Rezim Assad dan Pemberontak Suriah Perang, Hamas Bela Siapa?
Jum'at, 06 Desember 2024 - 08:13 WIB
Perang saudara Suriah antara pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad dan pasukan pemberontak kembali pecah, Hamas memilih netral. Foto/Abdulfettah Hüseyin/Anadolu via Al Jazeera
GAZA - Iran bersama dua sekutunya, Hizbullah Lebanon dan Houthi Yaman, telah mendukung Hamas selama perangnya melawan Israel lebih dari setahun terakhir.
Kini, Iran dan Hizbullah menyatakan dukungannya untuk rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad yang kembali berperang melawan pasukan pemberontak. Lantas, bagaimana sikap Hamas terhadap perang saudara Suriah?
Juru bicara yang juga anggota Biro Politik Hamas, Basem Naim, mengatakan kepada Newsweek bahwa kelompok perlawanan Palestina tersebut tidak akan memihak dalam perang saudara di Suriah.
Baca Juga: Serangan Berlanjut, Kota Hama Jatuh ke Tangan Pemberontak Suriah
"Itu bukan pertempuran kami," kata Naim.
"Pertempuran kami adalah melawan pendudukan Zionis, dan tujuan utama kami adalah membebaskan negara kami dari kolonialisme," katanya lagi, yang dilansir Newsweek, Jumat (6/12/2024).
"Kami mendoakan yang terbaik bagi Suriah, stabilitas dan kemakmuran, dan agar masalah internal diselesaikan melalui dialog dan atas dasar kemitraan nasional," imbuh Naim.
"Karena satu-satunya penerima manfaat dari pertempuran dan ketidakstabilan internal adalah Zionis," paparnya.
Kini, Iran dan Hizbullah menyatakan dukungannya untuk rezim Presiden Suriah Bashar al-Assad yang kembali berperang melawan pasukan pemberontak. Lantas, bagaimana sikap Hamas terhadap perang saudara Suriah?
Juru bicara yang juga anggota Biro Politik Hamas, Basem Naim, mengatakan kepada Newsweek bahwa kelompok perlawanan Palestina tersebut tidak akan memihak dalam perang saudara di Suriah.
Baca Juga: Serangan Berlanjut, Kota Hama Jatuh ke Tangan Pemberontak Suriah
"Itu bukan pertempuran kami," kata Naim.
"Pertempuran kami adalah melawan pendudukan Zionis, dan tujuan utama kami adalah membebaskan negara kami dari kolonialisme," katanya lagi, yang dilansir Newsweek, Jumat (6/12/2024).
"Kami mendoakan yang terbaik bagi Suriah, stabilitas dan kemakmuran, dan agar masalah internal diselesaikan melalui dialog dan atas dasar kemitraan nasional," imbuh Naim.
"Karena satu-satunya penerima manfaat dari pertempuran dan ketidakstabilan internal adalah Zionis," paparnya.
Lihat Juga :