Profil Mark A Gabriel, Penceramah Murtad dan Pengkritik Islam yang Klaim Lulusan Al-Azhar
Senin, 17 November 2025 - 15:32 WIB
Dalam situs webnya, Mark memamerkan lima bukunya yang mengkritik ajaran Islam. Di antaranya buku "Islam and Terrorism" yang dia klaim kekerasan dan tujuannya diajarkan di Al-Qur'an. Kemudian buku "Islam and the Jews" yang dia klaim Al-Qur'an menjelaskan tentang orang Yahudi dan bagaimana radikalisme dipraktikkan.
Dalam buku pertamanya yang ditulis pada tahun 1997, "Against the Tides in the Middle East: The true story of Mustafa, former teacher of Islamic history", Gabriel menceritakan kelahirannya pada 30 Desember 1957 dari orang tua Muslim di Mesir Hulu.
Menurutnya, nama lahirnya adalah Mustafa. Orang tuanya, pemilik pabrik pakaian yang kaya, serta enam saudara laki-laki dan satu saudara perempuannya, semuanya adalah Muslim yang taat.
Dia mengaku beralih memeluk agama Kristen Evangelis pada usia 34 tahun, atau setelah menghabiskan bertahun-tahun mendalami ajaran Islam di Universitas al-Azhar.
Dalam sebuah wawancara panjang di Tulsa World, Gabriel mengaku telah melarikan diri dari Mesir setelah ayahnya sendiri mengancam akan membunuhnya karena memeluk agama Kristen, dan pernah tinggal di Afrika Selatan sebelum akhirnya pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1999.
Dia mengaku tidak dapat menggunakan nama lahirnya lagi karena takut dibunuh oleh kelompok ekstremis Islam.
Profesor Thomas S Kidd dari Universitas Baylor, menempatkan Gabriel dalam konteks serangkaian orang yang berpindah agama dari Islam ke Kristen yang buku-buku dan pidato-pidatonya telah menarik perhatian di kalangan "Protestan Amerika konservatif". Tokoh-tokoh tersebut antara lain Ergun dan Emir Safa, penulis buku "Unveiling Islam: An Insider's Look at Muslim Life and Beliefs"; Pendeta Reza Safa, mantan Muslim Syiah kelahiran Iran dan penulis "Inside Islam; Exposing and Reaching the World of Islam"; dan Abdul Saleeb (nama pena), mantan Muslim Sufi dan penulis buku "Dark Side of Islam" (bersama RC Sproul).
Setelah merangkum detail kisah hidup Gabriel, Kidd menyebutkan bahwa "ada pertanyaan yang muncul mengenai identitas aslinya."
Perjalanan hidupnya tidak berlangsung tanpa perdebatan. Dalam salah satu episode penting, Universitas Al-Azhar secara resmi membantah klaim bahwa mereka pernah memiliki seorang dosen bernama Mustafa—nama lama yang dikaitkan dengan Mark Gabriel.
Dalam buku pertamanya yang ditulis pada tahun 1997, "Against the Tides in the Middle East: The true story of Mustafa, former teacher of Islamic history", Gabriel menceritakan kelahirannya pada 30 Desember 1957 dari orang tua Muslim di Mesir Hulu.
Menurutnya, nama lahirnya adalah Mustafa. Orang tuanya, pemilik pabrik pakaian yang kaya, serta enam saudara laki-laki dan satu saudara perempuannya, semuanya adalah Muslim yang taat.
Dia mengaku beralih memeluk agama Kristen Evangelis pada usia 34 tahun, atau setelah menghabiskan bertahun-tahun mendalami ajaran Islam di Universitas al-Azhar.
Dalam sebuah wawancara panjang di Tulsa World, Gabriel mengaku telah melarikan diri dari Mesir setelah ayahnya sendiri mengancam akan membunuhnya karena memeluk agama Kristen, dan pernah tinggal di Afrika Selatan sebelum akhirnya pindah ke Amerika Serikat pada tahun 1999.
Dia mengaku tidak dapat menggunakan nama lahirnya lagi karena takut dibunuh oleh kelompok ekstremis Islam.
Profesor Thomas S Kidd dari Universitas Baylor, menempatkan Gabriel dalam konteks serangkaian orang yang berpindah agama dari Islam ke Kristen yang buku-buku dan pidato-pidatonya telah menarik perhatian di kalangan "Protestan Amerika konservatif". Tokoh-tokoh tersebut antara lain Ergun dan Emir Safa, penulis buku "Unveiling Islam: An Insider's Look at Muslim Life and Beliefs"; Pendeta Reza Safa, mantan Muslim Syiah kelahiran Iran dan penulis "Inside Islam; Exposing and Reaching the World of Islam"; dan Abdul Saleeb (nama pena), mantan Muslim Sufi dan penulis buku "Dark Side of Islam" (bersama RC Sproul).
Setelah merangkum detail kisah hidup Gabriel, Kidd menyebutkan bahwa "ada pertanyaan yang muncul mengenai identitas aslinya."
Perjalanan hidupnya tidak berlangsung tanpa perdebatan. Dalam salah satu episode penting, Universitas Al-Azhar secara resmi membantah klaim bahwa mereka pernah memiliki seorang dosen bernama Mustafa—nama lama yang dikaitkan dengan Mark Gabriel.
Lihat Juga :