AS Kantongi Bukti Suriah Siapkan Serangan Senjata Kimia

Jum'at, 07 September 2018 - 08:31 WIB
AS Kantongi Bukti Suriah...
AS Kantongi Bukti Suriah Siapkan Serangan Senjata Kimia
A A A
WASHINGTON - Ada banyak bukti bahwa senjata kimia sedang dipersiapkan oleh pasukan pemerintah Suriah di Idlib. Hal itu dikatakan penasihat Amerika Serikat (AS) yang baru untuk Suriah, Jim Jeffrey. Ia lantas memperingatkan risiko serangan negara itu terhadap daerah kantong besar terakhir pemberontak.

"Saya sangat yakin bahwa kita memiliki alasan yang sangat, sangat baik untuk membuat peringatan ini," kata Jeffrey.

"Serangan apa pun bagi kami pantas dipertanyakan sebagai tindakan sembrono," imbuhnya.

"Ada banyak bukti bahwa senjata kimia sedang dipersiapkan," tukasnya seperti dikutip dari Reuters, Jumat (7/9/2018).

Gedung Putih telah memperingatkan bahwa AS dan sekutunya akan merespon dengan cepat dan dengan dahsyat" jika pasukan Suriah menggunakan senjata kimia dalam serangan yang diperkirakan secara luas.

Jeffrey mengatakan serangan oleh pasukan Rusia dan Suriah, serta penggunaan senjata kimia, akan memaksa aliran pengungsi besar-besaran ke Turki tenggara atau daerah di Suriah yang berada di bawah kendali Turki.

Presiden Suriah Bashar al-Assad telah mengumpulkan pasukannya dan pasukan sekutu di garis depan di barat laut. Pesawat Rusia juga telah bergabung dengan pemboman pemberontak di sana, sebagai serangan pendahuluan untuk kemungkinan serangan.

Nasib kubu pemberontak di dan sekitar provinsi Idlib bertumpu pada pertemuan yang akan diadakan di Teheran pada hari Jumat ini antara para pemimpin pendukung Assad, Rusia dan Iran, dan sekutu pemberontak, Turki.

"Kami akan mengetahui sampai taraf tertentu besok jika Rusia bersedia untuk berkompromi dengan Turki," kata Jeffrey.

Didukung oleh kekuatan udara Rusia, Assad dalam beberapa tahun terakhir telah merebut kembali satu per satu kantong pemberontak. Idlib dan sekitarnya sekarang adalah satu-satunya daerah yang signifikan di mana oposisi bersenjata terhadap Damaskus tetap ada.

Jeffrey menggambarkan situasi di Idlib sebagai sangat berbahaya dan mengatakan Turki berusaha untuk menghindari serangan habis-habisan pemerintah Suriah.

“Saya pikir bab terakhir dari cerita Idlib belum ditulis. Orang-orang Turki berusaha mencari jalan keluar. Orang-orang Turki telah menunjukkan banyak perlawanan terhadap serangan,” tuturnya.

Ia mengatakan AS telah berulang kali bertanya kepada Rusia apakah bisa "beroperasi" di Idlib untuk menghapuskan kekuasaan terakhir Negara Islam dan kelompok ekstremis lainnya. Ditanya apakah itu akan termasuk serangan udara AS, Jeffrey mengatakan: "Itu akan menjadi salah satu cara."

Ada kerja sama periodik antara AS dan Rusia terhadap kelompok-kelompok jihadis yang sama yang beroperasi di Idlib hingga pertengahan 2017.
(ian)
Berita Terkait
Amerika Serikat Tuduh...
Amerika Serikat Tuduh Rusia Mengacau Kawasan Mediterania
Amerika Serikat Dituduh...
Amerika Serikat Dituduh sebagai Pencuri Minyak Suriah, Benarkah?
Rusia: AS Tolak Hadiri...
Rusia: AS Tolak Hadiri Pertemuan Bahas Situasi Suriah
Rusia-AS Dilaporkan...
Rusia-AS Dilaporkan Mulai Patroli Bersama di Suriah
Rusia Sebut Tentara...
Rusia Sebut Tentara AS Coba Hadang Konvoi Militer Mereka di Suriah
Lavrov: Kehadiran Militer...
Lavrov: Kehadiran Militer AS di Suriah Persulit Upaya Rekonsiliasi
Berita Terkini
Trump Marah, Tuding...
Trump Marah, Tuding Iran Bocorkan Detail Kesepakatan Damai
2 jam yang lalu
Apa yang Ada dan Tidak...
Apa yang Ada dan Tidak Ada dalam Draf Kesepakatan Damai AS-Iran?
4 jam yang lalu
Iran Tegaskan Pengelolaan...
Iran Tegaskan Pengelolaan Selat Hormuz akan Disepakati Melalui Dialog Regional
5 jam yang lalu
Netanyahu dan Trump...
Netanyahu dan Trump Bahas Nota Kesepahaman Mendatang dengan Iran
6 jam yang lalu
Iran Tegaskan Belum...
Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS
7 jam yang lalu
Terungkap, Pokemon Go...
Terungkap, Pokemon Go Bantu Militer AS Petakan Dunia
8 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved