Joe Biden Sebut Kamala Harris Sebagai Pejuang Tanpa Rasa Takut

Kamis, 13 Agustus 2020 - 07:10 WIB
loading...
A A A
Hanya ada dua perempuan lain yang pernah dinominasikan sebagai calon wakil presiden, yaitu Sarah Palin oleh Partai Republik pada 2008 dan Geraldine Ferraro oleh Partai Demokrat pada 1984. Namun, keduanya tidak ada yang lolos ke Gedung Putih. Perempuan kulit berwarna tak pernah ditunjuk untuk bersaing menuju Gedung Putih, baik oleh Partai Demokrat maupun Partai Republik. (Baca juga: Kemendikbud Luncurkan gerakan 1 Juta Masker)

Harris memilih hengkang dari persaingan bakal kandidat presiden pada Desember 2019 lalu. Dia sempat berselisih dengan Biden dalam debat internal Partai Demokrat, terutama perihal hubungan kerja sama Biden dengan sejumlah mantan senator yang memilih segregasi ras.

Lantas bagaimana latar belakang Harris? Dia lahir di Oakland, California, dari dua orang tua berlatar imigran. Ibunya kelahiran India dan ayahnya kelahiran Jamaika. Harris berkuliah di Universitas Howard, salah satu kampus ternama yang didirikan komunitas kulit hitam. Harris merasa masa-masa kuliah adalah salah satu periode paling membentuk dirinya dalam kehidupan.

Dia pernah mengatakan selalu nyaman dengan identitasnya dan menggambarkan diri sebagai "seorang Amerika". Pada 2019, Harris menyatakan kepada harian Washington Post bahwa politisi seharusnya tidak dikotak-kotakkan berdasarkan warna kulit atau latar belakangnya. "Poin saya, saya adalah saya. Saya merasa baik dengan diri saya. Mungkin Anda perlu menerka-nerka, namun saya merasa baik dengannya," ucap Harris.

Setelah berkuliah selama empat tahun di Universitas Howard, Harris mendapat gelar sarjana hukum di Universitas California, Hastings, dan memulai karier di Kantor Kejaksaan Distrik Alameda. Dia kemudian menjadi jaksa distrik untuk San Francisco pada 2003, sebelum terpilih sebagai perempuan pertama dan warga Afrika-Amerika pertama yang menjabat jaksa agung Negara Bagian California—negara bagian yang penduduknya paling banyak di AS.

Dalam dua masa jabatan sebagai jaksa agung Harris meraih reputasi sebagai salah satu bintang Partai Demokrat. Dia menggunakan momentum itu guna meraih jabatan senator junior yang mewakili California pada 2017. Saat itu Harris merupakan perempuan kulit hitam kedua yang terpilih.

Harris lantas mencoba untuk berkampanye sebagai bakal calon presiden dalam sebuah pawai di Oakland yang dihadiri 20.000 orang tahun lalu. Namun, Harris gagal menjelaskan secara gamblang kepada para pemilih mengapa dia harus dipilih. Jawabannya ketika ditanya soal kebijakan-kebijakan penting, seperti layanan kesehatan, juga tidak terlalu jelas. Dia juga dinilai tidak sanggup memanfaatkan keunggulannya sebagai jaksa saat berdebat menyerang Biden. (Baca juga: Postingan Menghujat Nabi Muhammad Picu Bentrokan di India, Tiga Tewas)

Pakar strategi Partai Demokrat, Karen Finney, menuturkan, langkah Biden menunjuk Harris yang merupakan perempuan kulit hitam itu menegaskan pentingnya kelompok ini sebagai tulang punggung Partai Demokrat. ”Biden ingin mewujudkan harapan perempuan kulit hitam menjadi pemimpin,’’ katanya.

Di sisi lain, dipilihnya Harris bukan hanya faktor representasi. Pasalnya, jika Biden memenangkan pemilu November lalu dia akan mengorientasikan Harris untuk berperan menangani berbagai isu, seperti pandemi virus corona, resesi yang memburuk sejak Great Depression, hingga rasisme sistematis dalam kebijakan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demi Moral, Turki Tolak...
Demi Moral, Turki Tolak Berlabuh Kapal Pesiar Pembawa 2.000 Penumpang LGBTQ
Seruan Bunuh Trump Menggema...
Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Iran Kecam Trump karena...
Iran Kecam Trump karena Ancam Lenyapkan Semua Orang di Pemakaman Khamenei dengan Sekali Tembak
6 Fakta Perayaan Ulang...
6 Fakta Perayaan Ulang Tahun AS ke-250, Bill Clinton: Masa Depan Kita Dipertanyakan
Perusahaan Belgia Beri...
Perusahaan Belgia Beri Trump Cincin Emas dengan 321 Berlian usai Hapus Tarif
KKB Papua Tembak Mati...
KKB Papua Tembak Mati Pilot Nicholas F Goselin lalu Salahkan AS dan Indonesia, Amerika Bungkam
Iran Gunakan Selat Hormuz...
Iran Gunakan Selat Hormuz Jegal Tekanan AS, Pasar Minyak Dunia Ketar-ketir
Jenazah Khamenei Disemayamkan...
Jenazah Khamenei Disemayamkan di Teheran, Prosesi Pemakaman Digelar Sepekan
19 Orang Tewas dalam...
19 Orang Tewas dalam Kerusuhan Penjara di Sri Lanka, Diduga Dipicu Perebutan Kendali Narkoba
Rekomendasi
Cak Imin Bangga, Luluk...
Cak Imin Bangga, Luluk Nur Hamidah Resmi Sandang Gelar Doktor Sosiologi UI
Soroti Survei Terbuka...
Soroti Survei Terbuka IndexMundi, Burhanuddin Muhtadi Beberkan Cacat Metodologi Riset Online
OPEC+ Sepakat Tambah...
OPEC+ Sepakat Tambah Produksi Mulai Agustus, Harga Minyak Drop Lebih 1%
Berita Terkini
Revolusi Islam di Iran...
Revolusi Islam di Iran Akan Terus Berlanjut, Ini 3 Indikasi Utamanya
Kehancuran Israel Bukan...
Kehancuran Israel Bukan dari Musuh Asing! Mayoritas Warga Zionis Takut Terjadi Perang Saudara
5 Pemakaman Tokoh Dunia...
5 Pemakaman Tokoh Dunia dengan Biaya Fantastis, Ada yang Capai Rp14,4 Triliun
Setelah 2 Dekade, Hamas...
Setelah 2 Dekade, Hamas Bubarkan Badan Pemerintahan Gaza
Israel Ingin Bangun...
Israel Ingin Bangun Kekuatan Militer di Gaza, Hamas: Zionis Ingin Pecah Belah Rakyat Palestina
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
Infografis
Presiden Joe Biden Mundur...
Presiden Joe Biden Mundur dari Pilpres Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved