Diburu FBI di Rumah Donald Trump, Dokumen Senjata Nuklir untuk Arab Saudi?

Sabtu, 13 Agustus 2022 - 15:44 WIB
loading...
Diburu FBI di Rumah Donald Trump, Dokumen Senjata Nuklir untuk Arab Saudi?
Donald Trump, saat menjabat sebagai presiden AS, bertemu dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Gedung Putih. FBI kini sedang mencari dokumen terkait senjata nuklir di kediaman Donald Trump. Foto/REUTERS/Jonathan Ernst
A A A
WASHINGTON - Penyelidikan terhadap interaksi mantan presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dengan Arab Saudi telah muncul kembali. Itu menyusul laporan bahwa agen-agen FBI yang menggerebek kediaman Trump di Florida sedang mencari dokumen rahasia yang berkaitan dengan senjata nuklir.

Mengutip pakar anonim dalam informasi rahasia, The Washington Post melaporkan pencarian itu menunjukkan kekhawatiran di antara pejabat pemerintah AS tentang jenis informasi apa yang dapat ditemukan di rumah Mar-a-Lago dan apakah itu bisa jatuh ke tangan yang salah.

Jaksa Agung Merrick Garland mengatakan dia menyetujui keputusan untukpenerbitan surat perintah penggeledahan di rumah Donald Trump. Departemen Kehakiman telah mengajukan mosi untuk mengumumkan surat perintah tersebut, yang kemungkinan akan terjadi pada Jumat sore waktu Washington.

Baca juga: Terungkap, FBI Cari Dokumen Senjata Nuklir saat Gerebek Rumah Donald Trump

Sementara The Washington Post mengatakan sumber-sumber tersebut tidak memberikan perincian lebih lanjut mengenai apakah dokumen-dokumen itu ditemukan, apa informasinya dan negara mana yang terkait, penggerebekan FBI memusatkan pikiran pada penyelidikan yang dirilis pada Februari 2019.

Laporan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika tahun 2019 menyoroti keprihatinan whistleblowerdi mana ada upaya pemerintahan Trump untuk mentransfer teknologi nuklir sensitif ke ArabSaudi, dan itu di-tweet pada hari Kamis oleh Judd Legum, yang menjalankan buletin Popular Information.

"Kami tidak tahu mengapa Trump mengambil dokumen nuklir rahasia," kata Legum dalam tweet lanjutan.

"Tetapi informasi nuklir tertentu akan memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi bagi Arab Saudi dan pemerintah lainnya," ujarnya, seperti dikutip dari Newsweek, Sabtu (13/8/2022).

Profesor hukum Universitas Fordham Jed Shugerman men-tweet: "Mengapa Trump ingin menyimpan dokumen nuklir? Sudah waktunya untuk meninjau tuduhan menakjubkan Komite Pengawasan DPR 2019 tentang korupsi nuklir antara pemerintahan Trump dan Saudi/Qatar."

Laporan komite itu membuat sejumlah tuduhan terhadap pemerintahan Trump, termasuk bahwa dia mencoba untuk mempercepat transfer teknologi nuklir AS yang sangat sensitif ke Arab Saudi. Ini tanpa tinjauan Kongres dan berpotensi melanggar Undang-Undang Energi Atom yang membatasi ekspor teknologi nuklir AS.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2022 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1462 seconds (11.210#12.26)