Karier Politik Saeed Jalili, Capres Ultrakonservatif Iran yang Maju ke Putaran Kedua

Senin, 01 Juli 2024 - 16:45 WIB
Sekitar 2005, Ahmadinejad naik sebagai Presiden Iran. Ia kemudian mengangkat Jalili sebagai wakil menteri luar negeri.

Pada perannya, relasi Jalili semakin luas. Para pengamat bahkan menyebut Jalili ini punya tugas rahasia untuk memastikan bawahan Ahmadinejad mengikuti arahan pemimpinnya.

Sekitar tahun 2007, Jalili ditunjuk menjadi Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC). Bersama tugasnya, ia harus memastikan pembuatan kebijakan sudah sejalan dengan kepentingan Khamenei.

Pada waktu berdekatan, Jalili juga dipercaya menjadi kepala negosiator nuklir Iran. Dalam kapasitasnya sebagai perunding nuklir, ia mengambil sikap tegas dalam mendukung program nuklir Iran.

Meski perannya gagal dalam mengamankan keringanan sanksi, pendekatannya justru memberi kredibilitas politik. Setelahnya, nama Jalili pun semakin dikenal luas.

Berbagai pengalaman dalam pemerintahan Ahmadinejad memberi Jalili reputasi yang lebih tinggi. Para pengamat bahkan mulai menganggapnya sebagai calon terdepan dalam pemilihan presiden 2013.

Akan tetapi, pihak yang kontra dengannya mulai menyerang Jalili karena rekam jejak buruk dalam negosiasi nuklir. Pada akhirnya, ia harus gagal dalam pemilihan dan berada di tempat ketiga.

Tak lama setelah pemilu, Khamenei mengangkat Jalili ke Dewan Kemanfaatan. Hal ini menjadikannya agar tetap terhubung dengan relevan secara politik.

Selanjutnya, Jalili membentuk “pemerintahan bayangan” bersama kelompok garis keras lain yang memiliki koneksi dengan Khamenei dan IRGC.

Menjelang pemilihan presiden tahun 2017, Jalili menolak menolak menjadi kandidat dengan alasan perlunya faksi garis keras melakukan konsolidasi di belakang Raisi.

Selama masa jabatan kedua Presiden Rouhani, pengaruh “pemerintahan bayangan” semakin meluas. Menjelang akhir masa jabatan kedua Rouhani, Jalili mengokohkan posisinya sebagai salah satu pendukung garis keras Khamenei yang ditunjukkan dengan kesetiaan ideologis yang kuat.

Berdasarkan profilnya yang sudah dibangun, Jalili kembali mencalonkan diri sebagai presiden pada pemilihan 2021.

Namun, ia dan kandidat garis keras lainnya mengundurkan diri untuk mendukung Raisi sebelum pemungutan suara karena arahan Khamenei dan IRGC.

Setelah kemenangan Raisi, Jalili tetap menjadi kekuatan penting dalam pemerintahan baru. Terbaru, insiden kematian Raisi yang tak terduga memberi Jalili kesempatan mengamankan kursi kepresidenan.

Setelah mendaftar dan mengklaim dukungan Khamenei, Jalili berhasil masuk putaran kedua Pilpres Iran 2024. Ia nantinya akan beradu dengan capres reformis Masoud Pezeshkian.

Itulah sedikit ulasan mengenai karier politik Saeed Jalili, capres ultra konservatif Iran yang masuk putaran kedua.
Halaman :
tulis komentar anda
Follow
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Video Rekomendasi
Berita Terkait
Rekomendasi
Terpopuler
Berita Terkini More