Medvedev: Tak Ada yang Inginkan Perang, Namun Ancaman Konflik Nuklir Selalu Ada
Sabtu, 26 Maret 2022 - 13:18 WIB
Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan) dan mantan presiden Dmitry Medvedev. Medvedev angkat bicara soal kemungkinan pecahnya perang nuklir Rusia dan NATO. Foto/REUTERS
MOSKOW - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev mengatakan ancaman konflik nuklir selalu ada, bahkan ketika tidak ada yang menginginkan perang. Oleh karena itu, menurutnya, perlu untuk menerapkan kebijakan yang bertanggung jawab.
"Tidak ada yang menginginkan perang, apalagi perang nuklir, yang merupakan ancaman bagi keberadaan peradaban manusia," katanya kepada Sputniknews, Sabtu (26/3/2022), ketika menjawab pertanyaan tentang kemungkinan perang nuklir antara Rusia dan NATO.
"Dalam pengertian ini, para analis yang mengatakan, mungkin agak sinis, tetapi bagaimanapun, bahwa pengembangan senjata nuklir telah mencegah sejumlah besar konflik di abad ke-20 dan ke-21, benar. Ini benar. Faktanya, itulah yang terjadi," ujar Medvedev.
"Jadi jelas bahwa ancaman itu selalu ada," imbuh Medvedev.
Dia mencatat bahwa senjata nuklir NATO ditargetkan pada fasilitas di Rusia, dan bahwa hulu ledak Rusia ditujukan pada target di Eropa dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, kata Medvedev, perlu dilakukan kebijakan yang bertanggung jawab.
"Tidak ada yang menginginkan perang, apalagi perang nuklir, yang merupakan ancaman bagi keberadaan peradaban manusia," katanya kepada Sputniknews, Sabtu (26/3/2022), ketika menjawab pertanyaan tentang kemungkinan perang nuklir antara Rusia dan NATO.
"Dalam pengertian ini, para analis yang mengatakan, mungkin agak sinis, tetapi bagaimanapun, bahwa pengembangan senjata nuklir telah mencegah sejumlah besar konflik di abad ke-20 dan ke-21, benar. Ini benar. Faktanya, itulah yang terjadi," ujar Medvedev.
"Jadi jelas bahwa ancaman itu selalu ada," imbuh Medvedev.
Dia mencatat bahwa senjata nuklir NATO ditargetkan pada fasilitas di Rusia, dan bahwa hulu ledak Rusia ditujukan pada target di Eropa dan Amerika Serikat. Oleh karena itu, kata Medvedev, perlu dilakukan kebijakan yang bertanggung jawab.
Lihat Juga :