Pemberontak RSF Dituding Tutupi Skandal Genosida dengan Bakar dan Kubur Jenazah

Senin, 10 November 2025 - 17:25 WIB
Sylvain Penicaud dari Doctors Without Borders, yang dikenal dengan inisial Prancisnya MSF, yang berbicara kepada warga sipil yang melarikan diri dari el-Fasher ke kota Tawila mengatakan banyak dari mereka yang melarikan diri mengatakan mereka "ditargetkan karena warna kulit mereka".

"Bagi saya, bagian yang paling mengerikan adalah [warga sipil] diburu saat mereka berlari menyelamatkan diri; diserang hanya karena berkulit hitam," kata Penicaud.

Zaghawa, kelompok etnis dominan di el-Fasher, telah bertempur bersama tentara sejak akhir 2023.

Kelompok ini, yang awalnya netral ketika perang dimulai, bersekutu dengan militer setelah RSF melakukan pembantaian terhadap suku Masalit di ibu kota Darfur Barat, el-Geneina, yang menewaskan hingga 15.000 orang.

Hassan Osman, seorang mahasiswa dari el-Fasher, mengatakan penduduk berkulit gelap, terutama warga sipil Zaghawa, menjadi sasaran "penghinaan rasial, penghinaan, degradasi, dan kekerasan fisik dan psikologis" saat mereka melarikan diri.

"Jika kulit Anda terang, mereka mungkin akan membiarkan Anda pergi," katanya. "Ini murni etnis."
(ahm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!