Frustasi dengan AS, Jerman dan Prancis Setop Pembicaraan Reformasi WHO

Sabtu, 08 Agustus 2020 - 02:34 WIB
loading...
Frustasi dengan AS,...
Jerman dan Prancis keluar dari pembicaraan reformasi WHO di tengah ketegangan dengan AS. Foto/Reuters
A A A
BERLIN - Dua negara Eropa, Prancis dan Jerman , telah menghentikan pembicaraan tentang reformasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Kedua negara itu merasa frustasi atas upaya Amerika Serikat (AS) untuk memimpin perundingan, meskipun mereka memutuskan untuk meninggalkan WHO .

Sebelumnya pada bulan Juli, AS telah memberi tahu WHO bahwa mereka akan meninggalkan badan PBB yang diciptakan untuk meningkatkan kesehatan secara global. Trump menuduh WHO terlalu dekat dengan China dan salah dalam menangani pandemi virus Corona . WHO dengan tegas menolak tuduhan tersebut. (Baca: China Sentris, Trump Sebut WHO Gagal Atasi Pandemi Corona )

Keputusan Paris dan Berlin untuk meninggalkan pembicaraan menyusul ketegangan atas apa yang mereka katakan sebagai upaya Washington untuk mendominasi negosiasi.

"Tidak ada yang ingin diseret ke dalam proses reformasi dan mendapatkan garis besarnya dari negara yang baru saja meninggalkan WHO," kata seorang pejabat senior Eropa yang terlibat dalam pembicaraan itu seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (8/8/2020).

Kementerian kesehatan Jerman dan Prancis mengkonfirmasi kepada Reuters bahwa kedua negara menentang AS yang memimpin pembicaraan setelah mengumumkan niat mereka untuk meninggalkan organisasi itu.

Seorang juru bicara kementerian kesehatan Italia mengatakan bahwa pengerjaan dokumen reformasi masih berlangsung, namun menambahkan bahwa posisi Italia sejalan dengan Paris dan Berlin.

Sedangkan seorang juru bicara pemerintah Inggris menolak mengomentari perkembangan terakhir tetapi menambahkan bahwa Inggris mendukung WHO dan mendesak reformasi badan tersebut untuk memastikannya tetap fleksibel dan responsif.

Langkah tersebut merupakan kemunduran bagi Presiden Donald Trump karena Washington, yang memegang kursi bergilir G7, berharap untuk mengeluarkan road map bersama untuk perombakan menyeluruh WHO pada bulan September, dua bulan sebelum pemilihan presiden AS.

Ditanya tentang posisi Prancis dan Jerman, seorang pejabat senior pemerintahan Trump mengatakan: "Semua anggota G7 secara eksplisit mendukung substansi gagasan reformasi WHO."

"Meskipun demikian, sangat disayangkan bahwa Jerman dan Prancis akhirnya memilih untuk tidak bergabung dengan grup dalam mendukung roadmap tersebut," katanya.

Pembicaraan tentang reformasi WHO dimulai sekitar empat bulan lalu. Ada hampir 20 telekonferensi antara menteri kesehatan dari negara industri G7, dan lusinan pertemuan diplomat dan pejabat lainnya.

Kesepakatan oleh G7, yang juga mencakup Jepang dan Kanada, akan memfasilitasi pembicaraan di G20 dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, di mana setiap perubahan harus disepakati dengan China, Rusia, dan pemerintah besar lainnya yang tidak termasuk dalam G7.

Tidak jelas apakah KTT G7 di AS, di mana Trump berharap para pemimpin akan mendukung road map yang diajukan, akan berjalan pada bulan September seperti yang direncanakan.

Pejabat AS belum mengatakan reformasi apa yang dicari Washington. Tetapi road map reformasi awal yang diusulkan oleh Washington dipandang oleh banyak sekutunya sebagai terlalu kritis, dengan seorang pejabat Eropa yang terlibat dalam negosiasi menggambarkannya sebagai "tidak sopan".

"Meskipun ada perubahan pada teks asli, dorongan Washington tetap tidak dapat diterima, terutama bagi Jerman," kata sumber yang akrab dengan negosiasi tersebut.

Dalam minggu-minggu sebelum gagalnya pembicaraan, para negosiator mengatakan kepada Reuters bahwa posisi semakin dekat karena Washington memperlunak pendekatannya dan negosiator Eropa mulai melihat proses reformasi sebagai cara untuk membuat WHO lebih independen dari tekanan politik.

Pemerintah Eropa juga mulai membuat pernyataan skeptis tentang WHO di depan umum, dengan menteri kesehatan Jerman mendesak WHO untuk mempercepat peninjauan atas penanganan Covid-19 .

Secara pribadi, beberapa negara Eropa telah mendukung garis yang lebih keras, dengan beberapa mengkritik kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dan apa yang mereka lihat sebagai manajemen pandemi yang dipolitisasi.

"Semua orang mengkritik Tedros," kata seorang negosiator dari negara G7 Eropa kepada Reuters.

Sumber pemerintah Jerman mengatakan: "Harus dipastikan di masa depan bahwa WHO dapat bereaksi secara netral dan berdasarkan fakta pada peristiwa kesehatan global." (Baca: Disebut China Sentris oleh Trump, Ini Respon WHO )

Tetapi pemerintah Eropa ingin membuat WHO lebih kuat, lebih didanai dan lebih mandiri, sedangkan penarikan dana AS kemungkinan akan melemahkannya. Untuk diketahui, Washington adalah kontributor tunggal terbesar, menyediakan 15% dari anggaran.

Beberapa orang Eropa melihat kritik Trump terhadap WHO sebagai upaya menjelang pemilu AS untuk mengalihkan perhatian dari penanganannya terhadap Covid-19, dan hubungan Berlin dengan Washington telah tegang oleh keputusannya pada bulan Juli untuk menarik ribuan pasukan AS dari Jerman.(Baca: AS Tarik 12.000 Tentara dari Jerman, Setengahnya Masih di Eropa )

Rencana untuk mereformasi WHO kemungkinan tidak akan ditangguhkan secara definitif, terutama jika Trump kalah dalam pemilu November mendatang. Pemerintah Eropa ingin Washington tetap menjadi anggota WHO dan pendukung keuangan. Mereka juga telah menunjukkan minat untuk meningkatkan pendanaan mereka sendiri ke badan tersebut.
(ber)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jerman Berani Menolak...
Jerman Berani Menolak Loyal pada AS: 'Sesama Anggota NATO Jangan Mendikte!'
CIA akan Rilis Berkas...
CIA akan Rilis Berkas Baru Program Pengendalian Pikiran Terkait Nazi
Usai Tewaskan 1.300...
Usai Tewaskan 1.300 Orang di Eropa, Gelombang Panas Ekstrem Kini Melanda AS
Ini Detail Cekcok Trump...
Ini Detail Cekcok Trump dan Mohammed bin Salman Gara-gara Perang Iran
Demi Cinta Bertaruh...
Demi Cinta Bertaruh Nyawa, Pasangan Ini Lamaran di Puncak Gedung Empire State 443 Meter
Pasokan Minyak Iran...
Pasokan Minyak Iran Kembali Banjiri Pasar Asia, Harga Minyak Dunia Anjlok 4%
Gempa Venezuela: Korban...
Gempa Venezuela: Korban Tewas Bertambah Jadi 1.719 Orang, Ribuan Masih Hilang
Pilu! Induk Gajah Tolak...
Pilu! Induk Gajah Tolak Tinggalkan Anaknya yang Mati Ditabrak Mobil di Jalanan
Rekomendasi
VAR Untungkan Portugal...
VAR Untungkan Portugal di Piala Dunia 2026, Kenapa Gol Injury Time Kroasia Dianulir?
OTT KPK di Sumut, 7...
OTT KPK di Sumut, 7 Orang Ditangkap Termasuk Bupati Langkat
AllianzGI Sebut Pasar...
AllianzGI Sebut Pasar Global Masih Resilien, Seleksi Aset Jadi Kunci di Tengah Ketidakpastian
Berita Terkini
Tuntut Kemerdekaan dari...
Tuntut Kemerdekaan dari China, Pria Tibet Tewas Bakar Diri di Luar Markas PBB
Iran Peringatkan AS...
Iran Peringatkan AS dan Israel Jangan Serang Prosesi Pemakaman Khamenei!
Jadi Anak Presiden dan...
Jadi Anak Presiden dan Jabat Panglima Militer, Jenderal Ini Seenaknya Menutup Media
5 Pemimpin Muslim yang...
5 Pemimpin Muslim yang Jenazahnya Diawetkan sebelum Dimakamkan, Ali Khamenei Paling Lama
Ketika Uang Negara Rp35.914...
Ketika Uang Negara Rp35.914 Triliun Lenyap Dikorupsi sejak 2003
Mojtaba Disebut Tak...
Mojtaba Disebut Tak Akan Hadiri Pemakaman Ayatollah Ali Khamenei, Ini Alasannya
Infografis
Profil Letjen TNI (Purn)...
Profil Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso yang Dikait-kaitkan dengan Tiyo UGM
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved