Ghouta Masih Dibom meski Rusia Serukan Gencatan Senjata
Rabu, 28 Februari 2018 - 13:38 WIB
Ghouta Masih Dibom meski Rusia Serukan Gencatan Senjata
A
A
A
BEIRUT - Pesawat tempur Pemerintah Suriah masih menyerang wilayah Ghouta Timur, Selasa (27/2/2018), meski Rusia menyerukan gencatan senjata lima jam per hari. Damaskus juga menuduh pemberontak menyerang jalur pengungsian.
Dua warga di Ghouta menyatakan, pesawat tempur dan helikopter Suriah masih melancarkan serangan walaupun Rusia menyerukan gencatan senjata. Serangan udara itu juga dilaporkan kelompok pemantau perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, pertempuran yang masih terjadi tidak memungkinkan pengiriman bantuan atau menyelamatkan warga yang terluka.
"Kami mendapat laporan pagi ini di sana terus terjadi pertempuran di Ghouta Timur," ungkap juru bicara kemanusiaan PBB Jens Laerke pada kantor berita Reuters, Selasa (27/2/2018). "Jelas situasi di lapangan tidak membuat konvoi dapat masuk atau evakuasi medis dapat dilakukan," katanya.
Ratusan orang tewas selama 10 hari dibombardir Pemerintah Suriah di Ghouta Timur. Serangan itu merupakan salah satu kampanye udara terbesar yang pernah digelar dalam delapan tahun perang.
Rusia mendeklarasikan gencatan senjata lima jam secara sepihak, Selasa (27/2/2018), untuk membuka koridor kemanusiaan demi mengevakuasi warga sipil yang terluka dan warga dapat meninggalkan wilayah Ghouta Timur. Meski demikian, militer tak bisa menjamin keselamatan warga sipil yang ingin meninggalkan Ghouta.
Warga di beberapa kota di distrik itu menyebut terjadi penghentian pertempuran sebentar, tapi pengeboman kembali terjadi. Di Kota Hammouriyeh, seorang pria bernama Mahmoud menjelaskan, helikopter dan pesawat tempur masih terbang di udara dan melancarkan serangan.
Juru bicara Badan Rescue Pertahanan Sipil Siraj Mahmoud menyatakan serangan udara dan artileri terjadi di wilayah tersebut. Media Suriah dan pejabat Rusia menuduh pemberontak menyerang jalur evakuasi untuk menghentikan warga sipil meninggalkan Ghouta Timur. Tuduhan ini disangkal oleh kelompok pemberontak.
Pemantau Suriah untuk hak asasi manusia (SOHR) menyatakan, helikopter dan pesawat tempur menyerang empat kota dan serangan menewaskan satu orang. Resolusi Dewan Keamanan PBB yang disahkan pada Sabtu (24/2/2018) menyerukan gencatan senjata 30 hari di penjuru Suriah, tapi resolusi itu tidak menyebut dengan pasti kapan akan berlaku.
Resolusi juga tidak berlaku bagi kelompok militan. Itu artinya, gencatan senjata tak dapat diobservasi pelaksanaannya. Juru bicara PBB Larke menolak mengomentari proposal Rusia untuk gencatan senjata lima jam itu. Dia menyerukan semua pihak harus mematuhi gencatan senjata 30 hari penuh.
"Ini pertanyaan hidup dan mati. Jika itu pertanyaan hidup dan mati, kita perlu penghentian permusuhan 30 hari di Suriah seperti permintaan Dewan Keamanan," ujar Laerke yang menjadi juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Asistensi Kemanusiaan (OCHA) saat memberi penjelasan di Jenewa.
Juru bicara pemberontak menyatakan, warga di Ghouta Timur tidak ingin meninggalkan wilayah itu meski terjadi pengeboman karena mereka khawatir ditangkap, disiksa, atau harus mengikuti wajib militer oleh pemerintah. Ghouta Timur yang dihuni 400.000 orang menjadi target utama Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pemberontak yang berbasis di Ghouta Timur mengintensifkan serangan ke Damaskus yang dikuasai pemerintah. Tim medis di Damaskus menyatakan sebanyak 36 orang tewas dalam empat hari terakhir.
Suriah dan Rusia menyatakan kampanye di Ghouta dilakukan untuk menghentikan serangan di Damaskus. Sebelum pengeboman dilakukan militer Suriah, kondisi kemanusiaan di Ghouta Timur sudah memprihatinkan karena keterbatasan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Jenewa menyatakan menyambut semua langkah untuk mengizinkan warga yang ingin mengungsi dan evakuasi medis. Meski demikian, juru bicara ICRC Iolanda Jaquemet menyatakan, diperlukan lebih dari gencatan senjata sementara dan koridor kemanusiaan untuk evakuasi.
Dua warga di Ghouta menyatakan, pesawat tempur dan helikopter Suriah masih melancarkan serangan walaupun Rusia menyerukan gencatan senjata. Serangan udara itu juga dilaporkan kelompok pemantau perang. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan, pertempuran yang masih terjadi tidak memungkinkan pengiriman bantuan atau menyelamatkan warga yang terluka.
"Kami mendapat laporan pagi ini di sana terus terjadi pertempuran di Ghouta Timur," ungkap juru bicara kemanusiaan PBB Jens Laerke pada kantor berita Reuters, Selasa (27/2/2018). "Jelas situasi di lapangan tidak membuat konvoi dapat masuk atau evakuasi medis dapat dilakukan," katanya.
Ratusan orang tewas selama 10 hari dibombardir Pemerintah Suriah di Ghouta Timur. Serangan itu merupakan salah satu kampanye udara terbesar yang pernah digelar dalam delapan tahun perang.
Rusia mendeklarasikan gencatan senjata lima jam secara sepihak, Selasa (27/2/2018), untuk membuka koridor kemanusiaan demi mengevakuasi warga sipil yang terluka dan warga dapat meninggalkan wilayah Ghouta Timur. Meski demikian, militer tak bisa menjamin keselamatan warga sipil yang ingin meninggalkan Ghouta.
Warga di beberapa kota di distrik itu menyebut terjadi penghentian pertempuran sebentar, tapi pengeboman kembali terjadi. Di Kota Hammouriyeh, seorang pria bernama Mahmoud menjelaskan, helikopter dan pesawat tempur masih terbang di udara dan melancarkan serangan.
Juru bicara Badan Rescue Pertahanan Sipil Siraj Mahmoud menyatakan serangan udara dan artileri terjadi di wilayah tersebut. Media Suriah dan pejabat Rusia menuduh pemberontak menyerang jalur evakuasi untuk menghentikan warga sipil meninggalkan Ghouta Timur. Tuduhan ini disangkal oleh kelompok pemberontak.
Pemantau Suriah untuk hak asasi manusia (SOHR) menyatakan, helikopter dan pesawat tempur menyerang empat kota dan serangan menewaskan satu orang. Resolusi Dewan Keamanan PBB yang disahkan pada Sabtu (24/2/2018) menyerukan gencatan senjata 30 hari di penjuru Suriah, tapi resolusi itu tidak menyebut dengan pasti kapan akan berlaku.
Resolusi juga tidak berlaku bagi kelompok militan. Itu artinya, gencatan senjata tak dapat diobservasi pelaksanaannya. Juru bicara PBB Larke menolak mengomentari proposal Rusia untuk gencatan senjata lima jam itu. Dia menyerukan semua pihak harus mematuhi gencatan senjata 30 hari penuh.
"Ini pertanyaan hidup dan mati. Jika itu pertanyaan hidup dan mati, kita perlu penghentian permusuhan 30 hari di Suriah seperti permintaan Dewan Keamanan," ujar Laerke yang menjadi juru bicara Kantor PBB untuk Koordinasi Asistensi Kemanusiaan (OCHA) saat memberi penjelasan di Jenewa.
Juru bicara pemberontak menyatakan, warga di Ghouta Timur tidak ingin meninggalkan wilayah itu meski terjadi pengeboman karena mereka khawatir ditangkap, disiksa, atau harus mengikuti wajib militer oleh pemerintah. Ghouta Timur yang dihuni 400.000 orang menjadi target utama Presiden Suriah Bashar al-Assad.
Pemberontak yang berbasis di Ghouta Timur mengintensifkan serangan ke Damaskus yang dikuasai pemerintah. Tim medis di Damaskus menyatakan sebanyak 36 orang tewas dalam empat hari terakhir.
Suriah dan Rusia menyatakan kampanye di Ghouta dilakukan untuk menghentikan serangan di Damaskus. Sebelum pengeboman dilakukan militer Suriah, kondisi kemanusiaan di Ghouta Timur sudah memprihatinkan karena keterbatasan makanan, obat-obatan, dan kebutuhan pokok lainnya.
Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Jenewa menyatakan menyambut semua langkah untuk mengizinkan warga yang ingin mengungsi dan evakuasi medis. Meski demikian, juru bicara ICRC Iolanda Jaquemet menyatakan, diperlukan lebih dari gencatan senjata sementara dan koridor kemanusiaan untuk evakuasi.
(amm)