Trump Hanya Bisa Gigit Jari ketika Musuh-musuh AS Disatukan oleh China

Rabu, 03 September 2025 - 17:35 WIB
Namun, berkumpulnya kekuatan-kekuatan anti-Barat di Tianjin dan Beijing lebih dari sekadar trolling. Ini merupakan peringatan dini bahwa kebijakan periode kedua Trump yang didasarkan pada pemaksaan tarif, intimidasi terhadap negara-negara yang lebih kecil, dan nasionalisme "America First" mungkin menjadi bumerang.

"China memanfaatkan kesalahan atau kekeliruan yang (dibuat) AS," ujar Jackie S.H. Wong, asisten profesor studi internasional di Universitas Amerika Sharjah, kepada Becky Anderson dari CNN dalam acara "Connect the World" hari Selasa.

Beberapa pernyataan yang mengkhawatirkan tentang China dan Rusia yang membangun poros perlawanan baru terhadap AS terlalu berlebihan. Negara-negara yang diwakili dalam KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai di kota Tianjin, China utara, tidak memiliki perjanjian pertahanan formal atau kedaulatan ekonomi bersama yang sebanding dengan kelompok-kelompok seperti NATO atau Uni Eropa.

Ketegangan teritorial secara berkala terjadi antara China dan India. Moskow mungkin membutuhkan bantuan China dalam berperang di Ukraina, tetapi Kremlin masih membiasakan diri menjadi negara adidaya junior. Meskipun berada di bawah kendali Partai Komunis yang keras, China menderita tekanan politik dan ekonomi internal, yang ditunjukkan oleh pembersihan rutin para pejabat tinggi dan petinggi militer yang dilakukan Xi.

Namun, perayaan beberapa hari terakhir ini merupakan bagian dari upaya China yang lebih luas untuk menunjukkan kekuatannya yang sedang bangkit dan menguji afiliasi serta sistem global alternatif seiring upayanya untuk mengungguli Barat. Dengan mengumpulkan para pemimpin dari Asia, Timur Tengah, dan negara-negara lain, China menunjukkan kapasitas sebuah blok untuk menggagalkan kekuatan global AS di berbagai bidang.

Seorang pemimpin militer AS terkemuka pada hari Selasa meremehkan signifikansi peristiwa di China.

“Negara-negara seperti China, Korea Utara, Rusia, dan negara-negara lain melakukan peristiwa semacam ini. Tentu saja ada fokus besar pada penyampaian pesan,” ujar Jenderal Kevin Schneider, komandan Angkatan Udara Pasifik AS, dalam sebuah diskusi daring pada hari Selasa.

“Tetapi saya pikir inti dari semua ini adalah kami tidak gentar,” kata Schneider.

Banyak langkah yang diambil Trump untuk menunjukkan kekuatan AS justru melemahkannya.

Dengan menghadapi Beijing dalam serangan perdagangan besar-besaran, Trump memilih satu negara yang siap menanggung kerugian ekonomi untuk merugikan AS. Kini, Trump menyadari bahwa Beijing memiliki, ya, kartu truf: kendali atas sebagian besar logam tanah jarang yang dibutuhkan AS untuk menjalankan industri teknologi dan aplikasi militernya. Kegagalan Trump untuk memaksa Beijing mundur justru memperkuat kesan bahwa Beijing siap menantang kekuatan Amerika — dan menarik para pemimpin asing ke Beijing.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!