Kapal Israel yang Disita Houthi Jadi Tujuan Wisata Baru Warga Yaman
Selasa, 26 Desember 2023 - 12:25 WIB
loading...
Kapal kargo Galaxy Leader disita Houthi dan kini jadi tujuan wisata baru warga Yaman. Foto/AP
A
A
A
SANAA - Zaid Hussein (45) telah berkendara sejauh 230 km dari rumahnya di Sanaa ke wilayah pelabuhan Hodeidah di Yaman.
Dia tiba dari ibu kota yang sibuk ke al-Salif, desa pesisir kecil di teluk, salah satu titik paling barat Yaman.
Hussein tidak berada di sana untuk menikmati suara ombak yang menghantam pantai, atau ketenangan pantai, betapa pun indahnya.
Dia, bersama warga Yaman dari seluruh negeri, berada di al-Salif untuk mengunjungi Galaxy Leader, kapal yang disita pasukan Houthi Yaman pada 19 November di Laut Merah di lepas pantai Hodeidah. Dua puluh lima awak kapal telah ditahan di kapal sejak itu.
Kelompok Houthi menggambarkan penyitaan tersebut, dan serangan berikutnya yang menargetkan kapal-kapal yang dikatakan terkait Israel, sebagai tindakan perlawanan untuk mendukung warga Palestina di Gaza yang dibombardir Israel.
Israel menyebut penyitaan kapal tersebut sebagai “tindakan terorisme”, sementara Amerika Serikat dan sembilan sekutunya telah meluncurkan satuan tugas angkatan laut untuk mengatasi serangan Houthi.
Namun di Yaman, al-Salif ramai dengan turis lokal lainnya yang ingin naik ke kapal kargo yang disita tersebut.
Hussein dan sembilan orang lainnya duduk di perahu kecil, menunggu untuk diangkut ke kapal yang lebih besar.
“Mari kita melihat kapal Israel dan bangga dengan pencapaian angkatan bersenjata kita,” ujar dia kepada Middle East Eye.
Mereka yang ikut dalam rombongan tur Hussein datang dari berbagai provinsi di Yaman, termasuk Sanaa, Dhamar dan Raymah.
Rasa penasaran dan kegembiraan menyelimuti kelompok turis lokal tersebut, saat perahu kecil berhenti di dekat kapal dan para wisatawan akhirnya naik melalui tangga.
Yasser Mohammed, yang datang dari provinsi utara Dhamar, yakin aktor internasional terkejut dengan tindakan Yaman yang berani.
“Ketika Israel memulai perangnya di Gaza, mereka mungkin khawatir dengan reaksi dari Lebanon, Mesir, Yordania, Arab Saudi atau negara-negara lain. Saya pikir mereka tidak pernah memperhitungkan reaksi Yaman,” ujar Mohammed (43) mengatakan kepada MEE sambil duduk bersila dan mengunyah qat di dek atas kapal.
Dia tiba dari ibu kota yang sibuk ke al-Salif, desa pesisir kecil di teluk, salah satu titik paling barat Yaman.
Hussein tidak berada di sana untuk menikmati suara ombak yang menghantam pantai, atau ketenangan pantai, betapa pun indahnya.
Dia, bersama warga Yaman dari seluruh negeri, berada di al-Salif untuk mengunjungi Galaxy Leader, kapal yang disita pasukan Houthi Yaman pada 19 November di Laut Merah di lepas pantai Hodeidah. Dua puluh lima awak kapal telah ditahan di kapal sejak itu.
Kelompok Houthi menggambarkan penyitaan tersebut, dan serangan berikutnya yang menargetkan kapal-kapal yang dikatakan terkait Israel, sebagai tindakan perlawanan untuk mendukung warga Palestina di Gaza yang dibombardir Israel.
Israel menyebut penyitaan kapal tersebut sebagai “tindakan terorisme”, sementara Amerika Serikat dan sembilan sekutunya telah meluncurkan satuan tugas angkatan laut untuk mengatasi serangan Houthi.
Namun di Yaman, al-Salif ramai dengan turis lokal lainnya yang ingin naik ke kapal kargo yang disita tersebut.
Hussein dan sembilan orang lainnya duduk di perahu kecil, menunggu untuk diangkut ke kapal yang lebih besar.
“Mari kita melihat kapal Israel dan bangga dengan pencapaian angkatan bersenjata kita,” ujar dia kepada Middle East Eye.
Mereka yang ikut dalam rombongan tur Hussein datang dari berbagai provinsi di Yaman, termasuk Sanaa, Dhamar dan Raymah.
Rasa penasaran dan kegembiraan menyelimuti kelompok turis lokal tersebut, saat perahu kecil berhenti di dekat kapal dan para wisatawan akhirnya naik melalui tangga.
Yasser Mohammed, yang datang dari provinsi utara Dhamar, yakin aktor internasional terkejut dengan tindakan Yaman yang berani.
“Ketika Israel memulai perangnya di Gaza, mereka mungkin khawatir dengan reaksi dari Lebanon, Mesir, Yordania, Arab Saudi atau negara-negara lain. Saya pikir mereka tidak pernah memperhitungkan reaksi Yaman,” ujar Mohammed (43) mengatakan kepada MEE sambil duduk bersila dan mengunyah qat di dek atas kapal.
Lihat Juga :