Pompeo Batal Kunjungi Korut, Korsel Kecewa Berat
Minggu, 26 Agustus 2018 - 10:11 WIB
Pompeo Batal Kunjungi Korut, Korsel Kecewa Berat
A
A
A
SEOUL - Korea Selatan (Korsel) menyatakan penyesalan atas batalnya kunjungan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Mike Pompeo ke Korea Utara (Korut). Hal itu dinyatakan Kementerian Luar Negeri Korsel.
"Dari sisi Korea Selatan, sangat menyesali kunjungan yang tertunda ke DPRK," kata Kementerian Luar Negeri Korsel menggunakan akronim dari nama resmi Korut, Republik Demokratik Rakyat Korea seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (26/8/2018).
Pernyataan itu mengatakan akan menjadi penting untuk terus mencari cara guna melakukan pembicaraan antara Korut dan AS yang berkontribusi pada tujuan denuklirisasi seutuhnya Semenanjung Korea dan penyelesaian perdamaian permanen.
"Menyusul kunjungan yang dibatalkan itu, Menteri Luar Negeri Korsel, Kang Kyung-wha melakukan pembicaraan telepon dengan Pompeo, yang menjelaskan secara rinci kepada diplomat Korsel itu tentang alasan kunjungannya tertunda," kata Kementerian Luar Negeri Korsel.
Kang mengatakan kepada Pompeo bahwa sangat disesali kunjungan tersebut tertunda karena masyarakat internasional memiliki banyak harapan untuk itu. Ia lantas mengusulkan untuk melanjutkan upaya denuklirisasi semenanjung Korea dan membangun perdamaian permanen sambil mempertahankan momentum dialog.
Kementerian Luar Negeri Korsel juga mengatakan Seoul menilai penunjukan Stephen Biegun sebagai utusan khusus AS yang baru untuk Korut sebagai peluang untuk memperkuat konsultasi lebih lanjut dengan Amerika Serikat.
Sebelumnya Pompeo mengatakan pada hari Kamis bahwa dia dan Biegun akan melakukan perjalanan ke Pyongyang minggu depan untuk membuat kemajuan diplomatik lebih lanjut menuju tujuan AS.
Baca: Kunjungi Korut, Pompeo Bakal Didampingi Utusan Khusus Baru
Diplomat tertinggi AS itu telah mengunjungi Korut tiga kali pada bulan April, Mei dan Juli.
Pembatalan kunjungan Mike Pompeo ke Korut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan membatalkan kunjungan lewat tweetnya di Twitter.
"Saya telah meminta Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk tidak pergi ke Korea Utara, pada saat ini, karena saya merasa kita tidak membuat kemajuan yang cukup sehubungan dengan denuklirisasi Semenanjung Korea," tweet Trump.
"Menteri Pompeo berharap untuk pergi ke Korea Utara dalam waktu dekat," sambung Trump.
"Sementara itu, saya ingin menyampaikan salam hangat dan hormat kepada Ketua Kim. Saya berharap dapat segera bertemu dengannya," tukasnya.
Baca: Denuklirisasi Lambat, Trump Batalkan Kunjungan Pompeo ke Korut
Trump pada 20 Agustus lalu mengatakan bahwa dia "kemungkinan besar" akan bertemu dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un untuk kedua kalinya. Ia pun mempunyai keyakinan Pyongyang telah mengambil langkah spesifik menuju denuklirisasi.
Baca: Trump Mengaku Kemungkinan Besar Akan Kembali Bertemu Jong-un
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah bertemu dengan Kim Jong-un pada 12 Juni lalu di Singapura, Trump berkomitmen untuk memberikan jaminan keamanan bagi Korut, sementara Kim menegaskan kembali komitmennya yang teguh untuk denuklirisasi Semenanjung Korea.
"Dari sisi Korea Selatan, sangat menyesali kunjungan yang tertunda ke DPRK," kata Kementerian Luar Negeri Korsel menggunakan akronim dari nama resmi Korut, Republik Demokratik Rakyat Korea seperti dikutip dari Xinhua, Minggu (26/8/2018).
Pernyataan itu mengatakan akan menjadi penting untuk terus mencari cara guna melakukan pembicaraan antara Korut dan AS yang berkontribusi pada tujuan denuklirisasi seutuhnya Semenanjung Korea dan penyelesaian perdamaian permanen.
"Menyusul kunjungan yang dibatalkan itu, Menteri Luar Negeri Korsel, Kang Kyung-wha melakukan pembicaraan telepon dengan Pompeo, yang menjelaskan secara rinci kepada diplomat Korsel itu tentang alasan kunjungannya tertunda," kata Kementerian Luar Negeri Korsel.
Kang mengatakan kepada Pompeo bahwa sangat disesali kunjungan tersebut tertunda karena masyarakat internasional memiliki banyak harapan untuk itu. Ia lantas mengusulkan untuk melanjutkan upaya denuklirisasi semenanjung Korea dan membangun perdamaian permanen sambil mempertahankan momentum dialog.
Kementerian Luar Negeri Korsel juga mengatakan Seoul menilai penunjukan Stephen Biegun sebagai utusan khusus AS yang baru untuk Korut sebagai peluang untuk memperkuat konsultasi lebih lanjut dengan Amerika Serikat.
Sebelumnya Pompeo mengatakan pada hari Kamis bahwa dia dan Biegun akan melakukan perjalanan ke Pyongyang minggu depan untuk membuat kemajuan diplomatik lebih lanjut menuju tujuan AS.
Baca: Kunjungi Korut, Pompeo Bakal Didampingi Utusan Khusus Baru
Diplomat tertinggi AS itu telah mengunjungi Korut tiga kali pada bulan April, Mei dan Juli.
Pembatalan kunjungan Mike Pompeo ke Korut terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan membatalkan kunjungan lewat tweetnya di Twitter.
"Saya telah meminta Menteri Luar Negeri Mike Pompeo untuk tidak pergi ke Korea Utara, pada saat ini, karena saya merasa kita tidak membuat kemajuan yang cukup sehubungan dengan denuklirisasi Semenanjung Korea," tweet Trump.
"Menteri Pompeo berharap untuk pergi ke Korea Utara dalam waktu dekat," sambung Trump.
"Sementara itu, saya ingin menyampaikan salam hangat dan hormat kepada Ketua Kim. Saya berharap dapat segera bertemu dengannya," tukasnya.
Baca: Denuklirisasi Lambat, Trump Batalkan Kunjungan Pompeo ke Korut
Trump pada 20 Agustus lalu mengatakan bahwa dia "kemungkinan besar" akan bertemu dengan Pemimpin Korut Kim Jong-un untuk kedua kalinya. Ia pun mempunyai keyakinan Pyongyang telah mengambil langkah spesifik menuju denuklirisasi.
Baca: Trump Mengaku Kemungkinan Besar Akan Kembali Bertemu Jong-un
Dalam pernyataan bersama yang dikeluarkan setelah bertemu dengan Kim Jong-un pada 12 Juni lalu di Singapura, Trump berkomitmen untuk memberikan jaminan keamanan bagi Korut, sementara Kim menegaskan kembali komitmennya yang teguh untuk denuklirisasi Semenanjung Korea.
(ian)