Fantastis! 5 Negara Ini Pernah Cetak Uang Kertas Bernominal 1 Juta hingga 100 Triliun
Senin, 08 September 2025 - 12:13 WIB
Hongaria pasca-Perang Dunia II mencatat sejarah sebagai negara dengan hiperinflasi terburuk yang pernah ada.
Pada tahun 1946, pemerintah mencetak uang kertas dengan pecahan 100 triliun Pengő.
Inflasi saat itu begitu cepat sehingga harga bisa naik dua kali lipat dalam hitungan jam. Bahkan, pemerintah sempat berencana mengeluarkan pecahan 1 kuadriliun Pengő, tetapi keburu menggantinya dengan mata uang baru, Forint, yang masih dipakai hingga sekarang.
Uang kertas bernominal fantastis itu sekarang tinggal kenangan. Saat ini, nominal terbesar dari uang kertas yang dicetak Hongaria adalah 20.000 Forint.
Hongaria memang anggota blok Uni Eropa, namun ia belum mengadopsi mata uang Euro dan masih mempertahankan mata uang Forint.
♦Uang Kertas Bernominal Terbesar: 500.000.000.000 (500 miliar) Dinar.
Pada dekade 1990-an, Yugoslavia diguncang perang saudara dan embargo internasional. Perekonomian runtuh total.
Pada tahun 1993 hingga 1994, pemerintah mencetak uang kertas dengan pecahan terbesar, yakni 500 miliar dinar.
Ironisnya, uang itu tak ada nilainya keesokan harinya. Rakyat negara tersebut membawa tas penuh uang hanya untuk membeli sekilo roti.
Hiperinflasi Yugoslavia bahkan mencapai 313 juta persen per bulan, salah satu yang terparah dalam sejarah.
Senasib dengan uang kertasnya, negara Yugoslavia juga pada akhirnya tamat karena terpecah menjadi banyak negara.
Yugoslavia awalnya dibentuk setelah Perang Dunia I tahun 1918 sebagai Kerajaan Serb, Kroat, dan Slovene. Ia lalu berubah nama menjadi Kerajaan Yugoslavia pada 1929.
Setelah Perang Dunia II, ia menjadi Republik Federal Sosialis Yugoslavia di bawah kepemimpinan Josip Broz Tito (1945–1980).
Setelah Tito meninggal dan krisis politik-ekonomi melanda, muncul konflik etnis dan nasionalisme yang memicu perang pada awal 1990-an.
Pada tahun 1946, pemerintah mencetak uang kertas dengan pecahan 100 triliun Pengő.
Inflasi saat itu begitu cepat sehingga harga bisa naik dua kali lipat dalam hitungan jam. Bahkan, pemerintah sempat berencana mengeluarkan pecahan 1 kuadriliun Pengő, tetapi keburu menggantinya dengan mata uang baru, Forint, yang masih dipakai hingga sekarang.
Uang kertas bernominal fantastis itu sekarang tinggal kenangan. Saat ini, nominal terbesar dari uang kertas yang dicetak Hongaria adalah 20.000 Forint.
Hongaria memang anggota blok Uni Eropa, namun ia belum mengadopsi mata uang Euro dan masih mempertahankan mata uang Forint.
3. Yugoslavia
♦Uang Kertas Bernominal Terbesar: 500.000.000.000 (500 miliar) Dinar.Pada dekade 1990-an, Yugoslavia diguncang perang saudara dan embargo internasional. Perekonomian runtuh total.
Pada tahun 1993 hingga 1994, pemerintah mencetak uang kertas dengan pecahan terbesar, yakni 500 miliar dinar.
Ironisnya, uang itu tak ada nilainya keesokan harinya. Rakyat negara tersebut membawa tas penuh uang hanya untuk membeli sekilo roti.
Hiperinflasi Yugoslavia bahkan mencapai 313 juta persen per bulan, salah satu yang terparah dalam sejarah.
Senasib dengan uang kertasnya, negara Yugoslavia juga pada akhirnya tamat karena terpecah menjadi banyak negara.
Yugoslavia awalnya dibentuk setelah Perang Dunia I tahun 1918 sebagai Kerajaan Serb, Kroat, dan Slovene. Ia lalu berubah nama menjadi Kerajaan Yugoslavia pada 1929.
Setelah Perang Dunia II, ia menjadi Republik Federal Sosialis Yugoslavia di bawah kepemimpinan Josip Broz Tito (1945–1980).
Setelah Tito meninggal dan krisis politik-ekonomi melanda, muncul konflik etnis dan nasionalisme yang memicu perang pada awal 1990-an.
Lihat Juga :