alexametrics

Brasil Izinkan Tes Calon Vaksin Covid-19 Buatan China

loading...
Brasil Izinkan Tes Calon Vaksin Covid-19 Buatan China
Ilustrasi vaksin Covid-19. Foto/REUTERS
A+ A-
SAO PAULO - Regulator kesehatan Brasil, Anvisa, mengizinkan tes klinik calon vaksin Covid-19 yang dikembangkan perusahaan China, Sinovac.

Penelitian calon vaksin itu dipimpin oleh Instituto Butantan, pusat riset yang didanai negara bagian Sao Paulo, Brasil. Kesepakatan dengan Sinovac itu tidak hanya tes tapi juga transfer teknologi untuk membuat calon vaksin secara lokal.

Pada 29 Juni, Gubernur Sao Paulo Joao Doria menyatakan 9.000 relawan telah mendaftar untuk tes vaksin Covid-19. “Tes akan dilakukan oleh 12 pusat riset di enam negara bagian Brasil yakni Sao Paulo, Rio de Janeiro, Minas Gerais, Brasilia, Rio Grande do Sul dan Parana,” papar Doria.

Persetujuan Anvisa itu muncul setelah Brasil mencatat 1,5 juta kasus Covid-19, sesuai data Kementerian Kesehatan. Jumlah itu terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat (AS).



Jumlah kematian meningkat 1.290 dalam 24 jam terakhir sehingga total korban meninggal sebanyak 63.174 orang.

Di Rio de Janeiro, kerumunan orang berkumpul di pinggir jalan dekat pantai untuk minum-minum pada Kamis (2/7) malam. Ini merupakan bar malam pertama yang diizinkan kembali buka.



Gambar di Leblon menunjukkan hanya sedikit orang yang memakai masker dan para pengunjung saling berdekatan. Situasi itu pun memicu kecaman dan kekhawatiran.

“Ini tragedi,” kata David Miranda, anggota kongres federal untuk Rio, dalam tulisan di atas gambar kerumunan orang di pinggira jalan. Dia mengkritik walikota Marcelo Crivella. (Lihat Infografis: 8 Jalur Perdagangan Kuno Peradaban Manusia)

“Keputusan Crivella untuk membuka pintu bisnis akan dibayar dengan mahal,” ujar dia. (Lihat Video: Wisuda Drive Thru, Wisudawan Gunakan Andong Hingga Mobil Listrik)
(sya)
Ikuti Kuis Berhadiah Puluhan Juta Rupiah di SINDOnews
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak