Coba Atasi Ketertinggalan dari Rusia, Ukraina Ciptakan 3 Drone Perang berteknologi AI

Kamis, 18 Juli 2024 - 23:23 WIB
Selain meningkatkan operasi, Kupriienko mengatakan otomatisasi akan membantu melindungi pilot drone yang beroperasi dekat garis depan dan merupakan target prioritas tembakan musuh.

"Teknologi Swarmer masih dalam pengembangan dan baru diujicobakan di medan perang secara eksperimental," tambahnya.

Samuel Bendett, Adjunct Senior Fellow di Center for a New American Security, mengatakan sistem kendali drone AI kemungkinan akan membutuhkan manusia untuk mencegah sistem membuat kesalahan dalam pemilihan target.

Ada kekhawatiran luas mengenai etika senjata yang mengecualikan penilaian manusia. Sebuah makalah penelitian Parlemen Eropa pada tahun 2020 memperingatkan bahwa sistem seperti itu dapat melakukan pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional dan menurunkan ambang batas perang.

AI sudah digunakan dalam beberapa serangan drone jarak jauh Ukraina yang menargetkan fasilitas militer dan kilang minyak ratusan kilometer di wilayah Rusia.

Seorang pejabat Ukraina, yang berbicara secara anonim, mengatakan kepada Reuters bahwa serangan tersebut terkadang melibatkan sekitar 20 drone.

Drone inti terbang menuju sasaran, namun tugas drone lain adalah menghancurkan atau mengalihkan perhatian pertahanan udara di sepanjang perjalanan. Untuk melakukan hal ini, mereka menggunakan bentuk AI dengan pengawasan manusia untuk membantu menemukan target atau ancaman dan merencanakan kemungkinan rute, tambah sumber tersebut.

Kebutuhan akan drone yang dilengkapi AI menjadi semakin mendesak karena kedua belah pihak meluncurkan sistem Electronic Warfare (EW) yang mengganggu sinyal antara pilot dan drone.

Baca Juga: 8 Misteri Penembak Trump, dari Persiapan Matang dan Orang yang Menyenangkan

3. Drone FPV



Foto/Reuters

Drone FPV (first person view) yang kecil dan murah, yang menjadi cara utama bagi kedua belah pihak untuk menyerang kendaraan musuh pada tahun 2023, mengalami penurunan tingkat serangan seiring dengan meningkatnya jamming.

“Kami sudah bekerja dengan konsep bahwa dalam waktu dekat, tidak akan ada koneksi di garis depan” antara pilot dan UAV, kata Max Makarchuk, pimpinan AI untuk Brave1, sebuah akselerator teknologi pertahanan yang didirikan oleh pemerintah Ukraina.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!