Jika Capres Ini Menang, Filipina Putus Hubungan dengan AS

Jum'at, 22 April 2016 - 09:50 WIB
Jika Capres Ini Menang,...
Jika Capres Ini Menang, Filipina Putus Hubungan dengan AS
A A A
MANILA - Calon presiden (capres) Filipina, Rodrigo Duterte, menegaskan bahwa bila terpilih sebagai presiden maka Filipina akan memutuskan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat (AS) dan Australia.

Pernyataan berani itu muncul setelah duta besar AS dan Australia mengkritik komentarnya tentang pemerkosaan terhadap misionaris wanita Australia selama kerusuhan di penjara tahun 1989.


Duterte membuat komentar lelucon, di mana korban perkosaan itu terlalu cantik dan dia sebagai walikota saat itu semestinya jadi orang pertama yang memperkosa. Komentar lelucon itu menuai kecaman luas, termasuk dari kedubes AS dan Australia di Manila.

Tapi, Duterte tidak terima pihak asing ikut campur dalam proses Pemilu Filipina.

Jika saya menjadi presiden, melangkah ke depan dan memutuskan itu (hubungan diplomatik), kata capres berusia 71 tahun itu saat berkampanye. Australia dan AS adalah dua sekutu dekat dari Filipina.


Itu bukan lelucon ketika saya menyebut itu (pemerkosaan tahun 1989). Mereka menganggapnya sebagai lelucon ketika saya ceritakan. Duta ini bodoh. Saya marah ketika saya menyebut itu. Ketika saya ceritakan itu, saya tidak marah lagi,” kataDuterte kepada wartawan ketika kampanye di Kalibo, di Provinsi Aklan, seperti dikutip IB Times, Jumat (22/4/2016).

Ini akan dilakukn dengan baik dengan Duta Besar Amerika dan Duta Besar Australia untuk menutup mulut mereka. Anda bukan warga Filipina. Diam. Jangan mengganggu karena saat ini Pemilu,” lanjut dia.

Duterte telah dikecam secara luas atas komentar kasus perkosaan yang menimpa Jacqueline Hamill, seorang misionaris wanita asal Australia. Dia diperkosa dan dibunuh ketika kerusuhan pecah di sebuah penjara di Davao tahun 1989. Duterte kala itu adalah Wali Kota Davao.

Amanda Gorely, Duta Besar Australia untuk Filipina mengatakan di Twitter: ”Perkosaan dan pembunuhan tidak boleh dibuat bercanda atau disepelekan. Kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan tidak dapat diterima kapan saja, di mana saja.

Demikian pula dengn Philip Goldberg, Duta Besar AS untuk Filipina.”Pernyataan oleh siapapun, dimanapun yang merendahkan wanita atau meremehkan masalah sangat serius seperti pemerkosaan atau pembunuhan adalah yang tidak kita maafkan,” katanya.
(mas)
Berita Terkait
Kesepakatan Australia-Filipina...
Kesepakatan Australia-Filipina Bagian dari Upaya AS Mengepung China?
Negara-negara Asia Tenggara...
Negara-negara Asia Tenggara Sekutu Amerika Serikat
Beda dengan Indonesia...
Beda dengan Indonesia dan Malaysia, Filipina Dukung Aliansi AUKUS untuk Lawan China
AS, Filipina, dan Australia...
AS, Filipina, dan Australia Tembak dan Tenggelamkan Kapal Perang Buatan China
Filipina dan AS Mulai...
Filipina dan AS Mulai Latihan Militer Gabungan Terbesar, Kerahkan 18.000 Tentara
Militer Indonesia, Australia,...
Militer Indonesia, Australia, dan Amerika Serikat Latihan Bersama
Berita Terkini
Gerakan Protes Gen Z...
Gerakan Protes Gen Z Guncang Ibu Kota India: Aku Seekor Kecoak!
25 menit yang lalu
Hamas Ungkap Pertemuan...
Hamas Ungkap Pertemuan di Kairo Bahas Penerapan Gencatan Senjata Gaza
1 jam yang lalu
Ilmuwan Bikin Roti dengan...
Ilmuwan Bikin Roti dengan Ragi dari Kulit Mumi Berusia 5.300 Tahun
2 jam yang lalu
AS Pertimbangkan Gunakan...
AS Pertimbangkan Gunakan Aset Iran untuk Biaya Rekonstruksi Negara-negara Teluk
3 jam yang lalu
Israel Bunuh 3 Tentara...
Israel Bunuh 3 Tentara Lebanon, Presiden Aoun Murka
3 jam yang lalu
AS Curigai Zionis, Pentagon...
AS Curigai Zionis, Pentagon Naikkan Tingkat Ancaman Spionase Israel Jadi Kritis
5 jam yang lalu
Infografis
Perbandingan Gaji Tentara...
Perbandingan Gaji Tentara AS dengan Rusia, China, dan Inggris
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved