300 Ulama Austria Kecam Teroris ISIS karena Kontras dengan Islam
Kamis, 15 Juni 2017 - 01:45 WIB
300 Ulama Austria Kecam Teroris ISIS karena Kontras dengan Islam
A
A
A
WINA - Sebanyak 300 ulama Muslim di Austria menghasilkan deklarasi berisi sembilan poin yang mengecam kelompok teroris ISIS. Ratusan ulama itu sepakat, kekejaman yang dilakukan ISIS bertentangan dengan Islam.
Mereka mendesak para tokoh Muslim untuk memainkan peran yang lebih besar di masyarakat. Deklarasi 300 ulama ini muncul beberapa hari setelah pemerintah Austria memperkenalkan aturan larangan busana burka dan kursus wajib integrasi.
Selain mengecam kelompok Islamic State atau ISIS, 300 ulama Austria juga mengecam aksi teroris dan ekstremis di seluruh dunia. Menurut mereka, kekejaman yang dilakukan ISIS dan kelompok teroris lain harus dihukum yang paling parah.
Dari 300 ulama itu, 180 di antaranya berkumpul di Wina untuk upacara penandatanganan deklarasi, sedangkan 120 ulama lainnya mendukung deklarasi itu melalui email.
”Kami menekankan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip konstitusional di Republik Austria, termasuk persamaan semua warga dalam hukum, pluralism dan demokrasi,” bunyi pernyataan bersama para ulama.
”Kebebasan adalah aset yang sangat diperlukan untuk orang-orang dan tugas setiap masyarakat adalah bekerja untuk kebebasan setiap saat dan setiap tempat,” lanjut pernyataan tersebut, seperti dikutip dari situs resmi otoritas agama Austria, religion.orf.at, Kamis (15/6/2017).
Menurut statistik pemerintah, sekitar 22 persen dari 8,7 juta penduduk di negara ini adalah berlatar belakang migran. Jumlah pasti umat Islam lebih sulit dihitung, namun diperkirakan bervariasi antara lima hingga sepuluh persen dari total populasi.
”Setiap pria Muslim dan wanita Muslim harus berperan aktif dalam keamanan dan perdamaian negara dan warganya,” imbuh pernyataan para ulama. Mereka juga meminta umat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai bidang sosial.
Ratusan ulama ini sepakat bahwa deklarasi mereka tidak ada masalah dengan integrasi yang diwajibkan oleh pemerintah Austria. Mereka hanya menyampaikan bahwa Islam telah dibajak kelompok teroris.
”Terorisme tidak dapat dikaitkan dengan agama, etnis atau budaya,” kata para ulama.”Teroris menyalahgunakan agama Islam kami yang damai untuk mencapai tujuan politik mereka.”
Mereka mendesak para tokoh Muslim untuk memainkan peran yang lebih besar di masyarakat. Deklarasi 300 ulama ini muncul beberapa hari setelah pemerintah Austria memperkenalkan aturan larangan busana burka dan kursus wajib integrasi.
Selain mengecam kelompok Islamic State atau ISIS, 300 ulama Austria juga mengecam aksi teroris dan ekstremis di seluruh dunia. Menurut mereka, kekejaman yang dilakukan ISIS dan kelompok teroris lain harus dihukum yang paling parah.
Dari 300 ulama itu, 180 di antaranya berkumpul di Wina untuk upacara penandatanganan deklarasi, sedangkan 120 ulama lainnya mendukung deklarasi itu melalui email.
”Kami menekankan kepatuhan terhadap prinsip-prinsip konstitusional di Republik Austria, termasuk persamaan semua warga dalam hukum, pluralism dan demokrasi,” bunyi pernyataan bersama para ulama.
”Kebebasan adalah aset yang sangat diperlukan untuk orang-orang dan tugas setiap masyarakat adalah bekerja untuk kebebasan setiap saat dan setiap tempat,” lanjut pernyataan tersebut, seperti dikutip dari situs resmi otoritas agama Austria, religion.orf.at, Kamis (15/6/2017).
Menurut statistik pemerintah, sekitar 22 persen dari 8,7 juta penduduk di negara ini adalah berlatar belakang migran. Jumlah pasti umat Islam lebih sulit dihitung, namun diperkirakan bervariasi antara lima hingga sepuluh persen dari total populasi.
”Setiap pria Muslim dan wanita Muslim harus berperan aktif dalam keamanan dan perdamaian negara dan warganya,” imbuh pernyataan para ulama. Mereka juga meminta umat Islam untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai bidang sosial.
Ratusan ulama ini sepakat bahwa deklarasi mereka tidak ada masalah dengan integrasi yang diwajibkan oleh pemerintah Austria. Mereka hanya menyampaikan bahwa Islam telah dibajak kelompok teroris.
”Terorisme tidak dapat dikaitkan dengan agama, etnis atau budaya,” kata para ulama.”Teroris menyalahgunakan agama Islam kami yang damai untuk mencapai tujuan politik mereka.”
(mas)