Rouhani: Iran Tidak Akan Menyerah kepada Tekanan AS
Selasa, 26 Juni 2018 - 14:22 WIB
Rouhani: Iran Tidak Akan Menyerah kepada Tekanan AS
A
A
A
TEHERAN - Presiden Iran Hassan Rouhani menyatakan bahwa Iran tidak akan menyerah pada tekanan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Ia menegaskan bahwa Teheran akan mempertahankan kemandirian dan nilai-nilai mereka.
Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi negara, Rouhani menyebut keputusan Washington membatalkan perjanjian mengerikan dan ilegal. Ia menambahkan bahwa AS telah berusaha untuk menggulingkan Republik Islam sejak 1979.
Rouhani menegaskan jika Iran memiliki hak untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (26/6/2018).
Kekhawatiran atas kemungkinan pembaruan program nuklir Iran didorong oleh penarikan AS dari perjanjian nuklir yang membatasi program nuklir Teheran sebagai ganti pencabutan sanksi nuklir PBB serta sanksi tambahan yang diperkenalkan oleh AS dan Uni Eropa. Namun, Trump bersumpah tidak hanya menerapkan kembali sanksi tetapi juga akan memperkenalkan sanksi yang baru. Hal ini memicu kemarahan Teheran.
Sebelumnya pada bulan Juni, laporan media muncul bahwa Iran bermaksud membangun reaktor nuklir baru di Arak, fasilitas yang sesuai dengan persetujuan JCPOA. Pembangunan kembali reaktor tersebut memicu kekhawatiran atas kemungkinan memproduksi dan memproses ulang plutonium ke tingkat senjata.
Teheran telah berulang kali berjanji untuk mematuhi kesepakatan nuklir, meskipun AS memutuskan untuk menarik diri dari perjanjian. Namun, beberapa hari lalu Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa dia tidak mengesampingkan penarikan Teheran dari kesepakatan itu.
Baca: Iran Disebut Akan Mundur dari Kesepakatan Nuklir
JCPOA ditandatangani pada 14 Juli 2015 oleh Iran dan Uni Eropa serta kelompok negara P5 + 1 yaitu Cina, Jerman, Perancis, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat.
Dalam pidato yang disiarkan langsung oleh stasiun televisi negara, Rouhani menyebut keputusan Washington membatalkan perjanjian mengerikan dan ilegal. Ia menambahkan bahwa AS telah berusaha untuk menggulingkan Republik Islam sejak 1979.
Rouhani menegaskan jika Iran memiliki hak untuk memperkaya uranium untuk tujuan damai seperti dikutip dari Sputnik, Selasa (26/6/2018).
Kekhawatiran atas kemungkinan pembaruan program nuklir Iran didorong oleh penarikan AS dari perjanjian nuklir yang membatasi program nuklir Teheran sebagai ganti pencabutan sanksi nuklir PBB serta sanksi tambahan yang diperkenalkan oleh AS dan Uni Eropa. Namun, Trump bersumpah tidak hanya menerapkan kembali sanksi tetapi juga akan memperkenalkan sanksi yang baru. Hal ini memicu kemarahan Teheran.
Sebelumnya pada bulan Juni, laporan media muncul bahwa Iran bermaksud membangun reaktor nuklir baru di Arak, fasilitas yang sesuai dengan persetujuan JCPOA. Pembangunan kembali reaktor tersebut memicu kekhawatiran atas kemungkinan memproduksi dan memproses ulang plutonium ke tingkat senjata.
Teheran telah berulang kali berjanji untuk mematuhi kesepakatan nuklir, meskipun AS memutuskan untuk menarik diri dari perjanjian. Namun, beberapa hari lalu Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan bahwa dia tidak mengesampingkan penarikan Teheran dari kesepakatan itu.
Baca: Iran Disebut Akan Mundur dari Kesepakatan Nuklir
JCPOA ditandatangani pada 14 Juli 2015 oleh Iran dan Uni Eropa serta kelompok negara P5 + 1 yaitu Cina, Jerman, Perancis, Rusia, Inggris dan Amerika Serikat.
(ian)