Turki Desak AS Cari Bukti Keterlibatan Gulen dalam Kudeta
Sabtu, 15 Juli 2017 - 10:23 WIB
Turki Desak AS Cari Bukti Keterlibatan Gulen dalam Kudeta
A
A
A
WASHINGTON - Pihak berwenang Amerika Serikat (AS) harus mencari bukti yang mendukung tuduhan Fethullah Gulen mengatur kudeta di Turki yang gagal pada tahun lalu. Demikian pernyataan Duta Besar (Dubes) Turki untuk AS Serdar Kilic.
Kilic mengungkapkan rasa frustrasinya atas tanggapan timbal balik AS atas permintaan ekstradisi Gulen. Ia pun mendesak Washington menggunakan kemampuannya dalam mengumpulkan data untuk membantu membuktikan tuduhan Ankara terhadap Gulen.
"Mereka seharusnya membantu kita dalam hal ini. Kami tidak memiliki otoritas intelijen nasional di Amerika Serikat, "katanya di Kedutaan Turki seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (15/7/2017).
Sebelumnya, Kilic juga mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump harus menyikapi permintaan ekstradisi Turki lebih serius" dari pada pendahulunya, Barack Obama. Namun dia tidak menjelaskan secara rinci.
Kilic mengatakan bahwa AS tidak memberi tanda kapan akan memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap Gulen, yang membantah terlibat dalam upaya kudeta 15 Juli 2016.
Kilic mengutip pengakuan oleh beberapa komplotan kudeta yang mengatakan bahwa mereka dibayar Gulen di kompleks kediamannya di Pennsylvania pada hari-hari menjelang kudeta yang gagal. Pengakuan itu adalah bukti bahwa ulama berusia 79 tahun itu berada di balik kudeta tersebut, di mana lebih dari 240 orang terbunuh.
Namun, Kilic mengakui bahwa bukti nyata keterlibatan langsung Gulen, yang telah tinggal di pengasingan yang dipaksakan sejak tahun 1999, tetap sulit didapatkan.
"Jika Anda meminta instruksi tertulis oleh Fethullah Gulen kepada anggota Organisasi Teroris Fethullah Gulen di tentara, itu akan menjadi permintaan yang sia-sia," kata Kilic, menambahkan bahwa perencanaan dilakukan dalam kerahasiaan.
Alp Aslandogan, penasihat media Gulen, mengatakan bahwa ulama tersebut tidak memiliki telepon genggam, stafnya selalu mengikuti perjalanannya dan ia tidak bisa menggunakan email. Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk melacak jalur komunikasi yang digunakan oleh Gulen mungkin akan menghasilkan sedikit bukti.
Dia juga mengatakan bahwa dia tidak melihat adanya tanda-tanda pemerintahan Trump menjadikan kasus ekstradisi Gulen sebagai prioritas yang lebih tinggi.
Aslandogan pun lantas menyebut jika kesaksikan dari komplotan pelaku kudeta didapatkan dengan tekanan dan terkadang penyiksaan.
Namun Ankara telah berulang kali membantah tuduhan tersebut. Ankara menyatakanbahwa postur keamanan yang kuat diperlukan dalam menghadapi bahaya yang juga dihadapinya dari militan Kurdi, serta perang di negara tetangga Irak dan Suriah.
Departemen Kehakiman A.S. menolak berkomentar mengenai kasus ini.
Kilic mengungkapkan rasa frustrasinya atas tanggapan timbal balik AS atas permintaan ekstradisi Gulen. Ia pun mendesak Washington menggunakan kemampuannya dalam mengumpulkan data untuk membantu membuktikan tuduhan Ankara terhadap Gulen.
"Mereka seharusnya membantu kita dalam hal ini. Kami tidak memiliki otoritas intelijen nasional di Amerika Serikat, "katanya di Kedutaan Turki seperti dikutip dari Reuters, Sabtu (15/7/2017).
Sebelumnya, Kilic juga mengatakan bahwa pemerintahan Presiden Donald Trump harus menyikapi permintaan ekstradisi Turki lebih serius" dari pada pendahulunya, Barack Obama. Namun dia tidak menjelaskan secara rinci.
Kilic mengatakan bahwa AS tidak memberi tanda kapan akan memutuskan apa yang harus dilakukan terhadap Gulen, yang membantah terlibat dalam upaya kudeta 15 Juli 2016.
Kilic mengutip pengakuan oleh beberapa komplotan kudeta yang mengatakan bahwa mereka dibayar Gulen di kompleks kediamannya di Pennsylvania pada hari-hari menjelang kudeta yang gagal. Pengakuan itu adalah bukti bahwa ulama berusia 79 tahun itu berada di balik kudeta tersebut, di mana lebih dari 240 orang terbunuh.
Namun, Kilic mengakui bahwa bukti nyata keterlibatan langsung Gulen, yang telah tinggal di pengasingan yang dipaksakan sejak tahun 1999, tetap sulit didapatkan.
"Jika Anda meminta instruksi tertulis oleh Fethullah Gulen kepada anggota Organisasi Teroris Fethullah Gulen di tentara, itu akan menjadi permintaan yang sia-sia," kata Kilic, menambahkan bahwa perencanaan dilakukan dalam kerahasiaan.
Alp Aslandogan, penasihat media Gulen, mengatakan bahwa ulama tersebut tidak memiliki telepon genggam, stafnya selalu mengikuti perjalanannya dan ia tidak bisa menggunakan email. Hal ini menunjukkan bahwa upaya untuk melacak jalur komunikasi yang digunakan oleh Gulen mungkin akan menghasilkan sedikit bukti.
Dia juga mengatakan bahwa dia tidak melihat adanya tanda-tanda pemerintahan Trump menjadikan kasus ekstradisi Gulen sebagai prioritas yang lebih tinggi.
Aslandogan pun lantas menyebut jika kesaksikan dari komplotan pelaku kudeta didapatkan dengan tekanan dan terkadang penyiksaan.
Namun Ankara telah berulang kali membantah tuduhan tersebut. Ankara menyatakanbahwa postur keamanan yang kuat diperlukan dalam menghadapi bahaya yang juga dihadapinya dari militan Kurdi, serta perang di negara tetangga Irak dan Suriah.
Departemen Kehakiman A.S. menolak berkomentar mengenai kasus ini.
(ian)