Khamenei: Nama Trump Akan Hilang dalam Sejarah

Kamis, 24 Mei 2018 - 06:47 WIB
Khamenei: Nama Trump...
Khamenei: Nama Trump Akan Hilang dalam Sejarah
A A A
TEHERAN - Pemimpin spiritual tertinggi Iran mengatakan bahwa keberatan Amerika Serikat (AS) atas kesepakatan nuklir 2015 adalah dalih untuk perubahan rezim. Ia bersumpah bahwa AS pasti gagal seperti kucing terkenal di kartun Tom and Jerry.

Ayatollah Ali Khamenei mengatakan bahwa Iran dapat memulai kembali kegiatan nuklir yang dihentikan di bawah perjanjian jika Eropa gagal untuk melindungi perjanjian tersebut setelah AS menarik diri.

Hal itu dikatakan Khamenei dua hari setelah Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, mengancam Iran dengan sanksi terkuat dalam sejarah.

"Sejak awal revolusi sampai hari ini, AS telah melakukan segala macam permusuhan untuk memukul Republik Islam. Semua tindakan ini ditujukan untuk 'menggulingkan' Republik Islam," kata Ayatollah di hadapan para pejabat senior untuk menandai bulan suci Ramadhan.

“Anda dapat membandingkan Republik Islam sekarang hingga 40 tahun yang lalu, dan melihat bahwa itu bergerak maju dengan berbagai kemampuan. Jadi, semua plot mereka gagal seperti kucing terkenal dari kartun Tom and Jerry,” imbuhnya seperti dikutip dari The Guardian, Kamis (24/5/2018).

Khamenei membandingkan Donald Trump dengan para pendahulunya, terutama George W Bush, neokonservatif lainnya, dan Ronald Reagan. Ia mengatakan bahwa Trump akan hilang dalam sejarah. Ayatollah mengatakan bahwa Teheran tidak dapat berinteraksi dengan pemerintah AS karena tidak memegang komitmen.

Ia mengisyaratkan keputusan Trump awal bulan ini untuk menarik AS keluar dari kesepakatan nuklir, yang dikenal sebagai Rencana Aksi Komprehensif Gabungan (JCPOA), menghantam Iran dan enam kekuatan utama dunia.

Dia berkata: “(Amerika) mengancam (kita) dan menentang komitmen mereka. Ini adalah jawaban untuk semua orang yang, berulang kali, dari waktu ke waktu bertanya kepada saya: 'Mengapa kita tidak bernegosiasi dengan AS, atau mengapa kita tidak mengembangkan hubungan dengan AS?"

Khamenei mengatakan AS sebelumnya telah menyia-nyiakan peluang mendekati Iran selama presiden mantan presiden reformis Mohammad Khatami, ketika George W Bush menyebut Teheran bagian dari "poros kejahatan".

Karena AS menarik diri dari kesepakatan itu, orang-orang Eropa telah berebut untuk menyelamatkan perjanjian, bahkan mengambil langkah-langkah untuk membatalkan efek Trump menjatuhkan sanksi pada perusahaan non-AS yang terus melakukan bisnis dengan Iran.

Khamenei mengatakan dia pesimis tentang tiga negara Eropa yang terlibat dalam kesepakatan nuklir, Inggris, Prancis dan Jerman, karena, katanya, mereka telah membuktikan bahwa pada isu-isu paling sensitif mereka mengikuti AS.

“Tentu saja, Eropa tidak akan berdiri di jalan Amerika Serikat. Mari bersikap realistis dan tidak mengandalkan probabilitas,” ujarnya.

Ia menetapkan enam kondisi untuk Eropa jika ingin Iran tetap dalam perjanjian, termasuk menghentikan keberatan atas tes rudal Iran atau perilaku regional.

“Eropa harus menjamin bahwa minyak Iran akan benar-benar terjual. Jika AS dapat merusak penjualan minyak kita, kita harus dapat menjual minyak sebanyak yang kita inginkan," katanya.

“Jika orang Eropa berlama-lama atas tuntutan kami, Iran memiliki hak untuk melanjutkan kegiatan nuklirnya. Ketika kita melihat bahwa JCPOA tidak berguna, satu cara ke depan adalah memulai kembali aktivitas yang dihentikan itu," tegasnya.

Minggu ini, sekelompok akademisi dan tokoh publik Iran dan Amerika terkemuka, termasuk Noam Chomsky dan aktor Iran Taraneh Alidoosti, mengulurkan tangan kepada kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, Federica Mogherini, memintanya dalam sebuah surat terbuka untuk memastikan hasil dari janji-janji barat di bawah perjanjian.

Mereka mengatakan: “Rakyat Iran mendukung perdamaian dan diplomasi. Sekarang adalah tanggung jawab komunitas internasional untuk menunjukkan bahwa mereka membuat keputusan yang tepat dan bahwa janji-janji yang dibuat akan dilaksanakan dan diwujudkan secara efektif."
(ian)
Berita Terkait
Menlu Iran Tantang Trump...
Menlu Iran Tantang Trump Kembali ke Kesepakatan Nuklir 2015
Trump Surati Iran, Beri...
Trump Surati Iran, Beri Ultimatum 2 Bulan untuk Kesepakatan Nuklir Baru
Jelang Lengser, Donald...
Jelang Lengser, Donald Trump Ingin Serang Situs Nuklir Utama Iran
Oman bisa Jadi Penengah...
Oman bisa Jadi Penengah Perundingan Nuklir Baru Iran dan AS
Proposal Nuklir Trump...
Proposal Nuklir Trump Izinkan Iran Memperkaya Uranium
Trump Peringatkan Iran...
Trump Peringatkan Iran Jangan Main-main dengan AS!
Berita Terkini
Iran Peringatkan Serangan...
Iran Peringatkan Serangan AS Berisiko Seret Timur Tengah Kembali ke Konflik
53 menit yang lalu
Selain Azerbaijan, Israel...
Selain Azerbaijan, Israel Kirim Pasukan ke UEA, Irak dan Somaliland selama Perang Iran
2 jam yang lalu
Meski Sekutu Sejati,...
Meski Sekutu Sejati, Mengapa Pentagon Tingkatkan Ancaman Mata-mata Israel ke Tingkat Tertinggi?
3 jam yang lalu
3 Fakta Bantahan Azerbaijan...
3 Fakta Bantahan Azerbaijan Terkait Wilayahnya Digunakan Israel dalam Perang Iran
5 jam yang lalu
3 Fakta Penembakan Bayi...
3 Fakta Penembakan Bayi Palestina Berusia 7 Bulan oleh Tentara Israel
9 jam yang lalu
Selalu Jadi Target Iran,...
Selalu Jadi Target Iran, Kuwait Beli Senjata Anti-Drone Senilai Rp36 Triliun dari AS
10 jam yang lalu
Infografis
Menelusuri Jejak 6 Kartel...
Menelusuri Jejak 6 Kartel Paling Kejam dalam Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved