Profil Changpeng Zhao, Raja Kripto yang Diampuni Donald Trump
Senin, 27 Oktober 2025 - 13:20 WIB
Changpeng Zhao atau CZ lahir di Jiangsu, China, pada 1977. Keluarganya pindah ke Kanada pada awal 1990-an setelah ayahnya, seorang profesor universitas, dikeluarkan dari kampus karena dianggap “pro-Barat”. Di Kanada, Zhao menempuh pendidikan ilmu komputer di McGill University, Montreal.
Sebelum mendirikan Binance, Zhao sempat bekerja di Tokyo Stock Exchange dan Bloomberg Tradebook, mengembangkan sistem perdagangan berkecepatan tinggi untuk saham dan derivatif. Keahliannya di bidang high-frequency trading inilah yang menjadi fondasi bagi algoritma Binance—menjadikannya salah satu bursa kripto tercepat di dunia.
Pada tahun 2017, di tengah ledakan harga Bitcoin, Zhao mendirikan Binance di Shanghai. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, platform itu mengalahkan Coinbase dan Bitfinex, menjadi bursa kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan.
Namun kesuksesan luar biasa itu datang bersama badai. Pada 2023, Departemen Kehakiman AS menuduh Zhao dan Binance melakukan pelanggaran berat terhadap aturan keuangan, termasuk membantu transaksi yang berpotensi digunakan untuk pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Pada November 2023, Zhao mengaku bersalah dalam kasus "failure to maintain an effective anti-money laundering program", dan dijatuhi hukuman empat bulan penjara oleh pengadilan federal di Seattle.
Binance pun setuju membayar denda USD4,3 miliar, salah satu denda keuangan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Meski begitu, selama masa hukuman, Zhao tetap menjadi sosok karismatik bagi jutaan penggemar kripto di seluruh dunia. Di media sosial X, tanda pagar (tagar) #FreeCZ menjadi tren global, menandakan kepercayaan besar komunitas terhadap dirinya.
Sebelum mendirikan Binance, Zhao sempat bekerja di Tokyo Stock Exchange dan Bloomberg Tradebook, mengembangkan sistem perdagangan berkecepatan tinggi untuk saham dan derivatif. Keahliannya di bidang high-frequency trading inilah yang menjadi fondasi bagi algoritma Binance—menjadikannya salah satu bursa kripto tercepat di dunia.
Pada tahun 2017, di tengah ledakan harga Bitcoin, Zhao mendirikan Binance di Shanghai. Hanya dalam waktu kurang dari setahun, platform itu mengalahkan Coinbase dan Bitfinex, menjadi bursa kripto terbesar di dunia berdasarkan volume perdagangan.
Namun kesuksesan luar biasa itu datang bersama badai. Pada 2023, Departemen Kehakiman AS menuduh Zhao dan Binance melakukan pelanggaran berat terhadap aturan keuangan, termasuk membantu transaksi yang berpotensi digunakan untuk pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Pada November 2023, Zhao mengaku bersalah dalam kasus "failure to maintain an effective anti-money laundering program", dan dijatuhi hukuman empat bulan penjara oleh pengadilan federal di Seattle.
Binance pun setuju membayar denda USD4,3 miliar, salah satu denda keuangan terbesar dalam sejarah Amerika Serikat.
Meski begitu, selama masa hukuman, Zhao tetap menjadi sosok karismatik bagi jutaan penggemar kripto di seluruh dunia. Di media sosial X, tanda pagar (tagar) #FreeCZ menjadi tren global, menandakan kepercayaan besar komunitas terhadap dirinya.
Lihat Juga :