Dilema Trump soal Khashoggi: Inginkan Sanksi, tapi Tergiur Uang Saudi
Minggu, 21 Oktober 2018 - 06:39 WIB
Dilema Trump soal Khashoggi: Inginkan Sanksi, tapi Tergiur Uang Saudi
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump jadi sorotan media internasional terkait sikap Washington terhadap Arab Saudi setelah jurnalis pengkritik rezim Riyadh, Jamal Kashoggi, dibunuh.
Pemimpin Amerika itu menginginkan penjatuhan sanksi, namun dia tidak ingin kehilangan kontrak penjualan senjata ke Saudi senilai USD110 miliar atau lebih dari Rp1.669 triliun.
Trump sejak awal sudah berjanji memberikan "hukuman berat" jika Washington menemukan Riyadh terbukti bertanggung jawab atas kematian jurnalis tersebut.
Riyadh sudah mengonfirmasi bahwa Khashogggi memang tewas di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.
"Diskusi antara Jamal Khashoggi dan orang-orang yang ditemuinya di konsulat kerajaan di Istanbul berubah menjadi pertengkaran, yang menyebabkan kematiannya," kata kejaksan Saudi dalam sebuah pernyataan.
"Kerajaan Arab Saudi mengungkapkan penyesalan yang mendalam atas perkembangan menyakitkan yang terjadi dalam kasus ini dan menegaskan komitmen pihak berwenang di Kerajaan untuk membawa fakta-fakta itu ke perhatian publik dan meminta pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat," lanjut pernyataan tersebut.
Stasiun televisi negara Saudi melaporkan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi mencoba untuk menutupi kematian tersebut.
Sebanyak 18 warga Saudi telah ditangkap sehubungan dengan pembunuhan tersebut. Selain itu, lima dari pembantu utama Putra Mahkota Mohammed bin Salman—termasuk pejabat intelijen Ahmad al-Assiri dan penasihat pers kerajaan Saud al-Qahtani—telah dipecat.
Pascakonfirmasi Saudi atas kematian Khashoggi, Trump menyampaikan pesan ambigu. Di satu sisi dia menilai pembunuhan tersebut sebagai tindakan yang tak bisa diterima. Namunm, di sisi lain di memuji pengumuman hasil penyelidikan Saudi sebagai "langkah awal yang baik".
"Ini langkah besar. Ada banyak orang yang terlibat," kata Trump di Pangkalan Angkatan Udara Luke di Arizona, seperti dikutip Reuters, Minggu (21/10/2018).
"Saya pikir ini adalah langkah pertama yang sangat penting dan itu terjadi lebih cepat daripada yang orang kira itu akan terjadi," ujarnya.
"Kami akan berbicara dengan mereka. Kami punya beberapa pertanyaan," imbuh dia, yang menambahkan bahwa Saudi sekutu penting dan pelanggan senjata Amerika.
Trump menyiratkan penanganan hati-hati terhadap sekutu AS tersebut karena bisa merugikan produsen senjata Washington.
"Saya lebih suka jika akan ada beberapa bentuk sanksi, ini adalah banyak yang dibicarakan orang," ujar Trump.
"Saya lebih suka kita tidak menggunakan retribusi, karena membatalkan pekerjaan senilai 110 miliar dolar, yang berarti 600.000 pekerjaan," papar Trump.
Dia berdalih sanksi terhadap Arab Saudi masih bisa dipertimbangkan, tapi terlalu dini untuk mengatakan bagaimana AS akan merespon untuk saat ini.
Pemimpin Amerika itu menginginkan penjatuhan sanksi, namun dia tidak ingin kehilangan kontrak penjualan senjata ke Saudi senilai USD110 miliar atau lebih dari Rp1.669 triliun.
Trump sejak awal sudah berjanji memberikan "hukuman berat" jika Washington menemukan Riyadh terbukti bertanggung jawab atas kematian jurnalis tersebut.
Riyadh sudah mengonfirmasi bahwa Khashogggi memang tewas di Konsulat Saudi di Istanbul, Turki, pada 2 Oktober 2018.
"Diskusi antara Jamal Khashoggi dan orang-orang yang ditemuinya di konsulat kerajaan di Istanbul berubah menjadi pertengkaran, yang menyebabkan kematiannya," kata kejaksan Saudi dalam sebuah pernyataan.
"Kerajaan Arab Saudi mengungkapkan penyesalan yang mendalam atas perkembangan menyakitkan yang terjadi dalam kasus ini dan menegaskan komitmen pihak berwenang di Kerajaan untuk membawa fakta-fakta itu ke perhatian publik dan meminta pertanggungjawaban semua pihak yang terlibat," lanjut pernyataan tersebut.
Stasiun televisi negara Saudi melaporkan bahwa mereka yang bertanggung jawab atas pembunuhan Khashoggi mencoba untuk menutupi kematian tersebut.
Sebanyak 18 warga Saudi telah ditangkap sehubungan dengan pembunuhan tersebut. Selain itu, lima dari pembantu utama Putra Mahkota Mohammed bin Salman—termasuk pejabat intelijen Ahmad al-Assiri dan penasihat pers kerajaan Saud al-Qahtani—telah dipecat.
Pascakonfirmasi Saudi atas kematian Khashoggi, Trump menyampaikan pesan ambigu. Di satu sisi dia menilai pembunuhan tersebut sebagai tindakan yang tak bisa diterima. Namunm, di sisi lain di memuji pengumuman hasil penyelidikan Saudi sebagai "langkah awal yang baik".
"Ini langkah besar. Ada banyak orang yang terlibat," kata Trump di Pangkalan Angkatan Udara Luke di Arizona, seperti dikutip Reuters, Minggu (21/10/2018).
"Saya pikir ini adalah langkah pertama yang sangat penting dan itu terjadi lebih cepat daripada yang orang kira itu akan terjadi," ujarnya.
"Kami akan berbicara dengan mereka. Kami punya beberapa pertanyaan," imbuh dia, yang menambahkan bahwa Saudi sekutu penting dan pelanggan senjata Amerika.
Trump menyiratkan penanganan hati-hati terhadap sekutu AS tersebut karena bisa merugikan produsen senjata Washington.
"Saya lebih suka jika akan ada beberapa bentuk sanksi, ini adalah banyak yang dibicarakan orang," ujar Trump.
"Saya lebih suka kita tidak menggunakan retribusi, karena membatalkan pekerjaan senilai 110 miliar dolar, yang berarti 600.000 pekerjaan," papar Trump.
Dia berdalih sanksi terhadap Arab Saudi masih bisa dipertimbangkan, tapi terlalu dini untuk mengatakan bagaimana AS akan merespon untuk saat ini.
(mas)