China Target 2030 Jadi Superpower AI
Selasa, 25 Agustus 2020 - 11:12 WIB
Tahun ini, China akan memangkas anggaran untuk ilmu pengetahuan dan teknologi sebesar 9% akibat wabah virus korona Covid-19. Namun, pemerintah daerah akan memberikan bantuan dengan meningkatkan investasi guna menghindari kemunduran.
Inovasi teknologi telah menyumbangkan sekitar 60% terhadap pertumbuhan ekonomi China lada tahun lalu. Berdasarkan data Govini, Antara 1997-2017, peran China dalam anggaran penelitian global naik dari 3% menjadi 27%. (Baca juga: Konflik Belarusia Bisa Memicu Perang Eropa)
Timothy Heath, pengamat internasional dari Rand Corporation, tak menyangkal China telah mengalami kemajuan teknologi yang sangat pesat di dunia militer. Namun, dia skeptis militer China telah melampaui militer AS.
"Teknologi akan dapat memperkuat tentara China dan mungkin menjadikannya sebagai lawan terkuat AS," kata Heath. "Strategi AS saat ini ialah meningkatkan kualitas dan teknologi superior sehingga dapat mengalahkan teknologi kuantitatif yang inferior," tambahnya.
Heath melanjutkan, jika China mampu menciptakan kualitas dan superioritas teknologi yang sama dengan AS, China kemungkinan akan sulit dikalahkan. Apalagi, China memiliki titik operasi militer yang luas di Asia, termasuk di Laut China Selatan.
Pengamat internasional lainnya dari Australian Strategic Policy Institute, Malcolm Davis, juga mengatakan China telah berhasil mendekati AS dalam teknologi militer. "Di banyak area, China sejajar dengan AS dan di beberapa area, China lebih unggul dari AS," kata Davis.
Davis menambahkan China telah berhasil menciptakan jaringan ekstensif di pusat pertahanan sehingga tentara China tidak pernah ketinggalan informasi atau intelijen. Informasi itu berperan sangat penting dalam pengaturan strategi perang. (Baca juga: Biar Enggak Resesi, Sri Mulyani Kebut Belanja Pemerintah)
"Selain itu, China unggul dalam jumlah. Angkatan Laut China lebih banyak dibandingkan Angkatan Laut AS. Kualitas beberapa peralatannya juga tidak begitu jauh tertinggal," kata Davis. "Tak ada jaminan AS dan sekutunya mampu mengalahkan China," tambahnya.
Inovasi teknologi telah menyumbangkan sekitar 60% terhadap pertumbuhan ekonomi China lada tahun lalu. Berdasarkan data Govini, Antara 1997-2017, peran China dalam anggaran penelitian global naik dari 3% menjadi 27%. (Baca juga: Konflik Belarusia Bisa Memicu Perang Eropa)
Timothy Heath, pengamat internasional dari Rand Corporation, tak menyangkal China telah mengalami kemajuan teknologi yang sangat pesat di dunia militer. Namun, dia skeptis militer China telah melampaui militer AS.
"Teknologi akan dapat memperkuat tentara China dan mungkin menjadikannya sebagai lawan terkuat AS," kata Heath. "Strategi AS saat ini ialah meningkatkan kualitas dan teknologi superior sehingga dapat mengalahkan teknologi kuantitatif yang inferior," tambahnya.
Heath melanjutkan, jika China mampu menciptakan kualitas dan superioritas teknologi yang sama dengan AS, China kemungkinan akan sulit dikalahkan. Apalagi, China memiliki titik operasi militer yang luas di Asia, termasuk di Laut China Selatan.
Pengamat internasional lainnya dari Australian Strategic Policy Institute, Malcolm Davis, juga mengatakan China telah berhasil mendekati AS dalam teknologi militer. "Di banyak area, China sejajar dengan AS dan di beberapa area, China lebih unggul dari AS," kata Davis.
Davis menambahkan China telah berhasil menciptakan jaringan ekstensif di pusat pertahanan sehingga tentara China tidak pernah ketinggalan informasi atau intelijen. Informasi itu berperan sangat penting dalam pengaturan strategi perang. (Baca juga: Biar Enggak Resesi, Sri Mulyani Kebut Belanja Pemerintah)
"Selain itu, China unggul dalam jumlah. Angkatan Laut China lebih banyak dibandingkan Angkatan Laut AS. Kualitas beberapa peralatannya juga tidak begitu jauh tertinggal," kata Davis. "Tak ada jaminan AS dan sekutunya mampu mengalahkan China," tambahnya.
Lihat Juga :