Israel Tak Berdaya Tangkal Operasi Badai Al-Aqsa Hamas, Intelijen AS Kecolongan?

Minggu, 08 Oktober 2023 - 08:25 WIB
loading...
Israel Tak Berdaya Tangkal...
Asap mengepul di Israel setelah anggota kelompok Hamas Palestina menyusup ke wilayah Israel selatan pada Sabtu (7/10/2023. Foto/REUTERS/Mohammed Salem
A A A
WASHINGTON - Serangan mendadak yang dilakukan kelompok perlawanan Hamas terhadap Israel menunjukkan kegagalan intelijen besar-besaran ketika pemerintah Israel tak berdaya dengan infiltrasi pejuang Hamas melintasi perbatasan selatan dan peluncuran ribuan roket.

Para ahli dan mantan pejabat intelijen mengatakan serangan Hamas melalui udara, darat, dan laut juga menimbulkan pertanyaan mengapa badan-badan intelijen Amerika Serikat (AS) tidak bisa memperkirakan hal itu akan terjadi.

Para pejabat AS mengatakan bahwa jika Israel mengetahui serangan akan segera terjadi, mereka tidak akan memberitahukannya kepada Washington.

“Kami tidak (bisa) melacak hal ini,” kata seorang pejabat senior militer AS seperti dikutip dari NBC News, Minggu (8/10/2023).

Para pejabat AS sedang mendiskusikan peningkatan pembagian intelijen dengan Israel untuk mendukung pemerintah Israel dalam menanggapi serangan Hamas, menurut seorang pejabat AS dan sumber yang mengetahui diskusi tersebut.

Informasi intelijen tambahan yang diberikan kepada Israel dapat mencakup informasi yang dikumpulkan dari drone, penyadapan, dan satelit, namun para pejabat tersebut tidak menjelaskan lebih lanjut.

Serangan gencar ini terjadi sehari setelah peringatan 50 tahun perang Arab-Israel tahun 1973 dan mengingatkan kembali konflik tersebut, ketika Israel dikepung oleh serangan terkoordinasi oleh negara-negara Arab tetangganya, yang dipimpin oleh Mesir dan Suriah.

“Ini adalah peristiwa 9/11 di Israel. Sejak tahun 1973, belum pernah terjadi kegagalan intelijen yang begitu besar di Israel,” kata Marc Polymeropoulous, yang bekerja selama 26 tahun untuk CIA, yang berspesialisasi dalam kontraterorisme, Timur Tengah dan Asia Selatan.

Baca Juga: Mengejutkan, Operasi Badai al-Aqsa ke Israel Tewaskan 100 Orang, 900 Luka

Badan intelijen Israel telah lama dipandang sebagai yang paling mumpuni di dunia, dengan serangkaian sumber daya intelijen manusia, penyadapan, dan sarana teknis lainnya yang mencakup Tepi Barat dan Gaza.

“Hampir tidak terbayangkan bagaimana mereka melewatkan hal ini,” kata Polymeropoulous.

Juga tidak jelas mengapa badan-badan intelijen AS tampaknya tidak melihat serangan itu terjadi, begitu juga dengan negara-negara sahabat Arab AS seperti Mesir, Yordania, Qatar dan Arab Saudi, katanya.

“Saya tercengang,” cetusnya.

Namun Colin Clarke, peneliti senior di The Soufan Center, sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada masalah keamanan global, mengatakan Israel harus memikul tanggung jawab utama karena gagal mengantisipasi serangan hari pada Sabtu pagi itu.

“Israel memiliki kemampuan pengumpulan dan analisis intelijen kelas dunia yang luar biasa dan akan memiliki gambaran yang jauh lebih baik tentang apa yang terjadi di negaranya sendiri. Hal ini jelas menjadi tanggung jawab Israel,” katanya.

Clarke menambahkan, masih menjadi pertanyaan terbuka apakah gejolak politik dalam negeri baru-baru ini di Israel mungkin berperan dalam kegagalan intelijen tersebut.

“Saya benar-benar terkejut atas kejadian sebesar ini yang terjadi dan Israel tidak tahu bahwa hal ini akan terjadi. Saya hanya terdiam,” kata Clarke, dari The Soufan Center.

Baca Juga: Perang Besar Hamas-Israel: Operasi Badai al-Aqsa vs Operasi Pedang Besi

“Mereka memiliki sumber di dalam kelompok-kelompok Palestina selama bertahun-tahun,” imbuhnya.

David Friedman, yang merupakan duta besar AS untuk Israel di pemerintahan Trump, mengatakan: “Selama 40 tahun atau lebih saya mengikuti Israel, saya belum pernah melihat hal ini terjadi. Saya belum pernah melihat perbatasan dilanggar dengan cara seperti ini. Biasanya, bahkan jika ada satu orang dari Gaza yang mendekati perbatasan, mereka dicegat dan dinetralisir jauh sebelum mereka dapat melakukan apa pun. Ini adalah sesuatu yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Ini tentu saja merupakan kegagalan intelijen yang besar.”

Direktur CIA William Burns dijadwalkan memberikan pidato utama pada hari Sabtu di konferensi keamanan nasional di Georgia yang diselenggarakan oleh outlet media Cipher Brief tetapi dibatalkan karena krisis di Israel, kata juru bicaranya, Tammy Thorp.

Para pejabat AS mengatakan penilaian awal menunjukkan bahwa waktu serangan Hamas terkait dengan tanda-tanda bahwa kesepakatan yang menormalisasi hubungan antara Arab Saudi dan Israel hampir tercapai. Mereka juga mengatakan bahwa peringatan 50 tahun perang Arab-Israel tahun 1973 mungkin juga menjadi salah satu faktornya.

Setelah serangan itu, baik Hamas maupun Hizbullah mengatakan serangan itu merupakan peringatan bagi negara Muslim mana pun yang ingin melakukan perdamaian dengan Israel.

Juru bicara Hamas Ibrahim Hamad mengatakan di televisi Al Jazeera bahwa serangan terhadap Israel “benar-benar sebuah pesan” kepada negara-negara Muslim yang mengupayakan normalisasi dengan Israel. Ia mendesak mereka untuk melepaskan diri dari “rasa malu yang besar” ini.

Surat kabar Israel Haaretz melaporkan bahwa para perwira dan pejabat senior militer Israel, baru-baru ini pada pekan lalu, menilai bahwa Hamas ingin menghindari konflik besar-besaran dengan Israel. NBC News tidak dapat segera memverifikasi laporan tersebut.

Saat ini, Israel – dan Amerika Serikat – disibukkan dengan krisis yang sedang terjadi, namun seiring berjalannya waktu pasti akan ada tuntutan untuk melakukan penyelidikan mengenai bagaimana Israel bisa lengah jika terjadi serangan berskala besar dan canggih seperti itu, kata para ahli.

Baca Juga: Ini Reaksi Dunia atas Perang Besar Hamas dan Israel
(ian)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Militer Israel Kembangkan...
Militer Israel Kembangkan Senjata Laser Antariksa untuk Serang Satelit
Dewan Perdamaian Ungkap...
Dewan Perdamaian Ungkap Kendaraan Taktis Pertama Tiba di Pangkalan Multinasional Dekat Gaza
Oman Tawarkan Rencana...
Oman Tawarkan Rencana Pasca-Konflik pada AS tentang Biaya Melewati Selat Hormuz
Keuskupan Agung Katolik...
Keuskupan Agung Katolik AS akan Bayar Rp7 Triliun pada Para Korban Pelecehan Seksual Anak
Pejabat AS Bertemu Hamas...
Pejabat AS Bertemu Hamas Saat Washington Sampaikan Tuntutan Gaza pada Israel
Donald Trump Raup Rp25...
Donald Trump Raup Rp25 Triliun dari Bisnis Kripto, Lampaui Pendapatan Properti yang Dibangun Puluhan Tahun
Update Gempa Venezuela:...
Update Gempa Venezuela: 1.430 Orang Tewas dan Ribuan Hilang!
Kalahkan Jerman di Piala...
Kalahkan Jerman di Piala Dunia, Paraguay Umumkan Hari Libur Nasional
Rekomendasi
Neraca Dagang RI Defisit...
Neraca Dagang RI Defisit USD1,61 Miliar, Pertama Kali sejak 2020
Dua Atlet Utusan IFeL...
Dua Atlet Utusan IFeL Bawa Indonesia Juara eFootball China Invitational 2026
Sah, 4 Marketplace Ini...
Sah, 4 Marketplace Ini Resmi Pungut Pajak PPh 22
Berita Terkini
Kesepakatan MiG untuk...
Kesepakatan MiG untuk Drone antara Polandia dan Drone Ukraina Batal, Ini Pemicu Utamanya
Sanksi Dicabut, Iran...
Sanksi Dicabut, Iran Jual Minyak 20% Lebih Mahal
Iran Bersiap Berperang...
Iran Bersiap Berperang Lagi jika MoU Tidak Dilaksanakan, AS dan Sekutunya Ketar-ketir
Jelang Pemilu, Netanyahu...
Jelang Pemilu, Netanyahu Ngotot Usir Warga Palestina dari Gaza
China akan Bawa AI ke...
China akan Bawa AI ke Setiap Ruang Kelas, dari SD hingga Universitas
Mahkamah Agung Batalkan...
Mahkamah Agung Batalkan Perintah Kewarganegaraan Berdasarkan Kelahiran Trump
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved