Nowruz dan Identitas Uighur: Tradisi yang Bertahan di Tengah Penindasan

Selasa, 25 Maret 2025 - 10:23 WIB
Cendekiawan Uighur dan Turki klasik seperti Mahmud al-Kashgari, Yusuf Khass Hajib, dan Alisher Navoi secara khusus menyebutkan Nowruz dalam karya-karya mereka, menggambarkan hari raya tersebut dengan bahasa yang hidup, dan menulis banyak puisi tentangnya.

Dengan demikian, selama ribuan tahun sejarah, orang-orang Uighur telah menciptakan pencapaian budaya yang luar biasa dalam bahasa dan penceritaan epik, yang memperkaya khazanah peradaban dunia. Untuk melestarikan warisan budaya ini, mengembangkannya lebih jauh, dan mewariskannya kepada generasi mendatang, orang-orang Uighur telah merayakan Nowruz dalam berbagai bentuk.



Sementara itu sejak 2017, pemerintah China telah meningkatkan genosida di Turkestan Timur ke tingkat ekstrem, melarang semua aspek budaya dan tradisi Uighur. Di bawah kebijakan seperti "Memberi Nutrisi pada Turkestan Timur dengan Budaya," dan menegakkan "Identitas Tionghoa," otoritas China telah memaksa orang Uighur untuk mengadopsi budaya China dan merayakan hari raya Tionghoa, menerapkan kampanye sinifikasi berskala besar.

Dalam situasi ini, di mana budaya dan tradisi Uighur ditekan di Turkestan Timur, tanggung jawab untuk melindungi budaya Uighur, mengajarkannya kepada anak-anak mereka, dan mewariskannya dari generasi ke generasi, telah jatuh kepada para diaspora Uighur.

Jadi, apa pentingnya merayakan Nowruz bagi kalangan diaspora Uighur? Budaya berarti keberadaan. China tahu betul bahwa Beijing tidak dapat membasmi Uighur melalui penghancuran fisik, melainkan harus terlebih dahulu menghancurkan semangat dan jiwanya.

Oleh karena itu, di samping keyakinan Uighur, China telah merancang rencana untuk memusnahkan budaya Uighur, yang bertujuan untuk melakukan asimilasi penuh. China telah menyatakan Uighur sebagai "bangsa kelaparan budaya dan hampa," yang mengeklaim untuk "memberi makan" Uighur dengan budaya serta tradisi China, menggantikan Nowruz dengan hari libur seperti Tahun Baru Imlek.

Budaya dan Tradisi Sejarah Uighur



Sementara China berusaha untuk memberantas budaya Uighur, para diasporanya yang tinggal di seluruh dunia bebas merayakan hari libur budaya tradisionalnya, Nowruz, untuk melestarikan warisan dan menghidupkan kembali semangat Uighur.

Di sejumlah negara, para Uighur mengenakan pakaian tradisional, berkumpul bersama, berbincang satu sama lain, menikmati masakan tradisional, mendengarkan musik dan pertunjukan seniman, menemukan pelipur lara dalam kerinduan satu sama lain.
Halaman :
Lihat Juga :
tulis komentar anda
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More