Uskup Senior Ukraina Mengaku Berada dalam Tahanan Rumah

Sabtu, 01 April 2023 - 23:09 WIB
loading...
Uskup Senior Ukraina Mengaku Berada dalam Tahanan Rumah
Pemimpin biara Kristen Ortodoks terbesar di Ukraina Metropolitan Pavel. Foto/wikipedia
A A A
KIEV - Pemimpin biara Kristen Ortodoks terbesar di Ukraina Metropolitan Pavel mengatakan dia berada di bawah tahanan rumah. Pengakuan itu menandai putaran terbaru dalam penumpasan agama di Kiev.

Metropolitan Pavel yang memiliki nama asli Pyotr Lebed adalah seorang uskup senior di Gereja Ortodoks Ukraina (UOC). Dia dituduh diduga memicu ketegangan agama.

Pemimpin agama yang menjabat sebagai kepala biara Kiev Pechersk Lavra sejak 1994 itu mengatakan kepada wartawan tentang penangkapannya pada Sabtu, dalam video yang dirilis jaringan berita Ukraina Vesti.

Sementara itu dinas keamanan dalam negeri Ukraina, SBU, mengklaim mereka “telah mengumpulkan bukti yang kuat” bahwa uskup “menghasut permusuhan antaragama” dan “membenarkan agresi Rusia.”

Dua dakwaan potensial membawa hukuman penjara masing-masing hingga delapan tahun dan tiga tahun.



Pada Sabtu, media lokal melaporkan selama sidang di pengadilan Kiev, Pavel mengatakan dia merasa tidak enak badan, yang menyebabkan hakim menunda sidang hingga Senin.

SBU mengatakan Pavel "menghina perasaan religius orang Ukraina" dan "mencoba menciptakan sikap bermusuhan" terhadap anggota denominasi agama lain.

Rumah pemuka agama itu juga digerebek oleh agen SBU, dengan uskup dipanggil untuk diinterogasi, menurut UOC.

Metropolitan Pavel membantah tuduhan tersebut, bersikeras bahwa dia selalu mengutuk operasi militer Moskow dan "membela tanah air saya".

Gereja Ortodoks Rusia mengecam tindakan keras SBU terhadap uskup. Vladimir Legoida, yang mengepalai departemen hubungan masyarakat Gereja, mengklaim tahanan rumah dibuat “atas tuduhan yang dibuat-buat” dan merupakan “kelanjutan alami dari pelanggaran keadilan” yang dilakukan otoritas Ukraina.

Kiev Pechersk Lavra, yang dikelola UOC, berusia 980 tahun dan telah menjadi sasaran kampanye tanpa henti oleh otoritas Ukraina dalam beberapa bulan terakhir.

Pejabat Kiev mencurigai UOC diam-diam mendukung pemerintah Rusia meskipun telah memproklamirkan kemerdekaan dari Moskow setelah dimulainya konflik pada Februari 2022.

Tindakan keras itu memuncak bulan lalu ketika Kementerian Kebudayaan Ukraina mengklaim, tanpa memberikan bukti apa pun, bahwa UOC melanggar perjanjian 2013 yang mengizinkannya mengelola biara, dengan para biksu diperintahkan untuk mengosongkan tempat itu.

Namun, UOC menolak mematuhi, menggambarkan perintah tersebut sebagai “melanggar hukum.”

Desakan Ukraina untuk mengusir para biarawan telah memicu ketegangan antara pendukung dan penentang UOC.

Pada Sabtu, media lokal membagikan cuplikan bentrokan singkat antara kedua kelompok di dekat lokasi.

Ukraina telah lama mengalami ketegangan agama, dengan sejumlah entitas yang mengklaim sebagai Gereja Ortodoks Ukraina sejati.

Dua faksi saingan utama adalah Gereja Ortodoks Ukraina dan Gereja Ortodoks Ukraina (OCU) yang didukung Kiev, yang dianggap Gereja Ortodoks Rusia bersifat skismatis.
(sya)
Baca Berita Terkait Lainnya
Copyright © 2024 SINDOnews.com
All Rights Reserved
read/ rendering in 0.0939 seconds (0.1#10.140)