Tentara AS di Suriah Sampai ISIS Kalah dan Iran Hengkang
Jum'at, 07 September 2018 - 14:39 WIB
Tentara AS di Suriah Sampai ISIS Kalah dan Iran Hengkang
A
A
A
WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, telah menyetujui strategi baru militer di Suriah. Hal itu diungkapkan oleh seorang pejabat senior Departemen Luar Negeri AS.
Meskipun kampanye militer melawan ISIS hampir selesai, pemerintah AS telah mendefinisikan kembali tujuan-tujuannya untuk mencakup keluarnya semua pasukan militer dan proksi Iran dari Suriah, dan pembentukan pemerintahan yang stabil dan tidak ada ancaman yang diterima semua warga Suriah dan masyarakat internasional.
Perubahan kebijakan ini sebagian besar dimotivasi oleh keraguan yang berkembang tentang apakah Rusia mampu dan bersedia membantu mengeluarkan Iran dari Suriah. Rusia dan Iran sama-sama sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam memerangi upaya penggulingan pemerintah yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh pemberontak domestik.
"Kebijakan baru adalah kami tidak menarik diri pada akhir tahun," kata James Jeffrey, yang ditunjuk menjadi utusan khusus untuk Suriah.
Jeffrey mengatakan pasukan AS akan tetap di Suriah untuk memastikan Iran hengkang dan "kekalahan abadi" ISIS.
Saat ini ada sekitar 2.200 pasukan AS di Suriah, hampir semua dari mereka dikhususkan untuk perang melawan ISIS di bagian timur negara itu.
"Itu berarti kita tidak terburu-buru," katanya seperti dikutip dari Washington Post, Jumat (7/9/2018).
Ditanya apakah Trump telah menandatangani apa yang disebutnya sebagai pendekatan yang lebih aktif, Jeffrey berkata: "Saya yakin presiden ada di pihak ini."
Jeffrey menolak menggambarkan misi militer baru. Namun dia menekankan apa yang dia katakan akan menjadi "inisiatif diplomatik besar" di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan di tempat lain, dan penggunaan alat-alat ekonomi, mungkin termasuk lebih banyak sanksi terhadap Iran dan Rusia. Ia juga menyatakan penolakan AS untuk mendanai rekonstruksi di Suriah yang dikuasai Assad.
Jeffrey juga menegaskan jika kebijakan AS bukan Assad harus lengser.
"Assad tidak memiliki masa depan, tetapi bukan tugas kami untuk menyingkirkannya," ujarnya.
Namun, dia mengatakan bahwa dia merasa sulit untuk memikirkan Assad sebagai pemimpin yang bisa memenuhi persyaratan sebagai seseorang yang tidak mengancam tetangganya atau menyalahgunakan warganya sendiri, tidak mengizinkan senjata kimia atau menyediakan platform untuk Iran.
Meskipun kampanye militer melawan ISIS hampir selesai, pemerintah AS telah mendefinisikan kembali tujuan-tujuannya untuk mencakup keluarnya semua pasukan militer dan proksi Iran dari Suriah, dan pembentukan pemerintahan yang stabil dan tidak ada ancaman yang diterima semua warga Suriah dan masyarakat internasional.
Perubahan kebijakan ini sebagian besar dimotivasi oleh keraguan yang berkembang tentang apakah Rusia mampu dan bersedia membantu mengeluarkan Iran dari Suriah. Rusia dan Iran sama-sama sekutu Presiden Suriah Bashar al-Assad dalam memerangi upaya penggulingan pemerintah yang dilakukan selama bertahun-tahun oleh pemberontak domestik.
"Kebijakan baru adalah kami tidak menarik diri pada akhir tahun," kata James Jeffrey, yang ditunjuk menjadi utusan khusus untuk Suriah.
Jeffrey mengatakan pasukan AS akan tetap di Suriah untuk memastikan Iran hengkang dan "kekalahan abadi" ISIS.
Saat ini ada sekitar 2.200 pasukan AS di Suriah, hampir semua dari mereka dikhususkan untuk perang melawan ISIS di bagian timur negara itu.
"Itu berarti kita tidak terburu-buru," katanya seperti dikutip dari Washington Post, Jumat (7/9/2018).
Ditanya apakah Trump telah menandatangani apa yang disebutnya sebagai pendekatan yang lebih aktif, Jeffrey berkata: "Saya yakin presiden ada di pihak ini."
Jeffrey menolak menggambarkan misi militer baru. Namun dia menekankan apa yang dia katakan akan menjadi "inisiatif diplomatik besar" di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan di tempat lain, dan penggunaan alat-alat ekonomi, mungkin termasuk lebih banyak sanksi terhadap Iran dan Rusia. Ia juga menyatakan penolakan AS untuk mendanai rekonstruksi di Suriah yang dikuasai Assad.
Jeffrey juga menegaskan jika kebijakan AS bukan Assad harus lengser.
"Assad tidak memiliki masa depan, tetapi bukan tugas kami untuk menyingkirkannya," ujarnya.
Namun, dia mengatakan bahwa dia merasa sulit untuk memikirkan Assad sebagai pemimpin yang bisa memenuhi persyaratan sebagai seseorang yang tidak mengancam tetangganya atau menyalahgunakan warganya sendiri, tidak mengizinkan senjata kimia atau menyediakan platform untuk Iran.
(ian)