Kekerasan Terhadap Rohingya Berlanjut, AS Peringatkan Myanmar

Jum'at, 01 September 2017 - 05:55 WIB
Kekerasan Terhadap Rohingya...
Kekerasan Terhadap Rohingya Berlanjut, AS Peringatkan Myanmar
A A A
NEW YORK - Dubes Amerika Serikat (AS) untuk PBB mendesak pemerintah Myanmar untuk menahan diri. Desakan itu muncul setelah laporan kematian warga sipil di antara populasi Muslim Rohingya di negara bagian Rakhine.

"AS mendukung demokrasi untuk rakyat Myanmar, dan kami mengutuk serangan kelompok militan di Negara Bagian Rakhine," kata Nikki Haley dalam sebuah pernyataan seperti dilansir dari Anadolu, Jumat (1/9/2017).

"Namun, karena pasukan Myanmar bertindak untuk mencegah kekerasan lebih lanjut, mereka memiliki tanggung jawab untuk mematuhi hukum internasional, yang mencakup menahan diri untuk tidak menyerang warga sipil dan pekerja bantuan yang tidak bersalah dan memastikan bantuan menjangkau mereka yang membutuhkan," tambahnya.

Pernyataan tersebut muncul setelah Dewan Keamanan mengadakan perundingan informal mengenai kekerasan tersebut. Pembicaraan berakhir tanpa sebuah pernyataan atau pesan resmi.

Kekerasan baru meletus di negara bagian Rakhine pada 25 Agustus ketika pasukan keamanan negara tersebut melancarkan operasi terhadap komunitas Muslim Rohingya. Ini memicu masuknya pengungsi baru dari seluruh negeri menuju negara tetangga Bangladesh yang telah menampung 400 ribu Rohingya dan telah menutup perbatasannya untuk para pengungsi.

Daerah ini telah mengalami ketegangan antara populasi Budha dan Muslim sejak kekerasan komunal terjadi pada tahun 2012.

Sebuah tindakan represif yang dilakukan pada bulan Oktober lalu di Maungdaw, di mana Rohingya menjadi mayoritas, menyebabkan sebuah laporan PBB mengenai pelanggaran hak asasi manusia oleh pasukan keamanan yang mengindikasikan kejahatan terhadap kemanusiaan.

PBB mendokumentasikan perkosaan kelompok massal, pembunuhan - termasuk bayi dan anak kecil - pemukulan dan penghilangan secara brutal. Perwakilan Rohingya mengatakan sekitar 400 korban tewas dalam tindakan represif tersebut.
(ian)
Berita Terkait
AS Puji Respons Indonesia...
AS Puji Respons Indonesia Terkait Pengungsi Rohingya
Pengadilan AS Diminta...
Pengadilan AS Diminta Paksa Facebook Rilis Data Pejabat Myanmar
Rohingya Tuntut Facebook...
Rohingya Tuntut Facebook Rp2,8 Kuadriliun karena Memicu Genosida di Myanmar
AS: Penindasan Myanmar...
AS: Penindasan Myanmar Terhadap Muslim Rohingya adalah Genosida
Junta Myanmar Tolak...
Junta Myanmar Tolak Tuduhan AS Soal Genosida Muslim Rohingya
Suhu Udara di California...
Suhu Udara di California Tembus 100 Derajat Celcius
Berita Terkini
Pemimpin Hizbullah Kecam...
Pemimpin Hizbullah Kecam Negosiasi Lebanon-Israel, Dianggap Tidak Tahu Malu
5 jam yang lalu
Jerman Gagal Peroleh...
Jerman Gagal Peroleh Kursi di Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kali
6 jam yang lalu
Lebih dari 9.500 Orang...
Lebih dari 9.500 Orang Hilang di Gaza sejak Awal Perang
7 jam yang lalu
Raja Langit Sesungguhnya:...
Raja Langit Sesungguhnya: 5 Helikopter Tempur Paling Mematikan Berdasarkan Rekam Jejak Perang
8 jam yang lalu
Presiden Lebanon Aoun...
Presiden Lebanon Aoun Peringatkan Kesepakatan Gencatan Senjata sebagai Kesempatan Terakhir
9 jam yang lalu
Drone Hizbullah Hantam...
Drone Hizbullah Hantam Kendaraan Kepala Komando Utara IDF di Lebanon Selatan
10 jam yang lalu
Infografis
True Promise 4 Mengamuk!...
True Promise 4 Mengamuk! Pangkalan Militer AS di Timur Tengah Jadi Rongsokan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved