Jepang Gunakan Isu ISIS untuk UU Militer Baru
Jum'at, 14 Agustus 2015 - 21:08 WIB
Jepang Gunakan Isu ISIS untuk UU Militer Baru
A
A
A
JAKARTA - Pemerintah Jepang bereaksi sangat keras pasca dua warganya di eksekusi ISIS. Negeri Matahari Terbit itu saat ini sedang merancang undang-undang militer baru yang memungkinkan pengiriman tentara Jepang ke luar negeri.
"Pemerintah Jepang dan partai politik yang berkuasa saat ini menggunakan isu ini untuk menguatkan kembali militer, agar bisa dikirim ke luar Jepang," ungkap peneliti asal Jepang, Mitsuo Nakamura, dalam diskusi Prospek Hubungan Jepang dengan Umat Islam Masa Kini yang diadakan oleh Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), Jumat (14/8/2015).
"Pihak pemerintah ingin menggunakan Islamofobia sebagai dalilnya. Karena ini ada ancaman dari dunia Islam dalam bentuk ISIS yang cukup besar, sampai membunuh orang. Jadi diperlukan militer yang lebih kuat," tambahnya.
Tidak hanya itu, Jepang juga menyatakan siap bekerjasama dengan Amerika Serikat untuk menghadapi ISIS. Terang saja hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan warga Jepang. Nakamura menilai, kebijakan ini diambil oleh pemerintah Jepang untuk mengisi kekosongan militer yang AS di Asia Pasifik. "Bisa dikatakan, Jepang ingin menjadi mitra AS yang lebih kuat," ucapnya.
Meski menyangkal jika bergabungnya dua kekuatan itu bukan untuk memerangi umat Islam, namun bukan tidak mungkin dikemudian hari akan ada singgungan yang dapat berujung pada pertumpahan darah.
"Karenanya, yang diperlukan adalah upaya-upaya dialog karena ISIS tidak bisa dihadapi dengan militer," pungkasnya.
"Pemerintah Jepang dan partai politik yang berkuasa saat ini menggunakan isu ini untuk menguatkan kembali militer, agar bisa dikirim ke luar Jepang," ungkap peneliti asal Jepang, Mitsuo Nakamura, dalam diskusi Prospek Hubungan Jepang dengan Umat Islam Masa Kini yang diadakan oleh Centre for Dialogue and Cooperation among Civilisations (CDCC), Jumat (14/8/2015).
"Pihak pemerintah ingin menggunakan Islamofobia sebagai dalilnya. Karena ini ada ancaman dari dunia Islam dalam bentuk ISIS yang cukup besar, sampai membunuh orang. Jadi diperlukan militer yang lebih kuat," tambahnya.
Tidak hanya itu, Jepang juga menyatakan siap bekerjasama dengan Amerika Serikat untuk menghadapi ISIS. Terang saja hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan warga Jepang. Nakamura menilai, kebijakan ini diambil oleh pemerintah Jepang untuk mengisi kekosongan militer yang AS di Asia Pasifik. "Bisa dikatakan, Jepang ingin menjadi mitra AS yang lebih kuat," ucapnya.
Meski menyangkal jika bergabungnya dua kekuatan itu bukan untuk memerangi umat Islam, namun bukan tidak mungkin dikemudian hari akan ada singgungan yang dapat berujung pada pertumpahan darah.
"Karenanya, yang diperlukan adalah upaya-upaya dialog karena ISIS tidak bisa dihadapi dengan militer," pungkasnya.
(esn)