18 Demonstran Ditembak Mati, Aktivis Myanmar: Saya Nyatakan Militer Teroris!
Senin, 01 Maret 2021 - 14:17 WIB
Sebuah komite yang mewakili anggota parlemen yang memenangkan kursi dalam pemilu November mengatakan sedikitnya 26 orang tewas dalam kekerasan pada hari Minggu. Angka kematian yang berbeda ini belum bisa diverifikasi.
"Penggunaan kekuatan yang berlebihan dan pelanggaran lain yang dilakukan oleh junta militer sedang dicatat dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban," kata komite tersebut di Twitter.
Militer belum mengomentari kekerasan kemarin dan polisi serta juru bicara militer tidak menjawab panggilan telepon yang diajukan wartawan.
Dalam sebuah posting tertanggal 28 Februari, surat kabar Global New Light of Myanmar yang dikelola pemerintah memperingatkan "tindakan keras pasti akan diambil" terhadap "massa anarkis" yang tidak dapat diabaikan oleh militer.
Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik mengatakan sedikitnya 270 orang ditahan kemarin. Itu bagian dari total 1.132 orang yang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman sejak kudeta.
Beberapa saksi mata mengatakan mereka melihat orang-orang dipukuli oleh polisi sebelum dibawa pergi.
Menteri Luar Negeri AS Blinken kemarin mengatakan Amerika Serikat berdiri teguh dengan rakyat Myanmar.
"(Kami) mendorong semua negara untuk berbicara dengan satu suara untuk mendukung keinginan mereka," katanya di Twitter.
Penolakan kudeta telah muncul tidak hanya di jalan-jalan tetapi lebih luas lagi di layanan sipil, pemerintahan kota, peradilan, sektor pendidikan dan kesehatan dan media.
Aktivis di seluruh Asia mengadakan protes untuk mendukung, dengan seruan "Milk Tea Alliance" yang pertama kali menyatukan aktivis pro-demokrasi di Thailand dan Hong Kong.
"Penggunaan kekuatan yang berlebihan dan pelanggaran lain yang dilakukan oleh junta militer sedang dicatat dan mereka akan dimintai pertanggungjawaban," kata komite tersebut di Twitter.
Militer belum mengomentari kekerasan kemarin dan polisi serta juru bicara militer tidak menjawab panggilan telepon yang diajukan wartawan.
Dalam sebuah posting tertanggal 28 Februari, surat kabar Global New Light of Myanmar yang dikelola pemerintah memperingatkan "tindakan keras pasti akan diambil" terhadap "massa anarkis" yang tidak dapat diabaikan oleh militer.
Asosiasi Bantuan untuk Narapidana Politik mengatakan sedikitnya 270 orang ditahan kemarin. Itu bagian dari total 1.132 orang yang telah ditangkap, didakwa atau dijatuhi hukuman sejak kudeta.
Beberapa saksi mata mengatakan mereka melihat orang-orang dipukuli oleh polisi sebelum dibawa pergi.
Menteri Luar Negeri AS Blinken kemarin mengatakan Amerika Serikat berdiri teguh dengan rakyat Myanmar.
"(Kami) mendorong semua negara untuk berbicara dengan satu suara untuk mendukung keinginan mereka," katanya di Twitter.
Penolakan kudeta telah muncul tidak hanya di jalan-jalan tetapi lebih luas lagi di layanan sipil, pemerintahan kota, peradilan, sektor pendidikan dan kesehatan dan media.
Aktivis di seluruh Asia mengadakan protes untuk mendukung, dengan seruan "Milk Tea Alliance" yang pertama kali menyatukan aktivis pro-demokrasi di Thailand dan Hong Kong.
tulis komentar anda