Media Rusia Ledek Sistem Rudal Patriot AS Hendak Dikirim ke Ukraina: Pernah Kebobolan di Saudi
Kamis, 15 Desember 2022 - 15:12 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi pengiriman sistem senjata semacam itu ke Ukraina, terutama jika hanya satu baterai, mungkin memiliki nilai yang dipertanyakan bagi Kiev. Sputnik kemudian merinci rentetan insiden kebobolan dari sistem rudal Patriot. Berikut rinciannya.
1. Kebobolan di Arab Saudi
Terlepas dari penyebarannya yang luas (Angkatan Darat AS sendiri memiliki lebih dari 1.100 peluncur dalam persediaannya) dan biayanya (USD1 juta hingga USD6 juta per rudal, dan USD1 miliar untuk baterai PAC-2 yang terdiri dari delapan peluncur) sejarah operasional Patriot belum benar-benar membuktikannya sebagai pembelian yang luar biasa.
Selama Perang Teluk pada Februari 1991, sebuah misil pencegat yang ditembakkan sistem Patriot gagal melacak dan mencegat rudal Scud Irak yang menargetkan pangkalan Amerika di Arab Saudi. Saat itu, rudal Scud menghantam barak dan membunuh 28 prajurit Garda Nasional Pennsylvania dan melukai 100 lainnya.
Raytheon dan Pentagon menolak kegagalan tersebut dengan menyalahkan kerusakan pada perangkat lunak, dan tetap mengklasifikasikan sistem itu sebagai senjata "ajaib" yang telah terbukti keefektifannya.
Namun, laporan Oktober 1992 kepada Komite Alokasi Pemerintah Dewan Perwakilan Rakyat mengungkapkan bahwa dengan menggunakan metodologi Angkatan Darat sendiri, Patriot terbukti hanya mencapai 9 persen dari hulu ledak Scud yang terlibat.
"Dengan kecepatan Scud, batasan dari sistem rudal Patriot, dan kebingungan serta kesulitan penargetan yang disebabkan oleh pecahnya rudal Scud saat memasuki kembali atmosfer berkontribusi pada tingkat kegagalan yang tinggi," bunyi laporan tersebut.
2. Lagi, Kebobolan di Arab Saudi
Arab Saudi adalah operator utama sistem rudal Patriot, menerjunkan lusinan sistem dan ratusan rudal PAC-3 dan terus meminta lebih banyak.
Namun, terlepas dari persenjataan yang luas ini (dilengkapi dengan sistem Raytheon Improved Hawk dan Lockheed Martin THAAD ABM dalam inventaris kerajaan), Riyadh telah menghadapi serangan rudal dan pesawat tak berawak berulang kali dari kelompok Houthi Yaman di mana peralatan pertahanan udara Amerika yang sebagian besar dibeli oleh Arab Saudi tampaknya tidak berdaya untuk menghentikan serangan kelompok Houthi.
Pada tahun 2019, misalnya, Houthi melumpuhkan sementara sekitar setengah dari produksi minyak Arab Saudi dalam serangan gerombolan drone dan rudal jarak jauh ke jantung penghasil minyaknya, di mana sistem pertahanan Patriot tidak bereaksi.
Setahun sebelumnya, serangan Houthi di Riyadh menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya, di mana sistem Patriot yang dikerahkan untuk menjaga dari serangan musuh ternyata gagal mencegat proyektil yang masuk meskipun meluncurkan setidaknya lima misil pencegat.
Pada bulan Maret tahun ini, depot minyak besar di Jeddah milik Saudi Aramco dilanda serangan kelompok Houthi lagi, di mana kinerja sistem Patriot lagi-lagi dipertanyakan.
1. Kebobolan di Arab Saudi
Terlepas dari penyebarannya yang luas (Angkatan Darat AS sendiri memiliki lebih dari 1.100 peluncur dalam persediaannya) dan biayanya (USD1 juta hingga USD6 juta per rudal, dan USD1 miliar untuk baterai PAC-2 yang terdiri dari delapan peluncur) sejarah operasional Patriot belum benar-benar membuktikannya sebagai pembelian yang luar biasa.
Selama Perang Teluk pada Februari 1991, sebuah misil pencegat yang ditembakkan sistem Patriot gagal melacak dan mencegat rudal Scud Irak yang menargetkan pangkalan Amerika di Arab Saudi. Saat itu, rudal Scud menghantam barak dan membunuh 28 prajurit Garda Nasional Pennsylvania dan melukai 100 lainnya.
Raytheon dan Pentagon menolak kegagalan tersebut dengan menyalahkan kerusakan pada perangkat lunak, dan tetap mengklasifikasikan sistem itu sebagai senjata "ajaib" yang telah terbukti keefektifannya.
Namun, laporan Oktober 1992 kepada Komite Alokasi Pemerintah Dewan Perwakilan Rakyat mengungkapkan bahwa dengan menggunakan metodologi Angkatan Darat sendiri, Patriot terbukti hanya mencapai 9 persen dari hulu ledak Scud yang terlibat.
"Dengan kecepatan Scud, batasan dari sistem rudal Patriot, dan kebingungan serta kesulitan penargetan yang disebabkan oleh pecahnya rudal Scud saat memasuki kembali atmosfer berkontribusi pada tingkat kegagalan yang tinggi," bunyi laporan tersebut.
2. Lagi, Kebobolan di Arab Saudi
Arab Saudi adalah operator utama sistem rudal Patriot, menerjunkan lusinan sistem dan ratusan rudal PAC-3 dan terus meminta lebih banyak.
Namun, terlepas dari persenjataan yang luas ini (dilengkapi dengan sistem Raytheon Improved Hawk dan Lockheed Martin THAAD ABM dalam inventaris kerajaan), Riyadh telah menghadapi serangan rudal dan pesawat tak berawak berulang kali dari kelompok Houthi Yaman di mana peralatan pertahanan udara Amerika yang sebagian besar dibeli oleh Arab Saudi tampaknya tidak berdaya untuk menghentikan serangan kelompok Houthi.
Pada tahun 2019, misalnya, Houthi melumpuhkan sementara sekitar setengah dari produksi minyak Arab Saudi dalam serangan gerombolan drone dan rudal jarak jauh ke jantung penghasil minyaknya, di mana sistem pertahanan Patriot tidak bereaksi.
Setahun sebelumnya, serangan Houthi di Riyadh menewaskan satu orang dan melukai dua lainnya, di mana sistem Patriot yang dikerahkan untuk menjaga dari serangan musuh ternyata gagal mencegat proyektil yang masuk meskipun meluncurkan setidaknya lima misil pencegat.
Pada bulan Maret tahun ini, depot minyak besar di Jeddah milik Saudi Aramco dilanda serangan kelompok Houthi lagi, di mana kinerja sistem Patriot lagi-lagi dipertanyakan.
Lihat Juga :