Pernah Dipenjara, Yusef Salaam Maju untuk Kursi Dewan Kota New York

Jum'at, 30 Juni 2023 - 20:18 WIB
loading...
Pernah Dipenjara, Yusef...
Yusef Salaam maju dalam pemilihan anggota dewan kota New York, AS. Foto/Will Waldron/Times Union
A A A
NEW YORK - Yusef Salaam pernah menjadi salah satu anak dalam sekelompok remaja yang salah didakwa, dihukum dan dipenjara karena memperkosa seorang wanita yang sedang jogging di Central Park New York.

Kini dia mengumumkan kemenangan dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi dewan kota di New York.

Keberhasilan ini memberikan dia kesempatan yang sangat baik untuk mewakili distrik Harlem sebagai pejabat terpilih.

Salaam menghadapi dua politisi veteran, anggota majelis negara bagian New York Al Taylor (65), dan Inez Dickens (73), dalam perebutan kursi yang mewakili bagian dari lingkungan Manhattan yang mayoritas berkulit hitam.

Petahana, sosialis demokrat Kristin Richard Jordan, keluar dari pencalonan pada bulan Mei tetapi tetap muncul dalam pemungutan suara.

Kontes itu berlangsung lebih dari dua dekade setelah Salaam dan empat pria lainnya, yang dulu dikenal sebagai Central Park Five, sekarang sering disebut Exonerated Five, dibebaskan dari kejahatan menggunakan bukti DNA.

Itu adalah salah satu kejahatan kota yang paling terkenal dan sarat rasial, meradang ketika Donald Trump yang saat itu paling dikenal sebagai maestro real estat flamboyan di kota itu dan kemudian menjadi presiden AS, mengeluarkan iklan surat kabar yang menyerukan hukuman mati untuk kelimanya.

Baca juga: Anggota Parlemen Rusia Bongkar Alasan Pemberontakan Wagner

Associated Press belum mengumumkan pemenang dalam pemilihan pendahuluan dan hasil pemilihan mungkin tidak pasti selama berhari-hari karena aturan pemungutan suara pilihan peringkat di New York.

Sistem itu berlaku jika tidak ada kandidat yang mengklaim lebih dari 50% dari total suara.

Tidak jelas pada Rabu pagi apakah Salaam akan tetap di atas ambang itu. Dengan sekitar 95% suara dihitung, Salaam mendapat sedikit kurang dari 51% suara, dengan Dickens tertinggal jauh di tempat kedua.

Namun Salaam menyatakan kemenangan dalam pidatonya kepada para pendukung pada Selasa malam.

“Apa yang terjadi dalam kampanye ini telah mengembalikan keyakinan saya mengetahui bahwa saya dilahirkan untuk ini,” ujar dia.

Salaam menyamakan pemenjaraan masa mudanya dengan "penculikan", tetapi dia juga menyebut hampir tujuh tahun penjara sebagai hadiah yang memungkinkan dia melihat sistem peradilan pidana yang tidak adil secara rasial dari "perut binatang".

"Aku di sini karena, Harlem, kamu percaya padaku," ungkap dia.

Dickens berjanji untuk "terus berjuang untuk apa yang dibutuhkan komunitas saya".

Jika Salaam menang di putaran pertama, itu akan menjamin kemenangan pemilihan umum di distrik yang tidak mungkin memilih seorang Republikan. Ini adalah pertama kalinya dia mencari jabatan publik.

Salaam berusia 15 tahun ketika dia ditangkap pada tahun 1989 dan dituduh, bersama dengan empat remaja kulit hitam dan coklat lainnya yakni Antron McCray, Kevin Richardson, Raymond Santana dan Korey Wise.

Mereka memukuli dan memperkosa seorang wanita kulit putih di Central Park, Trisha Meile.

Anggota kelompok tersebut menjalani hukuman antara lima dan 12 tahun penjara sebelum jaksa setuju untuk memeriksa kembali kasus tersebut.

Bukti DNA dan pengakuan akhirnya mengaitkan pemerkosa dan pembunuh berantai dengan serangan Central Park.

Hukuman itu dibatalkan pada tahun 2002 dan kota itu akhirnya menyetujui penyelesaian hukum untuk membayar orang-orang yang dibebaskan USD41 juta.
(sya)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
AS Mediasi Perundingan...
AS Mediasi Perundingan Lebanon-Israel, Bahas Kemungkinan Penarikan Zionis dari Lebanon Selatan
Wanita Ini Dihujat karena...
Wanita Ini Dihujat karena Sebut Islam Organisasi Teroris, Sekarang Malah Dapat Donasi Rp2,5 Miliar
Trump Ancam Tak Tolong...
Trump Ancam Tak Tolong Negara-negara NATO karena Tolak Bantu AS Melawan Iran
Timnas Iran Tinggalkan...
Timnas Iran Tinggalkan Surat Tulisan Tangan di Ruang Ganti Piala Dunia 2026
PM Inggris Keir Starmer...
PM Inggris Keir Starmer Umumkan Pengunduran Diri
Trump Sebut Aset Iran...
Trump Sebut Aset Iran Akan Dikendalikan AS, Ini Respons Keras Teheran
Rekomendasi
Ketua PMI DKI Jakarta:...
Ketua PMI DKI Jakarta: Relawan Muda Garda Terdepan yang Siap Go Internasional
Pegadaian CPS Pondok...
Pegadaian CPS Pondok Aren Gelar Pengobatan Gratis bagi Ratusan Masyarakat
Ferdinand: Pernyataan...
Ferdinand: Pernyataan Tiyo Soal Teror Alat Penyadap Masuk Kategori Penyebaran Hoaks
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
Infografis
5 Rudal Paling Mematikan...
5 Rudal Paling Mematikan di Dunia, Satan II Rusia Bisa Hancurkan Banyak Kota Sekaligus
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved