Iran: Kerja Sama AS dan Saudi Kian Kacaukan Timur Tengah
Senin, 30 April 2018 - 15:54 WIB
Iran: Kerja Sama AS dan Saudi Kian Kacaukan Timur Tengah
A
A
A
TEHERAN - Pemerintah Iran menilai kerja sama antara Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) akan semakin mengacaukan Timur Tengah. Teheran tak peduli dan tetap mempertahankan kehadiran militernya di kawasan meski ada tekanan Washington untuk membatasi pengaruh Iran.
Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo, yang bertemu Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud di Riyadh, mengatakan pada hari Minggu bahwa Washington sangat prihatin dengan kegiatan destabilisasi dan fitnah Iran di Timur Tengah.
Komentar diplomat top AS itu dibalas juru bicara Departemen Luar Negeri Iran Bahram Qasemi. "Kerja sama antara Amerika dan Arab Saudi akan semakin mengacaukan Timur Tengah dan akan menyebabkan lebih banyak krisis di kawasan itu," katanya yang disiarkan stasiun televisi pemerintah Iran.
"Pernyataan Pompeo tentang Iran tidak berdasar dan berulang kali. Selama pemerintah yang sah dari negara-negara regional membutuhkan bantuan kami, Iran akan tetap berada di negara-negara itu," lanjut Qasemi, yang dilansir Reuters, Senin (30/4/2018).
Pada kunjungannya ke Riyadh, Pompeo meyakinkan Saudi bahwa Amerika Serikat akan keluar dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015, kecuali Eropa setuju untuk merevisi perjanjian tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah memberi Eropa tenggat waktu hingga 12 Mei untuk merevisi kekurangan yang "mengerikan" dari kesepakatan nuklir 2015.
Kesepakatan yang dikenal sebagai "Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)" disepakati antara Iran dan lima negara kekuatan dunia—Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China, pada Mei 2015.
Dalam JCPOA tersebut, Teheran bersedia mengekang program nuklirnya. Sebagai imbalannya, sanksi atau embargo terhadap Teheran dicabut.
Namun, sejak menang pemilu dan menjadi presiden AS tahun 2017, Trump ingin membuat Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir tersebut. Opsi lain yang diminta Trump adalah meralat poin-poin kesepakatan.
Teheran tentu saja menolak seruan Trump. Terlebih, kesepakatan itu sudah mengikat dan menjadi perjanjian kolektif, bukan hanya ditentukan satu negara scara sepihak.
Menteri Luar Negeri AS Michael Pompeo, yang bertemu Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz al-Saud di Riyadh, mengatakan pada hari Minggu bahwa Washington sangat prihatin dengan kegiatan destabilisasi dan fitnah Iran di Timur Tengah.
Komentar diplomat top AS itu dibalas juru bicara Departemen Luar Negeri Iran Bahram Qasemi. "Kerja sama antara Amerika dan Arab Saudi akan semakin mengacaukan Timur Tengah dan akan menyebabkan lebih banyak krisis di kawasan itu," katanya yang disiarkan stasiun televisi pemerintah Iran.
"Pernyataan Pompeo tentang Iran tidak berdasar dan berulang kali. Selama pemerintah yang sah dari negara-negara regional membutuhkan bantuan kami, Iran akan tetap berada di negara-negara itu," lanjut Qasemi, yang dilansir Reuters, Senin (30/4/2018).
Pada kunjungannya ke Riyadh, Pompeo meyakinkan Saudi bahwa Amerika Serikat akan keluar dari kesepakatan nuklir Iran tahun 2015, kecuali Eropa setuju untuk merevisi perjanjian tersebut.
Presiden AS Donald Trump telah memberi Eropa tenggat waktu hingga 12 Mei untuk merevisi kekurangan yang "mengerikan" dari kesepakatan nuklir 2015.
Kesepakatan yang dikenal sebagai "Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA)" disepakati antara Iran dan lima negara kekuatan dunia—Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Prancis, Jerman dan China, pada Mei 2015.
Dalam JCPOA tersebut, Teheran bersedia mengekang program nuklirnya. Sebagai imbalannya, sanksi atau embargo terhadap Teheran dicabut.
Namun, sejak menang pemilu dan menjadi presiden AS tahun 2017, Trump ingin membuat Washington menarik diri dari kesepakatan nuklir tersebut. Opsi lain yang diminta Trump adalah meralat poin-poin kesepakatan.
Teheran tentu saja menolak seruan Trump. Terlebih, kesepakatan itu sudah mengikat dan menjadi perjanjian kolektif, bukan hanya ditentukan satu negara scara sepihak.
(mas)