Presiden China Puji Keberanian Pemimpin Hong Kong pada Masa Sulit
Selasa, 17 Desember 2019 - 01:01 WIB
Presiden China Puji Keberanian Pemimpin Hong Kong pada Masa Sulit
A
A
A
BEIJING - Presiden China Xi Jinping memberikan dukungan pada Pemimpin Hong Kong Carrie Lam. Xi memuji keberanian Lam dalam memimpin Hong Kong di masa paling sulit setelah beberapa bulan unjuk rasa anti-pemerintah.
Komentar Xi muncul setelah kepolisian Hong Kong menembakkan gas air mata pada para demonstran di Hong Kong.
"Situasi di Hong Kong pada 2019 merupakan yang paling kompleks dan sulit sejak kota itu kembali pada ibu pertiwi," papar Xi dalam komentar singkat sebelum pertemuan tertutup dengan Lam di Beijing.
Xi menambahkan, "Pemerintah pusat sepenuhnya mengakui keberanian dan asumsi tanggung jawab yang Anda tunjukkan dalam masa luar biasa ini di Hong Kong."
Hong Kong dikembalikan ke China oleh Inggris pada 1997 dengan janji otonomi luas dengan formula satu negara dua sistem, termasuk memberi kebebasan pers dan lembaga yudisial independen.
Media Hong Kong memperkirakan perundingan Lam dan Xi akan menghasilkan arah baru dalam krisis itu, termasuk kemungkinan perombakan kabinet.
Xi tidak memberikan rincian tapi menegaskan kembali dukungannya pada Lam meski ada perkiraan sebelumnya bahwa Lam bisa jadi diganti.
Xi juga menambahkan, "China mendukung kepolisian Hong Kong dalam menegakkan hukum secara tegas." Xi juga menjelaskan, Lam akan terus mempertahankan prinsip satu negara dua sistem.
Lam sebelumnya telah bertemu Perdana Menteri China Li Keqiang yang menyatakan Hong Kong belum keluar dari dilema setelah beberapa bulan unjuk rasa.
Komentar Xi muncul setelah kepolisian Hong Kong menembakkan gas air mata pada para demonstran di Hong Kong.
"Situasi di Hong Kong pada 2019 merupakan yang paling kompleks dan sulit sejak kota itu kembali pada ibu pertiwi," papar Xi dalam komentar singkat sebelum pertemuan tertutup dengan Lam di Beijing.
Xi menambahkan, "Pemerintah pusat sepenuhnya mengakui keberanian dan asumsi tanggung jawab yang Anda tunjukkan dalam masa luar biasa ini di Hong Kong."
Hong Kong dikembalikan ke China oleh Inggris pada 1997 dengan janji otonomi luas dengan formula satu negara dua sistem, termasuk memberi kebebasan pers dan lembaga yudisial independen.
Media Hong Kong memperkirakan perundingan Lam dan Xi akan menghasilkan arah baru dalam krisis itu, termasuk kemungkinan perombakan kabinet.
Xi tidak memberikan rincian tapi menegaskan kembali dukungannya pada Lam meski ada perkiraan sebelumnya bahwa Lam bisa jadi diganti.
Xi juga menambahkan, "China mendukung kepolisian Hong Kong dalam menegakkan hukum secara tegas." Xi juga menjelaskan, Lam akan terus mempertahankan prinsip satu negara dua sistem.
Lam sebelumnya telah bertemu Perdana Menteri China Li Keqiang yang menyatakan Hong Kong belum keluar dari dilema setelah beberapa bulan unjuk rasa.
(sfn)