandai kematian publik pertama tentara AS sejak serangan terhadap pasukan AS dimulai, menyusul pecahnya perang di Gaza pada bulan Oktober.

Qaani mengatakan kepada faksi-faksi Irak bahwa membunuh orang Amerika berisiko menimbulkan respons keras dari AS, menurut laporan Reuters mengutip 10 sumber termasuk politisi, pejabat keamanan, diplomat, dan anggota kelompok bersenjata.

Menurut salah satu sumber, Qaani mengatakan para milisi harus bersembunyi untuk menghindari serangan AS terhadap komandan senior mereka, penghancuran infrastruktur utama, atau bahkan pembalasan langsung terhadap Iran.

Meskipun salah satu faksi pada awalnya tidak menyetujui permintaan Qaani, sebagian besar faksi lainnya menyetujuinya.

Keesokan harinya, Kataeb Hizbullah—milisi Syiah paling kuat dan aktif yang didukung Iran di Irak—mengumumkan bahwa mereka menghentikan serangan terhadap pasukan AS.

Sebagai pembalasan atas kematian tiga tentaranya, AS melancarkan serangan terhadap 85 sasaran di Suriah dan Irak pada 2 Februari. Serangan itu diklaim menargetkan kelompok milisi yang berafiliasi dengan Iran dan sekutunya.

Seminggu setelah kunjungan Qaani, militer AS mengatakan telah membunuh seorang komandan tinggi di Kataeb Hizbullah Abu Baqir al-Saadi.

Serangan itu terjadi ketika para pejabat AS menilai bahwa Iran berupaya mengendalikan proksinya untuk mencegah serangan terhadap pasukan AS yang dapat menyebabkan pecahnya perang yang lebih luas.

Sejak tanggal 4 Februari tidak ada serangan terhadap pasukan AS di Irak dan Suriah, dibandingkan dengan lebih dari 20 serangan dalam dua minggu sebelum kunjungan Qaani.

“Tanpa intervensi langsung Qaani, mustahil meyakinkan Kataeb Hizbullah untuk menghentikan operasi militernya guna meredakan ketegangan,” kata seorang komandan senior di salah satu kelompok bersenjata Irak yang bersekutu dengan Iran.
(mas)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
Iran Menang Banyak!...
Iran Menang Banyak! Sanksi Dicabut dan Diizinkan Ekspor Minyak
Iran dan AS Sepakati...
Iran dan AS Sepakati Peta Jalan untuk Mengakhiri Perang
Menhan Negara NATO Salahkan...
Menhan Negara NATO Salahkan Trump atas Penutupan Selat Hormuz
AS Kerahkan Sistem Rudal...
AS Kerahkan Sistem Rudal Canggih Typhon ke Jepang, Dapat Menargetkan China
Gunakan Mode Autopilot,...
Gunakan Mode Autopilot, Mobil Tesla Ini Malah Tabrak Rumah dan Tewaskan Penghuninya
Prancis Favorit, Mbappe...
Prancis Favorit, Mbappe Bidik Rekor Baru saat Hadapi Irak
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Dilaporkan Akan Mengundurkan Diri pada Senin
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Diisukan Akan Mundur, Ini Kata Trump
Rekomendasi
Tak Ditahan, Roy Suryo...
Tak Ditahan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikenakan Wajib Lapor
Prancis Favorit, Mbappe...
Prancis Favorit, Mbappe Bidik Rekor Baru saat Hadapi Irak
Prabowo Teken UU Polri,...
Prabowo Teken UU Polri, Atur Jabatan Sipil, Usia Pensiun, hingga Rekrutmen Disabilitas
Berita Terkini
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Jepang Naikkan Biaya...
Jepang Naikkan Biaya Visa sebanyak Lima Kali Lipat, Apa Pemicunya?
Tuntut Menteri Pendidikan...
Tuntut Menteri Pendidikan Mundur, Pendukung Partai Kecoa Berkemah di Jalanan
4 Pemicu PM Inggris...
4 Pemicu PM Inggris Keir Starmer Mundur, dari Pemberontakan Internal hingga Terlalu Banyak Janji
Iran dan AS Berdamai,...
Iran dan AS Berdamai, Upacara Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei Digelar selama 6 Hari
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Mundur, Krisis Politik Berlanjut
Infografis
Negara-Negara Arab Kompak...
Negara-Negara Arab Kompak Menolak Bantu AS Serang Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved