Menyambangi Lebanon, Tillerson Sebut Hizbullah Sebagai Ancaman

Jum'at, 16 Februari 2018 - 06:54 WIB
Menyambangi Lebanon,...
Menyambangi Lebanon, Tillerson Sebut Hizbullah Sebagai Ancaman
A A A
BEIRUT - Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS), Rex Tillerson, memperingatkan Lebanon akan keberadaan kelompok Hizbullah yang didukung oleh Iran. Tillerson mengatakan gudang persenjataan dan keterlibatan kelompok tersebut dalam konflik regional mengancam keamanan Lebanon.

Berbicara saat konferensi pers bersama Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri di Beirut, Tillerson juga mengatakan bahwa AS terlibat dengan Lebanon dan Israel untuk memastikan perbatasan kedua negara tetap tenang.

Israel menganggap Hizbullah sebagai ancaman langsung terbesar di perbatasannya dan berulang kali menyerangnya di Suriah, di mana kelompok tersebut berperang bersama Presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara yang memasuki tahun kedelapan.

Pemerintah Trump telah mengambil posisi garis keras terhadap Iran. AS juga telah memberi sanksi kepada beberapa orang dan entitas yang terkait dengan Hizbullah dalam beberapa pekan terakhir sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran.

Gerakan Syiah bersenjata itu adalah bagian dari pemerintah koalisi Lebanon yang dipimpin oleh politisi Sunni Muslim Hariri, di bawah sistem politik kompleks yang mengembangkan pembagian kekuasaan sektarian.

"Hizbullah bukan hanya menjadi perhatian bagi Amerika Serikat. Orang-orang Lebanon juga harus khawatir tentang bagaimana tindakan Hizbullah dan gudang senjatanya yang berkembang membawa pengamatan yang tidak diinginkan dan tidak membantu di Lebanon," kata Tillerson.

"Keterikatan Hizbullah dalam konflik regional mengancam keamanan Lebanon," tambahnya seperti dilansir dari Reuters, Jumat (16/2/2018).

Hizbullah selalu menolak permintaan apapun agar melucuti senjatanya, yang menurutnya diperlukan untuk membela Lebanon melawan Israel. Hizbullah mengatakan bahwa perannya di Suriah diperlukan untuk menghentikan ancaman militan Sunni ke Lebanon, dan mengatakan pada bulan Januari bahwa perang tersebut akan berakhir dalam satu atau dua tahun.

Kunjungan Tillerson, yang pertama oleh seorang Menteri Luar Negeri AS ke Lebanon sejak tahun 2014, dimulai dengan canggung saat dia menunggu beberapa menit di Istana Baabda untuk pertemuannya dengan Presiden Michel Aoun, seorang sekutu Hizbullah.

Kantor presiden Lebanon membantah ada kesalahan dari protokol diplomatik dan mengatakan bahwa Tillerson telah tiba beberapa menit lebih awal. Rekaman dia menunggu ditayangkan di beberapa saluran TV Arab sepanjang hari. Aoun kemudian mengatakan bahwa Tillerson telah mendengarkan dan memahami posisi Lebanon mengenai perbatasan Israel.

Ketegangan Israel-Lebanon melonjak dalam beberapa bulan terakhir karena rencana Israel untuk membangun tembok di perbatasan, dan karena keputusan Lebanon untuk mulai mengeksplorasi minyak dan gas di sebuah blok lepas pantai di perairan yang disengketakan.

Hizbullah, yang oleh AS dianggap sebagai organisasi teroris, telah meningkatkan kekuatan militernya sejak konflik besar terakhir dengan Israel pada tahun 2006.

Tillerson mendesak para pemimpin Lebanon untuk menegakkan komitmen negara tersebut untuk tidak terlibat konflik regional.

Israel telah menuduh Iran berusaha mendirikan pabrik senjata di Lebanon, dan militer Israel bulan lalu mengatakan bahwa negara tersebut telah berubah menjadi satu "pabrik rudal besar".

Lebanon adalah penerima besar dukungan militer AS. Tillerson mengatakan bahwa Washington tetap berkomitmen untuk mendukung tentara Lebanon dan pasukan keamanan dalam negeri.

Ketika ditanya tentang perselisihan perbatasan maritim dengan Israel, termasuk media Lebanon melaporkan bahwa Washington telah meminta Beirut untuk menyerahkan sebagian dari laut yang diklaimnya, Tillerson membantah laporan tersebut.

"Kami akan terus sangat terlibat dengan kedua belah pihak. Kami tidak meminta siapapun untuk melepaskan apapun, tapi kami mencari solusinya, "katanya.

"Kami melibatkan pemerintah Lebanon dan Israel untuk memastikan perbatasan selatan Lebanon tetap tenang," tukasnya.
(ian)
Berita Terkait
AS Tegaskan Tolak Keterlibatan...
AS Tegaskan Tolak Keterlibatan Hizbullah di Pemerintahan Lebanon
Hizbullah: AS Penyebab...
Hizbullah: AS Penyebab Semua Penderitaan di Lebanon
AS: Keruntuhan Tentara...
AS: Keruntuhan Tentara Lebanon akan Untungkan Hizbullah
AS Sanksi Dua Anggota...
AS Sanksi Dua Anggota Senior Hizbullah
Korupsi dan Dukung Hizbullah,...
Korupsi dan Dukung Hizbullah, Pejabat Lebanon Disanksi AS
AS Jatuhkan Sanksi Baru...
AS Jatuhkan Sanksi Baru kepada Hizbullah
Berita Terkini
Iran akan Bangun Saluran...
Iran akan Bangun Saluran Komunikasi Langsung Hormuz dengan AS
4 jam yang lalu
Putin: Negara-negara...
Putin: Negara-negara Barat Secara Terbuka Mengatakan Mereka Bersiap Perangi Rusia
5 jam yang lalu
PM Pakistan: AS dan...
PM Pakistan: AS dan Iran akan Bahas Program Rudal Balistik dan Isu Nuklir dalam 60 Hari ke Depan
6 jam yang lalu
Awas, AI dalam Beberapa...
Awas, AI dalam Beberapa Bulan Lagi Bisa Lumpuhkan Pemerintahan di Berbagai Negara
7 jam yang lalu
Netanyahu Ingin Israel...
Netanyahu Ingin Israel Bebaskan Diri dari Ketergantungan Persenjataan pada AS
8 jam yang lalu
Iran Bisa Terima Rp894...
Iran Bisa Terima Rp894 Triliun dalam Bentuk Keringanan Sanksi sesuai Kesepakatan Akhir
9 jam yang lalu
Infografis
Warren Buffett Sebut...
Warren Buffett Sebut Dolar AS Sedang Menuju ke Neraka
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved