Pengacara Bantah Assange Gunakan Kedubes Ekuador sebagai Pusat Spionase

Senin, 15 April 2019 - 20:53 WIB
Pengacara Bantah Assange...
Pengacara Bantah Assange Gunakan Kedubes Ekuador sebagai Pusat Spionase
A A A
LONDON - Jennifer Robinson, pengacara dari pendiri WikiLeaks, Julian Assange membantah klaim yang dibuat oleh Presiden Ekuador, Lenin Moreno. Assange, menurut Morena, telah berulang kali melanggar syarat suaka dan mencoba menggunakan kedutaan Ekuador di London, Inggris, sebagai pusat spionase.

Robinson, seperti dilansir PressTV pada Senin (15/4), mengatakan bahwa Ekuador telah mengarang klaim tentang Assange, untuk membenarkan keputusan mereka menyerahkannya kepada polisi Inggris.

"Ekuador telah membuat beberapa tuduhan yang sangat keterlaluan selama beberapa hari terakhir untuk membenarkan tindakan yang melanggar hukum dan luar biasa yang memungkinkan polisi Inggris masuk ke dalam kedutaan," kata Robinson.

Sebelumnya diwartakan, Moreno mengatakan ia menyesal karena Assange diduga menggunakaan kedutaan negaranya untuk ikut campur dalam demokrasi di negara lain. "Setiap upaya untuk mengacaukan (demokrasi) adalah tindakan tercela bagi Ekuador, karena kita adalah negara berdaulat dan menghormati politik masing-masing negara," ucapnya.

“Sangat disayangkan bahwa, dari wilayah kami dan dengan izin dari pemerintah sebelumnya, fasilitas telah disediakan dalam kedutaan Ekuador di London untuk ikut campur dalam proses negara lain. Kami tidak bisa membiarkan rumah kami, rumah yang membuka pintunya, menjadi pusat mata-mata. Kegiatan ini melanggar syarat-syarat pemberian suaka. Keputusan kami tidak sewenang-wenang tetapi didasarkan pada hukum internasional,” sambungnya.

Moreno menuduh Assange telah berulang kali mencampuri urusan dalam negeri negara lain, merujuk pada publikasi dokumen Vatikan oleh WikiLeaks pada Januari 2019 sebagai contoh terbaru. Ditambahkan oleh Moreno bahwa segala bentuk koeksistensi dengan Assange di kedutaan membuat sakit kepala.

Dalam kesempatan itu, Moreno juga menegaskan jika keputusan negaranya untuk mencabut suaka bagi Assange tidak mendapat tekanan dari negara lain.

“Dia adalah seorang tamu yang ditawari perawatan yang bermartabat, tetapi dia tidak memiliki prinsip dasar timbal balik untuk negara yang tahu bagaimana menyambutnya, atau kesediaan untuk menerima protokol (dari) negara yang menyambutnya. Penarikan suaka terjadi dengan sangat ketat pada hukum internasional. Itu adalah keputusan yang berdaulat. Kami tidak membuat keputusan berdasarkan tekanan eksternal dari negara mana pun,” tegas Moreno.
(esn)
Berita Terkait
Takut Kabur, Pengadilan...
Takut Kabur, Pengadilan London Tolak Jaminan untuk Pembebasan Pendiri Wikileaks
AS Menang Banding, Julian...
AS Menang Banding, Julian Assange Terancam Diekstradisi
Pendiri WikiLeaks Assange...
Pendiri WikiLeaks Assange Diizinkan Menikah di Penjara Inggris
Pendiri WikiLeaks Julian...
Pendiri WikiLeaks Julian Assange Dibebaskan dari Penjara Inggris
Penolakan Ekstradisi...
Penolakan Ekstradisi Assange Jadi Pukulan bagi AS
CIA Ingin Habisi Assange,...
CIA Ingin Habisi Assange, Siap Tempur dengan Agen Rusia di Jalanan London
Berita Terkini
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
1 jam yang lalu
Berseteru dengan PM...
Berseteru dengan PM Starmer, Menhan Inggris John Healey Mundur
2 jam yang lalu
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
2 jam yang lalu
Trump Klaim AS Telah...
Trump Klaim AS Telah Bikin Kesepakatan Hebat dengan Iran, Teheran Bilang Belum!
3 jam yang lalu
Ini 15 Negara yang Mampu...
Ini 15 Negara yang Mampu Memproduksi Jet Tempur Sendiri, Indonesia Kapan?
3 jam yang lalu
Eks Kepala AL Jerman:...
Eks Kepala AL Jerman: Uni Eropa Bisa 'Berjalan Tanpa Sadar' Menuju Perang Melawan Rusia
4 jam yang lalu
Infografis
Arab Saudi Gunakan AI...
Arab Saudi Gunakan AI untuk Cetak Penghafal Al-Quran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved