6 Kebijakan Kontroversial Pangeran Mohammed Bin Salman yang Buat AS Murka

Selasa, 06 Juni 2023 - 10:54 WIB
loading...
A A A
The 2022 Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) Trends in International Arms Transfers Report mencatat bahwa, dari 2018-2022, Arab Saudi adalah importir senjata terbesar kedua di dunia, menyumbang 9,8% dari impor senjata global selama periode itu, dengan AS. memasok 78% pembelian Arab Saudi.

Pieter Wezeman dari SIPRI mengungkapkan, Arab Saudi bertujuan untuk mendiversifikasi pemasok senjatanya untuk memperluas dan memperdalam jaringan politik internasionalnya guna meminimalkan efek pembatasan penjualan senjata Barat. Asia Times melaporkan pada Februari 2022 bahwa dorongan Arab Saudi untuk menemukan pemasok senjata selain dari AS mungkin didorong oleh penarikan yang menghancurkan dari Afghanistan, kesalahan kebijakan luar negeri di Irak dan Suriah, pendekatan yang berubah-ubah ke Iran, dan pergeseran kebijakan strategis dari Timur Tengah ke Pasifik. Pembelian senjata Arab Saudi dari AS juga telah dikritik karena bermotivasi politik, terlalu mahal dan tidak sesuai dengan kebutuhan strategis Saudi.

5. Opec+

6 Kebijakan Kontroversial Pangeran Mohammed Bin Salman yang Buat AS Murka

Foto/Reuters

Sejak pertengahan 2022 silam, Presiden Biden menunjukkan kemarahan kepada penguasa de facto Arab Saudi, Mohammed bin Salman. Biden gagal membujuk produsen minyak terbesar dunia itu untuk meningkatkan produksi dan mengimbangi kenaikan biaya bahan bakar akibat invasi Rusia ke Ukraina. Sebaliknya, minggu lalu, Arab Saudi dan negara-negara penghasil minyak sekutunya dalam kelompok OPEC+ – termasuk Rusia – menyetujui pengurangan pasokan yang mengejutkan yang akan mendorong harga naik.

Padahal, Biden berulang kali Biden mengancam tentang “konsekuensi” yang tidak ditentukan untuk keputusan OPEC+. AS mengancam pembekuan satu tahun pada semua penjualan senjata. Pangeran Mohammed bin Salman justru menjadikan ancaman itu sebagai peluang untuk mendekati China dan membeli senjata dari Beijing.

OPEC sebagai Organisasi Negara Pengekspor Minyak didirikan pada 1960 berusaha menaikkan harga minyak sebagai tanggapan atas pembatasan impor AS dan pengaruh besar perusahaan minyak dan gas multinasional. Saat ini, ada 13 negara anggota, dengan Arab Saudi yang paling berpengaruh. Rusia adalah bagian dari kelompok eksportir minyak yang diperluas, OPEC+, yang didirikan pada 2016 sebagai cara untuk menghadapi tantangan baru yang besar terhadap kemampuan OPEC untuk mengendalikan pasar, mulai dari munculnya AS sebagai eksportir utama hingga pertumbuhan energi terbarukan. .

"Bahkan di dalam OPEC+, akan ada beberapa keresahan," kata Dr Neil Quilliam dari thinktank Chatham House, dilansir The Guardian. “Tidak diragukan lagi akan ada kegelisahan di antara negara-negara anggota tentang kekuatan respons AS, bahkan jika para anggota setuju dengan prakiraan pasar yang membuat Arab Saudi memenangkan posisi ini. Kuwait, misalnya, yang terus menjunjung tinggi hubungannya dengan AS, tidak diragukan lagi akan terkesima dengan situasi saat ini," paparnya.

6. Mencoba Menjadi Penyeimbang


Sikap Riyadh terhadap perang di Ukraina memberikan contoh lain dari tindakan penyeimbangan ini. Pada akhir Februari 2023 , Menteri Luar Negeri Saudi Pangeran Faisal bin Farhan mengunjungi Kyiv dan menawarkan Presiden Volodymyr Zelensky paket bantuan kemanusiaan senilai USD400 juta, yang sangat menyenangkan Washington.

Tak berhenti sampai di situ. Dua minggu kemudian, Pangeran Faisal sama bertemu dengan mitranya dari Rusia, Sergei Lavrov, di Moskow dan menawarkan mediasi Saudi dalam konflik tersebut.
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Demi Moral, Turki Tolak...
Demi Moral, Turki Tolak Berlabuh Kapal Pesiar Pembawa 2.000 Penumpang LGBTQ
Seruan Bunuh Trump Menggema...
Seruan 'Bunuh Trump' Menggema dalam Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
Iran Kecam Trump karena...
Iran Kecam Trump karena Ancam Lenyapkan Semua Orang di Pemakaman Khamenei dengan Sekali Tembak
9 Fakta Diplomasi Ayat...
9 Fakta Diplomasi Ayat Suci Al-Quran pada Pemakaman Khamenei, Kirim Sinyal Bedakan Siapa Sekutu dan Musuh
6 Fakta Perayaan Ulang...
6 Fakta Perayaan Ulang Tahun AS ke-250, Bill Clinton: Masa Depan Kita Dipertanyakan
KKB Papua Tembak Mati...
KKB Papua Tembak Mati Pilot Nicholas F Goselin lalu Salahkan AS dan Indonesia, Amerika Bungkam
Pilot Amerika Serikat...
Pilot Amerika Serikat Korban Serangan KKB di Yahukimo Diduga Tewas Ditembak Jarak Dekat
Bus Jatuh ke Jurang...
Bus Jatuh ke Jurang Tewaskan Setidaknya 40 Orang di Pakistan
Kunjungi Wilayah Ukraina...
Kunjungi Wilayah Ukraina yang Direbut Rusia, Putin: Rusia Akan Menang Perang!
Rekomendasi
Puluhan Siswa SMA Belajar...
Puluhan Siswa SMA Belajar Riset, AI, dan Keberlanjutan secara Langsung
Tak Cuma Jago Melukis!...
Tak Cuma Jago Melukis! RizkyAmom Sukses Padukan Seni Lukis, Ilustrasi, dan Clay Art Jadi Konten Edukatif
Kemendikdasmen Alihkan...
Kemendikdasmen Alihkan Pengelolaan KNIU ke Kementerian Kebudayaan, Fokus Perkuat Peran UNESCO
Berita Terkini
Israel Ingin Bangun...
Israel Ingin Bangun Kekuatan Militer di Gaza, Hamas: Zionis Ingin Pecah Belah Rakyat Palestina
Turki Jadi Bagian Penting...
Turki Jadi Bagian Penting Arsitektur Keamanan NATO di Masa Depan
10 Pemakaman Pemimpin...
10 Pemakaman Pemimpin Dunia yang Dihadiri Jutaan Rakyat, Rekor Khomeini Belum Terpecahkan
Jerman Tuding China...
Jerman Tuding China Latih Pasukan Rusia, Beijing: Kita Tidak Memihak
4 Alasan Wapres Filipina...
4 Alasan Wapres Filipina Sara Duterte Terancam Dimakzulkan, Konflik dengan Presiden hingga Terjerat Skandal Korupsi
Menhan Israel Ancam...
Menhan Israel Ancam Bunuh Para Pemimpin Iran Pengganti Khamenei
Infografis
9 Keunggulan Kapal Selam...
9 Keunggulan Kapal Selam Mini Iran yang Membuat Kapal Induk AS Menjauh
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved