Kushner Sebut Abbas Takut Berdamai dengan Israel

Minggu, 24 Juni 2018 - 22:09 WIB
Kushner Sebut Abbas...
Kushner Sebut Abbas Takut Berdamai dengan Israel
A A A
YERUSALEM - Penasihat utama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, Jared Kushner, menyebut Presiden Palestina Mahmoud Abbas takut untuk berdamai dengan Israel. Sementara pemerintahn Trump hampir selesai mempersiapkan rencana perdamaiannya dan akan segera meluncurkannya.

Kushner menyatakan Abbas akan bertanggung jawab atas memburuknya situasi di Gaza. Abbas, kata Kushner, hanya memprioritaskan kelangsungan hidup politiknya sendiri dengan mengorbankan kebutuhan rakyat.

Dalam sebuah wawancara dengan koran Palestina, Al Quds, Kushner mempertanyakan keluwesan dan kemampuan Abbas untuk berdamai dengan mengatakan komunitas global merasa frustasi dengan Presiden Palestina itu.

"Ia memiliki poin pembicaraan, yang tidak berubah dalam 25 tahun terakhir," kata Kushner.

"Untuk membuat kesepakatan kedua belah pihak harus mengambil lompatan dan bertemu di suatu tempat di antara posis yang mereka nyatakan. Saya tidak yakin Presiden Abbas memiliki kemampuan untuk melakukan itu," tuturnya seperti dikutip dari New York Times, Minggu (24/6/2018).

Abbas marah dengan pemerintah Trump, terang Kushner, namun ia mempertanyakan kepentingan siapa yang dilayani.

"Ada banyak pernyataan tajam dan kecaman, tetapi tidak ada ide atau upaya dengan prospek keberhasilan," ujar menantu Trump ini.

"Mereka yang lebih skeptis mengatakan Presiden Abbas hanya fokus pada kelangsungan politiknya dan memperkuat warisan tidak berkompromi, daripada memperbaiki kehidupan rakyat Palestina," sambungnya.

Kushner pun menegaskan bahwa pemerintah Trump bertekad untuk menemukan solusi untuk masalah inti dari konflik, termasuk Yerusalem, perbatasan, dan pengungsi, di mana kedua belah pihak dapat hidup berdampingan. Namun ia mengatakan bahwa tanpa menciptakan jalur untuk kehidupan yang lebih baik, tidak ada solusi yang tahan lama.

Ia pun mengatakan timnya telah menghabiskan waktu untuk fokus dan mencoba menetukan apa yang sebenarnya diinginkan. Kesimpulannya adalah pekerjaan yang lebih baik dan pendapatan yang lebih baik serta prospek kehidupan yang lebih baik.

Ia pun menyebutkan investasi besar-besaran dalam infrastruktur modern, pelatihan kerja dan stimulus ekonomi dapat memungkinkan penduduk Palestina yang rajin dan berpendidikan untuk melompat ke garis depan revolusi industri teknologi. Ia juga mengatakan Palestina akan mendapat manfaat dari mengintegrasikan ekonomi mereka dengan ekonomi Israel, "Lembah Silikon Timur Tengah."

"Kemakmuran Israel akan meluber sangat cepat ke Palestina jika ada perdamaian," katanya, dan Mesir serta Yordania juga akan mendapatkan rejeki tak terduga.
(ian)
Berita Terkait
Alasan Amerika Serikat...
Alasan Amerika Serikat Tak Mengakui Palestina sebagai Negara Merdeka
Amerika Serikat Desak...
Amerika Serikat Desak Pemimpin Palestina Diganti, PLO Tak Terima
Gerakan Pro-Palestina...
Gerakan Pro-Palestina Meletus di Kampus-kampus Amerika Serikat
3 Alasan Donald Trump...
3 Alasan Donald Trump Mengusir Para Simpatisan Palestina dari Amerika Serikat
Langka, Amerika Serikat...
Langka, Amerika Serikat Jatuhkan Sanksi Terhadap Israel
5 Sosok Donatur Hamas...
5 Sosok Donatur Hamas yang Paling Diburu Amerika Serikat
Berita Terkini
12,9 Juta Siswa Ikuti...
12,9 Juta Siswa Ikuti Ujian Gaokao untuk Masuk Universitas di China
2 jam yang lalu
Israel Bombardir Markas...
Israel Bombardir Markas Besar Hizbullah di Beirut
3 jam yang lalu
9 Tempat Paling Suci...
9 Tempat Paling Suci di Dunia, Nomor 5 Paling Populer bagi Orang Indonesia
4 jam yang lalu
6 Tradisi Teraneh di...
6 Tradisi Teraneh di Dunia, Salah Satunya Makan Abu Orang Mati
5 jam yang lalu
Mendagri Pakistan Sampaikan...
Mendagri Pakistan Sampaikan Surat Khusus untuk Mojtaba Khamenei
5 jam yang lalu
Partai Janta Kecoa Jadi...
Partai Janta Kecoa Jadi Inspirasi bagi Gen Z di Seluruh Dunia
6 jam yang lalu
Infografis
10 Atlet Dengan Bayaran...
10 Atlet Dengan Bayaran Tertinggi 2026: Messi Dikalahkan Petinju Canelo Alvarez
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved