Tragisnya Nasib 43 Guru dan Siswa di Meksiko
Minggu, 09 November 2014 - 13:03 WIB
Tragisnya Nasib 43 Guru dan Siswa di Meksiko
A
A
A
IGUALA - Nasib 43 mahasiswa dan guru yang hilang sejak akhir September lalu di Iguala, Meksiko akhirnya mulai terungkap. Berdasarkan keterangan dari beberapa anggota geng Guerreros Unidos, para korban dikabarkan dibakar hingga menjadi abu.
Melansir Al Jazeera, Minggu (9/11/2014), berdasarkan kesaksian dari tiga anggota geng Guerreros Unidos, para korban diserahkan oleh polisi setempat kepada mereka di wilayah perbatasan antara Iguala dan Cocula.
“Dalam pengakuan para tersangka, mereka membunuh para korban di sebuah wilayah perbatasan Iguala dan Cocula, para korban terlebih dahulu dibunuh sebelum akhirnya dibakar selama 14 jam hingga menjadi abu,” ungkap Jaksa Agung Meksiko, Jesus Murillo Karam.
Namun, laporan ini nampaknya tidak diterima begitu saja oleh keluarga dan kerabat korban. Keluarga dan kerabat yang marah dikabarkan turun ke jalan dan melakukan aksi protes di depan kantor kepolisian pusat Meksiko.
Para orang tua dan kerabat korban menyebut pemerintah telah menyebarkan kebohongan dengan memberitahukan laporan ini.
“Kami tidak akan percaya bahwa kerabat dan keluarga kami telah tewas sebelum pemerintah memberikan kami bukti yang kongkrit,” ungkap Meliton Ortega, paman dari seorang mahasiswa yang hilang.
Melansir Al Jazeera, Minggu (9/11/2014), berdasarkan kesaksian dari tiga anggota geng Guerreros Unidos, para korban diserahkan oleh polisi setempat kepada mereka di wilayah perbatasan antara Iguala dan Cocula.
“Dalam pengakuan para tersangka, mereka membunuh para korban di sebuah wilayah perbatasan Iguala dan Cocula, para korban terlebih dahulu dibunuh sebelum akhirnya dibakar selama 14 jam hingga menjadi abu,” ungkap Jaksa Agung Meksiko, Jesus Murillo Karam.
Namun, laporan ini nampaknya tidak diterima begitu saja oleh keluarga dan kerabat korban. Keluarga dan kerabat yang marah dikabarkan turun ke jalan dan melakukan aksi protes di depan kantor kepolisian pusat Meksiko.
Para orang tua dan kerabat korban menyebut pemerintah telah menyebarkan kebohongan dengan memberitahukan laporan ini.
“Kami tidak akan percaya bahwa kerabat dan keluarga kami telah tewas sebelum pemerintah memberikan kami bukti yang kongkrit,” ungkap Meliton Ortega, paman dari seorang mahasiswa yang hilang.
(esn)